Silas tidak menjawab. Pria itu hanya berjalan berdampingan dengan Marcus. Iris kembali diabaikan, tapi kali ini, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keduanya. Mereka keluar dari ruangan dan kembali berjalan menyusuri lorong bangunan permanen itu. Hawa dingin dan segar yang beberapa menit lalu dirasakannya, langsung menguap. Iris bisa melihat semua orang masih bekerja. Tidak ada lagi yang menatap ke arahnya atau mencuri pandang. Walau begitu, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka–terutama Silas–langsung menunduk, memberi hormat. Kebiasaan itu sedikit asing bagi Iris. Dia memang pernah melihat Silas di pesta dan menyaksikan sendiri bagaimana pria itu menarik setiap pasang mata, seakan dialah pusat alam semesta. Semua orang segan, tapi di sini, semuanya terasa sedikit berbeda. Lebih kaku, serius dan formal. Orang-orang itu .... Mereka seperti robot yang bergerak dalam mode autopilot. Suara mekanik yang konstan dan suara conveyor belt peti, menjadi pengiring setiap
Read more