"Loh, motormu ke mana, May?" tanya Aluna saat melihat Maya masih berada di halte sekitar dekat dengan butiknya."Hm... anu, Mba... itu dipinjam sama pacarku," sahut Maya dengan ekspresi malu-malu.Aluna tersenyum. "Ayo, masuk. Biar aku antarkan pulang," tawar Aluna."Ah, tidak perlu, Mbak. Saya bisa naik taksi atau kendaraan umum lainnya," tolak Maya."Sstt... rezeki itu tidak boleh ditolak. Tidak perlu sungkan. Lagi pula aku juga searah dengan arah rumahmu, bukan?" jelas Aluna."Tapi, Mbak....""Aku tidak butuh penolakan, May. Kau lihat, kan." Aluna menatap ke atas. "Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan," lanjutnya.Mau tidak mau, akhirnya Maya bersedia diantar oleh Aluna. Sebenarnya Maya merasa tidak enak hati pada pegawai lainya, karena Aluna terlalu baik pada dirinya. Takut jika pegawai lainnya iri dan menganggap hal itu sebagai pilih kasih."May, kok malah bengong?" Aluna memperhatikan Maya. "Ayo, masuk," lanjut Aluna sambil menggerakkan kepalanya sebagai kode. Maya buru-bu
더 보기