ログインLampu neon di ruang kerja darurat kediaman Menteng berderit pelan, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyian dini hari. Maya duduk mematung di depan layar monitor, matanya terpaku pada baris kode yang baru saja ia pecahkan dari server ruko Tangerang. Di sampingnya, segelas kopi yang sudah dingin tak tersentuh. Arlan masuk membawa dua helai selimut, wajahnya tampak lelah setelah berjam-jam berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengamankan Gunawan. "Maya, istirahatlah. Gunawan sudah di sel, Ibu sudah dalam pengawalan ketat di desa. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemaskan malam ini." Maya tidak menoleh. Jemarinya menunjuk ke sebuah folder tersembunyi yang diberi nama sandi *'Project Glass'*. "Ada satu hal yang terlewat, Arlan. Gunawan memang yang menarik pelatuk ancaman itu, tapi dia tidak bekerja sendiri di sisi administratif. Dia butuh seseorang yang tahu persis jadwal auditku, lokasi ibuku, dan bahkan detail terkecil tentang akun bank pribadiku
Hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan tabir air yang mengaburkan pandangan. Di sebuah ruko tua yang terletak di sudut terpencil kawasan industri Tangerang, sebuah lampu neon yang rusak berkedip-kedip, menerangi papan nama kusam bertuliskan *PT Sentosa Logistik Utama*. Ini adalah salah satu dari lima vendor fiktif yang ditemukan Maya dalam auditnya—perusahaan yang secara administratif menyerap miliaran rupiah dari Dirgantara Group, namun secara fisik hanya berupa bangunan kosong yang dikelilingi ilalang. Arlan mematikan mesin SUV hitamnya sekitar lima puluh meter dari lokasi. Di dalam kabin yang gelap, cahaya dari tablet Maya menyinari wajah mereka yang tegang. Di kursi belakang, dua pria tegap dari tim keamanan profesional yang disewa Arlan memeriksa peralatan komunikasi mereka. "Berdasarkan pelacakan GPS dari ponsel Pak Lukman sebelum disita, dia melakukan panggilan terakhir ke menara seluler di area ini," bisik Maya. "Dan menurut data penggunaan
Gedung Dirgantara Group yang menjulang tinggi di kawasan Sudirman biasanya tampak seperti benteng kekuasaan yang tak tergoyahkan. Namun pagi itu, suasananya lebih mirip dengan sarang lebah yang baru saja disodok dengan galah besi. Kabar tentang kembalinya Arlan Dirgantara sebagai pimpinan tim restrukturisasi khusus telah menyebar ke setiap lantai, dari lobi hingga ruang dewan direksi yang eksklusif.Arlan melangkah masuk melalui pintu kaca utama dengan langkah yang tidak lagi ragu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, namun ia sengaja tidak mengenakan dasi—sebuah pernyataan simbolis bahwa ia bukan lagi "anak manis" perusahaan yang patuh pada tradisi kolot. Di sampingnya, Maya berjalan dengan tas kerja berisi dokumen-dokumen yang bisa meledakkan karier siapa pun di gedung itu."Siap, Maya?" tanya Arlan pelan saat mereka berada di dalam lift eksekutif."Aku lahir untuk hari seperti ini, Arlan," jawab Maya dengan senyum tipis yang mematikan. "Ingat, mereka akan men
Suasana di Bandar Udara Internasional Changi pagi itu sangat kontras dengan ketenangan yang Maya rasakan di Kalimantan. Suara pengumuman penerbangan dalam berbagai bahasa, deru koper yang ditarik di atas lantai marmer, dan aroma kopi mahal yang tajam menyambut kepulangannya dari masa cuti singkat sekaligus tugas audit lapangannya. Maya berdiri di depan dinding kaca besar, menatap pesawat-pesawat yang lepas landas menuju cakrawala biru. Di sampingnya, Arlan berdiri dengan kemeja yang lebih rapi, meski bekas terbakar matahari di wajahnya masih sangat kentara."Kamu yakin ingin melakukan ini sekarang?" tanya Arlan, suaranya rendah namun penuh kekhawatiran. "Begitu kita mendarat di Jakarta, semua kamera dan mata-mata ayahku akan langsung tertuju padamu. Kamu tidak lagi berada di bawah perlindungan hukum firma Singapura jika kita keluar dari zona aman ini."Maya membetulkan letak kacamatanya, menatap pantulan dirinya di kaca. "Kita tidak bisa selamanya bersembunyi di balik h
Matahari Kalimantan tidak pernah mengenal kata kompromi. Panasnya terasa seperti menempel di kulit, membawa uap lembap dari rawa-rawa yang mengelilingi lokasi proyek jembatan Sungai Mahakam Hulu. Maya berdiri di tepi dermaga darurat, memperhatikan bagaimana Arlan—pria yang dulunya hanya ia kenal lewat profil Facebook yang rapi—kini sedang berteriak memberikan instruksi kepada operator mesin pancang. Arlan tidak lagi menggunakan parfum mahal; tubuhnya kini berbau matahari, solar, dan keringat.Maya menyesuaikan posisi topi rimba yang dipinjamnya dari salah satu staf teknis. Ia datang ke sini sebagai auditor independen untuk memastikan dana hibah internasional bagi jembatan ini digunakan secara tepat sasaran. Namun, secara pribadi, kehadirannya adalah sebuah audit eksistensial bagi hatinya sendiri. Ia butuh melihat dengan mata kepala sendiri apakah Arlan benar-benar telah berubah, atau apakah ini hanyalah panggung sandiwara baru yang lebih canggih."Mbak Maya, minum dulu,
Tiga bulan telah berlalu sejak ledakan di ruang rapat PT Mahakarya. Jakarta, dengan segala kemacetan dan intrik korporasinya, kini hanyalah memori yang tersimpan dalam kotak-kotak karton di gudang rumah ibunya. Maya telah memilih untuk memulai lembaran baru di Singapura, bekerja sebagai konsultan investigasi forensik keuangan di sebuah firma hukum internasional yang bergengsi di kawasan Raffles Place.Di sini, tidak ada yang mengenalnya sebagai "wanita dari Facebook" atau "calon menantu Dirgantara". Ia hanyalah Maya, seorang profesional yang dikenal karena ketajaman matanya dalam mendeteksi aliran dana gelap. Kehidupan di Singapura yang serba cepat dan teratur memberinya pelarian yang ia butuhkan. Namun, kesibukan tidak pernah benar-benar bisa membungkam sunyi yang tertinggal di hatinya.Suatu sore, saat hujan tropis mengguyur Marina Bay dengan deras, sebuah paket berukuran sedang tiba di meja kerjanya. Tanpa nama pengirim, hanya tertera alamat kantor lamanya di Jakarta







