MasukBeberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu
'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b
Di ruang makan. Meja makan malam kali ini terasa canggung dan berbeda. Iris merasa setiap gerakannya seakan diawasi. Dia hanya bisa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan melirik diam-diam Sebastian, Silas dan Elliot. Suara dentingan sendok memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, tapi Iris bisa merasakan ketegangan yang terlalu nyata. Dia mengunyah makanannya dengan lambat. Sampai suara Sebastian memecah kecanggungan. "Jadi kakimu patah setelah mencoba menyelamatkan diri?" Gerakan tangan Iris yang hendak menyuapkan makanan, seketika tertahan di udara. Dia melirik Sebastian yang menatapnya. Mulutnya yang terbuka, siap menerima makanan, seketika berhenti dan meletakkan sendok kembali. Dia dengan ragu mengangguk pelan sambil melirik Elliot dan Silas yang fokus makan tanpa menoleh, "Ya, dokter bilang... ini tidak permanen." "Kau ceroboh." Sebastian mengunci tatapannya. Membuat Iris merasakan kegelisahan di tempat duduknya. Dia ingin menjawab kalau dia hanya tida
Sebuah mobil silver berhenti di pelataran manor. Sebastian keluar dan segera disambut oleh dua penjaga. Matanya menatap keduanya, sebelum beralih pada pintu manor yang tertutup. Hari sudah malam ketika dia tiba di sana. "Silas di dalam?" "Ya, Tuan besar. Apa Anda ingin bertemu? Kami akan memberitahu—" "Tidak, aku akan menemuinya sendiri." Tanpa menunggu respons keduanya, Sebastian segera berjalan dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dia sudah terlalu lama menunggu ini. Sebastian berharap Silas benar-benar ada di dalam. Karena dia tidak mungkin mencari anaknya di setiap rumah yang tersebar di seluruh Valenor. Beberapa pelayan yang datang menyapa dan memberi hormat, diabaikannya. Sebastian terus melangkah, sampai di ruang tengah dia menemukan keberadaan seseorang yang tak asing. Langkahnya melambat. Matanya menyipit ketika melihat punggung seorang wanita yang duduk di kursi roda. Menghadap ke arah televisi yang menampilkan sebuah berita. Berita yang masih memba
"Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan
"Kau harus menjelaskan semuanya."Iris tidak berhenti bicara. Dia menuntut jawaban dari Silas atas berita yang baru didengarnya. Meski sepanjang perjalanan, pria itu memilih bungkam. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di manor, Silas masih tetap tidak bicara. Iris harus menahan gelisah saat dirinya digendong dan dipindahkan oleh pria itu. "Silas!""Penjelasan apa? Kau sudah mendengar semuanya," jawab Silas sambil mendorong kursi roda Iris untuk masuk. Suasana di manor tampak hening dan sepi. Tidak ada pelayan yang menyambut, tapi langkah Silas tidak berhenti. Sampai akhirnya mereka tiba di kamar Iris. "Aku tahu, tapi bukan itu maksudku."Iris berusaha memutar kursi rodanya untuk menghadap pria itu. Matanya menatap dengan rasa gelisah yang tidak bisa lenyap. "Kau baru saja menantang mereka. Kau membuat masalah. Bagaimana kalau mereka semakin berniat menargetkanku? Kau membuatku dalam bahaya!""Mereka tidak akan bisa menyentuhmu sekarang."Iris mendengkus kasar dan
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di







