로그인Iris terus memberontak. Berusaha melepaskan diri dari pelukan Silas. Meski semua itu sulit. Alih-alih mengendur, pelukan itu semakin erat. "Baiklah! Lepaskan dulu! Aku tidak bisa berlatih jika begini," ucapnya. Terdengar sedikit kasar dan rasa kesal yang tak bisa ditutupi. Meski demikian, tidak ada lagi pemberontakan. Bahunya merosot jatuh dan suaranya terdengar pasrah. Siapa pun jelas mengira itu adalah tanda menyerah. Namun Silas hanya mengangkat alisnya. "Semudah itu?"Kepalanya menoleh. Iris menatap wajah pria yang benar-benar membuatnya muak. "Iya, kenapa? Kau tidak percaya? Apa wajahku ini terlihat seperti seorang pembohong?""Ya."Iris melotot. Mulutnya terbuka untuk membantah, tapi tak diduga, tangannya dilepas. Silas membebaskannya. Detik itu juga, tak butuh waktu lama, Iris yang melihat kesempatan, seketika langsung berlari menjauhi Silas. Pria itu tidak mengejar atau menahannya dan Iris berhenti ketika dia mencapai ambang pintu belakang. Dia berpaling, menatap ke arah
Iris mendengus. Menatap pria itu dengan aneh, sebelum tiba-tiba tertawa hambar, lalu diam. "Aku tidak butuh. Pergi dari hadapanku!"Elliot kembali berdiri. Dia bergeming di tempat. Tidak terpengaruh meski diusir. Kakinya justru melangkah lebih dekat. Sekilas melirik kembali ke arah kuburan pelayan. "Anda akan membutuhkan bantuan saya."Perkataan penuh percaya diri Elliot, memaksa Iris kembali menoleh. Matanya seketika menyipit. "Kau—""Anda harus menyerang Tuan secara langsung. Meracuninya dari belakang, sama saja seperti mengorbankan nyawa orang lain."Tubuh Iris membeku di tempat saat Elliot memotong ucapannya dengan tajam. Semua kemarahannya tertahan di lidah. Dia sejenak seolah kehilangan suaranya. Iris tidak tahu, apakah Silas yang memberitahu soal ini atau pelayan lain? Namun sebelum sempat dia bertanya lebih jauh, Elliot sudah bergerak meninggalkannya. Iris awalnya ingin menyangkal dan mengabaikan semua perkataan pria itu, tapi ketika dia terdiam dan tidak berhenti memikirka
"Akhirnya kau mengaku." Kemarahan Iris yang sudah mencapai puncak, seketika teredam ketika telinganya menangkap ucapan santai Silas. Tangannya membeku di kerah baju pria itu tanpa bergerak sedikit pun. Dia seolah tertampar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Wajahnya berubah pucat. Pegangan tangannya mengendur. Walau rahangnya yang menegang sama sekali tidak berubah. Dia menatap wajah Silas yang tampak menyeringai angkuh. Seolah akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Iris menurunkan tangannya kasar dan mengepal kuat. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Tidak bisa lagi membantah jika dia telah meracuni teh milik Silas. "Tidak usah basa-basi. Kau sudah tahu sejak awal aku mau meracunimu! Kau mau membunuhku?! Silakan!" Iris mendekat sambil mengangkat dagunya ke atas. Posisinya itu membuatnya sejajar dengan Silas. Dia menantang Silas. Meski tubuhnya sendiri terlihat sedikit gemeter. Ada rasa takut yang coba dia sembunyikan setelah ketahuan berniat jahat. Sayangnya, Silas t
"Nona, uhukkh—" "Berta, bersabarlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku janji." Iris bicara dengan suara bergetar dan mata yang buram oleh air mata. Dia masih memeluk Berta. Lalu beralih menatap marah penjaga gerbang yang menolak membukakan pintu. Sumpah serapah sudah siap meluncur dari mulutnya, tapi tangan lemah Berta menahannya. Seketika, dia kembali menatap wanita tua itu yang menggeleng. Wajah Berta tampak mulai memucat, tapi genggaman tangan itu masih terasa kuat. Sekilas, Iris mendapatinya tersenyum lemah. "T-terima kasih... hhhh... saya senang bisa bersama Anda, Nona." "Apa yang kau bicarakan, Berta? Ini bukan saatnya—" "Saya ... menyayangi Anda...." Berta tersenyum tipis. Mata tuanya menatap lekat Iris. Lama, tanpa berkedip. Keheningan terasa setelah Berta tak lagi berkata. Iris diam beberapa saat karena bingung. Lalu melirik dua pelayan yang berdiri di sampingnya. Mereka sama bingungnya. Hingga akhirnya, Iris mengguncang tubuh Berta dan ketika itulah dia meli
Kejadian yang begitu cepat membuat semua orang di sana terperanjat. Termasuk para pelayan yang melihat Berta tiba-tiba muntah.Iris terus mengguncang tubuh Berta, tetapi keadaan wanita itu justru semakin memburuk. Air mata mengalir tanpa disadarinya. Dia berusaha menyadarkan Berta.“Berta! Berta, bertahanlah!” pekik Iris nyaring.Suaranya memenuhi ruang makan dan membuat dua pelayan yang masih terpaku segera tersadar. Keduanya bergegas mendekat, membantu menopang tubuh Berta yang dipeluk Iris, lalu mendudukkannya di sebuah kursi.“Nona, kenapa Berta seperti ini? Apa yang terjadi?”Iris tidak menjawab. Bahkan, dia tidak menoleh sedikit pun. Fokusnya hanya tertuju pada Berta. Tangannya gemetar, sementara pandangannya buram dan wajahnya semakin pucat.Silas sendiri masih bergeming. Dia tidak menunjukkan keterkejutan ataupun rasa iba. Dia juga tidak mendekat atau sekadar bertanya apa yang terjadi, seolah sudah mengetahui semuanya.Iris yang sedari tadi terisak akhirnya mengangkat kepala.
Wajah Iris berubah kaku. Dia melirik meja gelisah, lalu kembali menatap Silas. "Semua teh sama saja. Tidak ada yang berbeda. Hidungmu mungkin yang bermasalah."Iris menjawab dengan nada sedikit ketus. Dia meraih gelasnya sendiri dan menyesap teh miliknya, seolah menunjukkan kalau Silas terlalu berlebihan. Namun mata biru itu masih menatapnya. Membuat Iris sedikit gelisah. Hingga tanpa diduga, sebuah tangan meraih gelas yang baru diletakkan olehnya. Iris terkesiap saat melihat Silas mengendus gelas tersebut dan meletakkannya beberapa saat kemudian. "Ini berbeda. Tidak sama."Pupil matanya melebar. Wajahnya berubah lebih pucat. Iris menelan ludah saat matanya bertatapan dengan Silas. "Tidak sama apanya?! Itu sama! Itu teh baru yang bahkan baru dibuka." Iris mengalihkan pandangannya dari Silas ke arah para pelayan di belakangnya. Ketiganya yang menyadari tatapan Iris, seketika mengangkat kepala mereka. Begitu pun dengan Berta yang akhirnya angkat suara. "Maaf jika saya lancang, tap
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”
"Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka







