แชร์

Bab 52. Akhirnya Luluh

ผู้เขียน: Zara Kisaka
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-08 20:56:49

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan kaus yang lebih bersih, Vio duduk di tepi ranjangnya. Kepala wanita itu masih terasa agak pening, tetapi rasa tidak tenang di dadanya jauh lebih mendominasi. Di atas meja belajar, ponselnya yang sejak tadi bergetar tanpa henti kembali menyala, menampilkan nama Gisella di layarnya.

​Vio menatap layar gawai itu dengan pandangan ragu. Ucapan Kael serta foto-foto semalam masih terbayang jelas di benaknya. Vio membiarkan panggilan pertama itu mati begitu saj
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 77. Mati Rasa

    Mansion Klan Naga, Bogor - Pukul 21.00 WIB Kael masih berada di posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Di dalam ruang kerjanya yang remang-remang, dokumen-dokumen penting klan naga hitam terabaikan begitu saja di atas meja. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada layar tablet yang menampilkan siaran langsung dari dalam kamar Vio di Jakarta. Alis Kael seketika bertaut erat saat melihat pintu kamar di layar itu terbuka. Vio melangkah masuk. Namun, penampilannya malam ini membuat Kael refleks menegakkan punggungnya dengan tegang. Vio terlihat sangat lesu. Langkah kakinya gontai, dan bahunya tampak merosot ke bawah seperti menahan beban fisik yang teramat berat. Tanpa ekspresi, wanita itu mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kael menunggu dengan cemas yang mulai menggerogoti dadanya. Dua puluh menit kemudian, Vio kembali keluar setelah membersihkan diri. Jantung Kael serasa berhenti berdetak saat kamera tersembunyi ber-resolusi tinggi miliknya menangkap detail tubu

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 76. Jangan Terlalu Keras

    Hari ketiga setelah perginya Kael menjadi titik balik bagi Vio. Kamar bernuansa pastel yang dulunya selalu dipenuhi tawa kini berubah menjadi ruang yang terasa kosong dan sunyi. Lukanya memang belum sembuh, rasa sakit akibat surat perpisahan Kael masih berdenyut nyeri di ulu hatinya setiap kali dia bernapas. Vio sadar, dia tidak akan pernah bisa melupakan pria itu.Namun, tepat di hari ketiga ini, Vio menolak untuk terus berlarut dalam luka yang menyiksa ini. Dia berdiri di depan cermin, menatap matanya sendiri yang sembab, tetapi mulai memancarkan binar tekad yang dingin. Hidup harus terus berjalan. Jika takdir menuntutnya untuk berpisah dari Kael karena alasan status dan keluarga kandung, maka Vio bersumpah tidak akan membiarkan dirinya menjadi pihak yang tertinggal.Pagi itu, Vio memecah keheningan meja makan dengan penampilan yang mengejutkan kedua orang tuanya. Dia tidak lagi mengenakan piyama kusut, melainkan kemeja formal yang rapi.“Ayah,” panggil Vio tegas, menatap langsung

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 75. Singkirkan Tanganmu

    Aula utama mansion itu masih menyisakan aroma alkohol mahal setelah perhelatan besar pelantikan Kael semalam. Kini, Kael duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang kini menjadi pusat kendali klan naga hitam. Di depan mejanya, berbagai laporan keuangan dan daftar musuh berjejer, menuntut perhatiannya sebagai pemimpin baru. Namun, fokus Kael sama sekali tidak di sana. Di samping tumpukan dokumen itu, dia meletakkan sebuah tablet khusus yang tersambung langsung ke jaringan kamera rahasia di kediaman orang tua Vio. Kael melihat Vio di layar. Gadis itu tertidur dengan napas yang tidak teratur, tangannya masih mencengkram kain seprai seolah sedang menarik pegangan di tengah badai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan, dan gurat kesedihan itu tampak begitu nyata meski dalam kondisi terlelap. Kael memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga nyeri. “Maafkan aku, Vio. Hanya ini satu-satunya cara,” gumam Kael. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Cl

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 74. Kamu Bilang Merindukanku

    Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 73. Kael dan Wanita Licik Itu

    Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 72. Apa Isi Surat Itu?

    Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 43. Vio Semakin Berani

    ​Ketegangan malam itu di ruang tengah kediaman Mahendra menyisakan jarak yang semakin lebar di antara Kael dan Vio. Hingga keesokan harinya, atmosfer dingin di rumah terbawa hingga ke koridor kantor. Namun, bagi Vio, kehadiran Gisel perlahan menjadi benteng pertahanan terbaiknya untuk menghindar da

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 41. Ada yang Berubah

    Senin pagi hari suasana kantor dimulai dengan atmosfer yang sangat mencekam. Sejak jam delapan pagi, Kael sudah mengurung diri di dalam ruang rapat utama bersama jajaran direksi untuk membahas kelanjutan proyek ekspansi yang sempat tertunda. ​Bagi Vio, itu adalah berkah tersendiri. Setidaknya, se

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 39. Permainan di Perpustakaan

    Siang harinya, suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Papa memutuskan untuk pergi ke klub golf bersama beberapa rekan bisnis lamanya. Mama pun memilih untuk masuk ke dalam kamar setrikanya yang terletak di bagian kanan rumah, sibuk memilah-milah koleksi kain batik tulisnya bersama salah

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 35. Pengakuan di Pesta

    Hari-hari menjelang pesta makan malam keluarga Mahendra terasa seperti siksaan berjalan bagi Vio. Di kantor, fokusnya buyar berulang kali. Setiap kali mengingat tatapan mata Kael di meja makan pagi itu, dimana tatapan itu dingin dan menyimpan rencana besar, jantung Vio berdegup dalam ritme yang tid

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status