Share

Menjadi Pelayan

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-05-30 15:56:38

Iris menahan napas. Matanya menatap lekat Silas. Pria itu masih tidak bergerak, tapi dadanya naik turun dengan ritme yang stabil.

Wajah sialannya itu tampak begitu tenang saat tertidur. Sulit dipercaya jika pria yang terlihat setenang ini bisa menjadi orang yang sama, dengan pria yang menumpahkan darah tanpa berkedip.

Jari-jari tangannya menyentuh pelatuk. Bergetar saat dia hendak menariknya. Pikiran jika kematian Silas adalah kebebasannya, terus berputar di kepala, seperti sebuah kaset rusak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Semudah Itu?

    Tubuh Iris mendadak kaku. Dia tidak bisa bergerak sama sekali atau menoleh untuk sekadar memberi senyum pada Dominic. Matanya hanya terpaku pada Silas. Setengah melotot dengan harapan pria itu melakukan sesuatu, tapi Silas memalingkan muka, seolah enggan terlibat.“Paman tadi mencarimu. Paman kira kamu sudah pulang. Terima kasih, ya, sudah mengantarkan berkas yang Paman butuhkan.”Iris menelan ludah. Dia hanya menganggukkan kepalanya kaku. Senyumnya tampak sedikit dipaksakan. “Apa ada masalah, Paman?” Silas menyela. Menarik kembali perhatian Dominic yang sebelumnya tertuju pada Iris. Membuat tubuh kakunya perlahan mengendur. Bahunya merosot pelan. Dominic yang sadar kembali dengan tujuan kedatangannya pun, kini mendekati Silas sambil memberikan dokumen. “Paman hampir lupa. Ini desain prototipe kapal yang akan kita pesan. Ada beberapa desain yang mirip dengan kapal lama kita. Paman sudah meminta untuk menggunakan material terbaik.”Dominic mengoceh dengan antusias saat Silas mulai

  • Tertawan oleh Don Mafia   Nyaris Selamat

    Pintu berderit perlahan. Langkah kaki terdengar. Sebelum akhirnya berhenti. Iris tersentak dan refleks mundur. Dia bersembunyi di bawah meja kerja Dominic sembari menutup mulutnya. Sialnya, dia belum sempat menutup peti yang tadi sempat dibukanya. “Mana Iris?”Suara Dominic terdengar. Berat dan rendah. Sayangnya Iris tidak bisa melihat. Tidak tahu seberapa dekat jarak antara mereka. “Beliau sudah kami persilakan masuk, Tuan.”“Hm, ruangannya kosong.”Satu langkah, dua langkah, terdengar mendekat. Jantung Iris berdetak lebih cepat. Dia menarik napas panjang sembari berdoa semoga Dominic tidak menemukannya di sana. “Mungkin sedang di kamar kecil, Tuan. Apa Anda ingin mencarinya?”Percakapan berhenti. Iris tidak mendengar jawaban apa pun selain langkah kaki yang ringan. Dia tidak tahu apakah Dominic menyadari dia ada di bawah meja atau tidak. Iris hanya bisa menahan napas. Sampai detik berikutnya, terdengar suara halus dari kertas yang diambil. “Tidak perlu. Berkasnya ada di sini.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bertindak Nekat

    Iris membolak-balikan kertas itu. Mencoba memahami setiap katanya, tapi dia tidak bisa mengerti. Berkas itu penuh simbol dan huruf yang digabung secara aneh. Semakin keras dia mencoba membacanya, semakin tegang pelipisnya. Tidak ada satu lembar pun yang dapat dia pahami. Rahangnya mengetat. Tangannya meremas kesal berkas tersebut. “Sial! Apa takdir benar-benar tidak berpihak padaku?!”Iris mendengkur kesal dan menutup berkas itu kasar. Dadanya naik turun. Menahan rasa jengkel dalam dadanya. Iris nyaris tidak bisa membedakan. Apakah ini karena dia terlalu bodoh atau lawannya yang terlalu cerdas? Dia bisa saja memindai bahasa apa itu, lalu mengartikannya, tapi dia bahkan tidak tahu bahasanya. Terlalu asing dan aneh. Sampai dia sendiri tidak yakin apakah akan ada yang tahu jenis bahasa tersebut. Apesnya lagi, Iris yang tidak mendapat jawaban dari rasa penasarannya, dengan terpaksa harus tetap mengantarkan berkas itu pada Dominic. “Tidak apa-apa. Selama bukan Silas, semua akan baik-

  • Tertawan oleh Don Mafia   Satu Harapan

    Silas akhirnya pergi untuk suatu urusan dan tidak membawanya. Iris ditinggal di rumah besar itu bersama Berta dan para pelayan asing. Pakaiannya telah berganti dan perutnya telah diisi. Tidak ada yang dilakukannya selain berjalan-jalan di sekitar rumah. Setiap pasang mata menatap diam-diam. Dulu dia mungkin risi, tapi perlahan mulai sedikit terbiasa. Dia tahu orang-orang hanya penasaran dengan wanita yang dibawa Silas, bukan dengan siapa dia secara utuh. “Rasanya sangat berbeda dari manor,” ucap Iris saat dia melangkah keluar rumah. Berdiri di teras. Berta mengikutinya dari belakang. “Benar, di sini lebih panas, Nona. Matahari sangat menyengat.”Pandangan Iris terangkat. Tertuju pada lautan yang tak jauh darinya atau bagaimana cahaya matahari yang menyorot sejajar ke tanah. Cuaca cerah, terlalu cerah sampai dia juga ikut merasa gerah. Kontras dengan manor yang sekelilingnya hutan dan memberikan udara yang lebih sejuk. “Tapi sepertinya, tempat ini tidak berbahaya.”“Maksud Anda?”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Wilayah Kekuasaan

    Iris terperanjat. Tubuhnya tiba-tiba terdorong ke depan saat pintu yang digenggamnya dibuka lebar. Dia yang tidak siap pun jatuh ke lantai, tepat di depan sang pemilik kamar. "Akhh ...." Bibirnya meringis. Tidak terlalu sakit, tapi cukup membuatnya ngilu. "Apa kau tidak bisa tidak mengejutkanku?"Iris dengan susah payah memegang sebuah meja di sampingnya untuk bangkit. Berdiri sambil merapikan pakaiannya. Matanya kemudian mendongkak, menatap Silas yang berdiri di depannya."Aku yang harusnya terkejut melihat tamu tak diundang masuk."Pipi Iris memerah. Matanya melebar. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari kontak mata langsung dengan Silas. Kakinya melangkah mundur. "Aku tidak tahu kalau kamarku dan kamarmu terhubung," ucapnya membela diri. Iris memang tidak berniat untuk mengunjungi Silas. Dia hanya tidak sengaja. Namun, detik berikutnya dia langsung menyadari sesuatu. "Tunggu—"Matanya kembali terfokus pada Silas. Kali ini tatapannya menyelidik. "Kau tah

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tempat Baru

    Mobil yang ditumpangi Iris berhenti, tepat di sebuah jalan beralaskan batu alam berwarna abu-abu muda yang membentang dari halaman depan hingga teras. Permukaannya kasar dengan guratan alami yang membuatnya tampak mewah tanpa kesan mencolok.Dua orang pria berseragam hitam mendekati mobil dan membuka pintu dari kedua sisi. Iris keluar bersama Silas dan yang lain.Matanya secara acak mengamati sekeliling sebelum akhirnya terperangah menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Sebuah rumah besar memanjang dengan warna ivory dan taman kecil di sekitarnya. Tepat sejajar dengan posisinya berdiri, Iris juga melihat sebuah kolam renang kecil yang langsung menghadap ke arah laut. Suara ombak dan aroma laut yang sebelumnya dia hirup, kini tampak sangat nyata dan pekat. Iris nyaris tidak bisa menutup mulutnya saat menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Dia benar-benar melihat lautan tanpa ujung yang hampir mengelilingi semua tempat tersebut. Sampai dia melupakan beberapa hal. "Selamat datan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Iris pada akhirnya duduk berhadapan dengan Silas. Tepat di sebelah jendela. Udara saat malam hari di sana terasa lebih dingin, jauh berbeda dari saat siang. Dia tidak bisa melihat terlalu jelas area di luar jendela. Meski di dalam, cahaya lampu cukup terang dan cukup untuk memperlihatkan apa yang a

  • Tertawan oleh Don Mafia   Ketakutan yang Kembali

    Silas tidak menjawab. Pria itu hanya berjalan berdampingan dengan Marcus. Iris kembali diabaikan, tapi kali ini, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keduanya. Mereka keluar dari ruangan dan kembali berjalan menyusuri lorong bangunan permanen itu. Hawa dingin dan segar yang beberapa menit

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sangkar Tak Terlihat

    Debu masih beterbangan di udara ketika Iris tersadar dirinya masih dipeluk Silas. Dia langsung mendorong dada pria itu dan mundur cepat dengan wajah panas."Aku tidak sengaja!""Aku tahu," sahut Silas tenang.Tatapan matanya beralih pada deretan rak yang hancur. "Sulit dipercaya seseorang bisa menc

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pencuri Kecil

    Black opal, Black Meridian, ular hitam dan sketsa senjata api. Empat hal itu berputar di kepala Iris sejak semalam dan dia tidak bisa berhenti memikirkannya sampai dengan pagi ini. Silas juga sama sekali tidak memberinya penjelasan lebih lanjut dan itu membuat rasa penasarannya semakin menjadi. K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status