ログインIris membolak-balikan kertas itu. Mencoba memahami setiap katanya, tapi dia tidak bisa mengerti. Berkas itu penuh simbol dan huruf yang digabung secara aneh. Semakin keras dia mencoba membacanya, semakin tegang pelipisnya. Tidak ada satu lembar pun yang dapat dia pahami. Rahangnya mengetat. Tangannya meremas kesal berkas tersebut. “Sial! Apa takdir benar-benar tidak berpihak padaku?!”Iris mendengkur kesal dan menutup berkas itu kasar. Dadanya naik turun. Menahan rasa jengkel dalam dadanya. Iris nyaris tidak bisa membedakan. Apakah ini karena dia terlalu bodoh atau lawannya yang terlalu cerdas? Dia bisa saja memindai bahasa apa itu, lalu mengartikannya, tapi dia bahkan tidak tahu bahasanya. Terlalu asing dan aneh. Sampai dia sendiri tidak yakin apakah akan ada yang tahu jenis bahasa tersebut. Apesnya lagi, Iris yang tidak mendapat jawaban dari rasa penasarannya, dengan terpaksa harus tetap mengantarkan berkas itu pada Dominic. “Tidak apa-apa. Selama bukan Silas, semua akan baik-
Silas akhirnya pergi untuk suatu urusan dan tidak membawanya. Iris ditinggal di rumah besar itu bersama Berta dan para pelayan asing. Pakaiannya telah berganti dan perutnya telah diisi. Tidak ada yang dilakukannya selain berjalan-jalan di sekitar rumah. Setiap pasang mata menatap diam-diam. Dulu dia mungkin risi, tapi perlahan mulai sedikit terbiasa. Dia tahu orang-orang hanya penasaran dengan wanita yang dibawa Silas, bukan dengan siapa dia secara utuh. “Rasanya sangat berbeda dari manor,” ucap Iris saat dia melangkah keluar rumah. Berdiri di teras. Berta mengikutinya dari belakang. “Benar, di sini lebih panas, Nona. Matahari sangat menyengat.”Pandangan Iris terangkat. Tertuju pada lautan yang tak jauh darinya atau bagaimana cahaya matahari yang menyorot sejajar ke tanah. Cuaca cerah, terlalu cerah sampai dia juga ikut merasa gerah. Kontras dengan manor yang sekelilingnya hutan dan memberikan udara yang lebih sejuk. “Tapi sepertinya, tempat ini tidak berbahaya.”“Maksud Anda?”
Iris terperanjat. Tubuhnya tiba-tiba terdorong ke depan saat pintu yang digenggamnya dibuka lebar. Dia yang tidak siap pun jatuh ke lantai, tepat di depan sang pemilik kamar. "Akhh ...." Bibirnya meringis. Tidak terlalu sakit, tapi cukup membuatnya ngilu. "Apa kau tidak bisa tidak mengejutkanku?"Iris dengan susah payah memegang sebuah meja di sampingnya untuk bangkit. Berdiri sambil merapikan pakaiannya. Matanya kemudian mendongkak, menatap Silas yang berdiri di depannya."Aku yang harusnya terkejut melihat tamu tak diundang masuk."Pipi Iris memerah. Matanya melebar. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari kontak mata langsung dengan Silas. Kakinya melangkah mundur. "Aku tidak tahu kalau kamarku dan kamarmu terhubung," ucapnya membela diri. Iris memang tidak berniat untuk mengunjungi Silas. Dia hanya tidak sengaja. Namun, detik berikutnya dia langsung menyadari sesuatu. "Tunggu—"Matanya kembali terfokus pada Silas. Kali ini tatapannya menyelidik. "Kau tah
Mobil yang ditumpangi Iris berhenti, tepat di sebuah jalan beralaskan batu alam berwarna abu-abu muda yang membentang dari halaman depan hingga teras. Permukaannya kasar dengan guratan alami yang membuatnya tampak mewah tanpa kesan mencolok.Dua orang pria berseragam hitam mendekati mobil dan membuka pintu dari kedua sisi. Iris keluar bersama Silas dan yang lain.Matanya secara acak mengamati sekeliling sebelum akhirnya terperangah menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Sebuah rumah besar memanjang dengan warna ivory dan taman kecil di sekitarnya. Tepat sejajar dengan posisinya berdiri, Iris juga melihat sebuah kolam renang kecil yang langsung menghadap ke arah laut. Suara ombak dan aroma laut yang sebelumnya dia hirup, kini tampak sangat nyata dan pekat. Iris nyaris tidak bisa menutup mulutnya saat menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Dia benar-benar melihat lautan tanpa ujung yang hampir mengelilingi semua tempat tersebut. Sampai dia melupakan beberapa hal. "Selamat datan
Kamar tidur Iris tampak tenang dan sunyi. Cahaya matahari yang sudah tinggi menyinari langsung tubuh Iris, tetapi tetap gagal membangunkannya dari tidur lelap.Bahkan Iris tidak menyadari kehadiran Berta yang saat ini sedang sibuk mengemas beberapa pakaian ke dalam sebuah koper. Berta memasukkan barang dan lembaran pakaian Iris sambil sesekali melirik ke arah ranjang. Tirai telah dibuka, begitu pun jendela, tapi Iris belum juga bangun. Begitu Berta selesai mengepak, dia segera berdiri tanpa pikir panjang. Berjalan mendekati Iris dan mengguncang pelan bahunya. "Nona? Nona, bangunlah."Iris mengerang kecil. Tubuhnya bereaksi, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya membuka mata. Berta sendiri tidak menyerah. Dia kembali menggoyang kaki Iris. "Nona, kita harus segera pergi. Tuan menunggu."Sayangnya, usaha Berta tidak membuahkan hasil. Iris tetap tertidur pulas. Sampai pintu kamar itu diketuk. Perhatian Berta teralihkan. Dia bergerak membuka pintu dan mendapati Elliot rapi di sana. "Si
Rahang Iris mengencang. Kedua tangannya mengepal di lapangan berbatu tersebut. Dia menatap nyalang Silas yang berdiri tegak tanpa merasa bersalah. Namun dia juga tidak bisa menyalahkan atau menyangkal argumen pria itu. Iris hanya bisa mengepalkan tangannya dan menghantam lapangan batu dengan kesal. Tatapan belasan pasang mata diabaikannya. Silas mendekat. Sepatu pria itu berdiri di depan wajahnya. Memaksa Iris untuk mau tak mau mendongak hanya agar bisa menatap wajah angkuh itu. Beberapa detik. Iris kembali menunduk. Menatap sepatu Silas sebelum tanpa diduga, dia meludah ke tanah di samping sepatu Silas, sengaja, jelas sebagai bentuk penghinaan. Tindakannya membuat beberapa anak buah di depannya tersentak, tapi Iris tak peduli. Dia dengan cepat mengusap wajah dan bibirnya yang kotor penuh tanah. Matanya menatap langsung wajah Silas. Tidak bereaksi. Pria itu hanya diam, tidak berkedip atau terganggu. Suasana di sana benar-benar hening. Sebelum Elliot melangkah maju. "Nona Iris
Black opal, Black Meridian, ular hitam dan sketsa senjata api. Empat hal itu berputar di kepala Iris sejak semalam dan dia tidak bisa berhenti memikirkannya sampai dengan pagi ini. Silas juga sama sekali tidak memberinya penjelasan lebih lanjut dan itu membuat rasa penasarannya semakin menjadi. K
"Aku tidak melihatnya. Apa dia pergi?"Iris menyantap makanannya seorang diri siang itu. Dia mengunyah daging tanpa melirik Berta yang ada di sebelahnya. Sudah terhitung dua hari sejak dia pulang dalam keadaan terluka. Silas tidak terlihat batang hidungnya dan dia tidak tahu seperti apa kondisinya
Hampir satu jam berlalu. Perutnya sudah kenyang dan Iris duduk di sebuah kursi tua ruang tengah yang usang. Debu telah dibersihkan. Sementara Silas duduk di depannya dengan sebuah buku yang entah didapat dari mana. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Hanya ada keheningan. Silas sibuk memb
“Engh.”Iris mengerang kecil. Keningnya mengernyit. Dalam keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar, dia meraba kepalanya yang berdenyut sakit. Hingga perlahan, matanya mulai terbuka. Pandangannya buram. Rasa sakit di kepalanya berdenyut lebih kuat. Bibirnya mendesis pelan, sampai matanya perlahan







