Share

Sekutu?

last update publish date: 2026-05-28 17:08:23

“Silas!”

Iris keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam manor dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Dia mencoba mengabaikan fakta kakinya masih sakit. Mengejar langkah Silas dan Elliot yang lebar.

Dia nyaris tidak percaya melihat cara berjalan Silas, padahal pria itu baru terluka.

Namun begitu mereka memasuki ruangan, Iris yang hendak ikut masuk justru mendapati pintu ditutup tepat di depan wajahnya. Membuat hidungnya tanpa sengaja membentur pintu.

“Aw, sial!” Pelipisnya langsung ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia   Satu Harapan

    Silas akhirnya pergi untuk suatu urusan dan tidak membawanya. Iris ditinggal di rumah besar itu bersama Berta dan para pelayan asing. Pakaiannya telah berganti dan perutnya telah diisi. Tidak ada yang dilakukannya selain berjalan-jalan di sekitar rumah. Setiap pasang mata menatap diam-diam. Dulu dia mungkin risi, tapi perlahan mulai sedikit terbiasa. Dia tahu orang-orang hanya penasaran dengan wanita yang dibawa Silas, bukan dengan siapa dia secara utuh. “Rasanya sangat berbeda dari manor,” ucap Iris saat dia melangkah keluar rumah. Berdiri di teras. Berta mengikutinya dari belakang. “Benar, di sini lebih panas, Nona. Matahari sangat menyengat.”Pandangan Iris terangkat. Tertuju pada lautan yang tak jauh darinya atau bagaimana cahaya matahari yang menyorot sejajar ke tanah. Cuaca cerah, terlalu cerah sampai dia juga ikut merasa gerah. Kontras dengan manor yang sekelilingnya hutan dan memberikan udara yang lebih sejuk. “Tapi sepertinya, tempat ini tidak berbahaya.”“Maksud Anda?”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Wilayah Kekuasaan

    Iris terperanjat. Tubuhnya tiba-tiba terdorong ke depan saat pintu yang digenggamnya dibuka lebar. Dia yang tidak siap pun jatuh ke lantai, tepat di depan sang pemilik kamar. "Akhh ...." Bibirnya meringis. Tidak terlalu sakit, tapi cukup membuatnya ngilu. "Apa kau tidak bisa tidak mengejutkanku?"Iris dengan susah payah memegang sebuah meja di sampingnya untuk bangkit. Berdiri sambil merapikan pakaiannya. Matanya kemudian mendongkak, menatap Silas yang berdiri di depannya."Aku yang harusnya terkejut melihat tamu tak diundang masuk."Pipi Iris memerah. Matanya melebar. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari kontak mata langsung dengan Silas. Kakinya melangkah mundur. "Aku tidak tahu kalau kamarku dan kamarmu terhubung," ucapnya membela diri. Iris memang tidak berniat untuk mengunjungi Silas. Dia hanya tidak sengaja. Namun, detik berikutnya dia langsung menyadari sesuatu. "Tunggu—"Matanya kembali terfokus pada Silas. Kali ini tatapannya menyelidik. "Kau tah

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tempat Baru

    Mobil yang ditumpangi Iris berhenti, tepat di sebuah jalan beralaskan batu alam berwarna abu-abu muda yang membentang dari halaman depan hingga teras. Permukaannya kasar dengan guratan alami yang membuatnya tampak mewah tanpa kesan mencolok.Dua orang pria berseragam hitam mendekati mobil dan membuka pintu dari kedua sisi. Iris keluar bersama Silas dan yang lain.Matanya secara acak mengamati sekeliling sebelum akhirnya terperangah menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Sebuah rumah besar memanjang dengan warna ivory dan taman kecil di sekitarnya. Tepat sejajar dengan posisinya berdiri, Iris juga melihat sebuah kolam renang kecil yang langsung menghadap ke arah laut. Suara ombak dan aroma laut yang sebelumnya dia hirup, kini tampak sangat nyata dan pekat. Iris nyaris tidak bisa menutup mulutnya saat menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Dia benar-benar melihat lautan tanpa ujung yang hampir mengelilingi semua tempat tersebut. Sampai dia melupakan beberapa hal. "Selamat datan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pindah Sementara

    Kamar tidur Iris tampak tenang dan sunyi. Cahaya matahari yang sudah tinggi menyinari langsung tubuh Iris, tetapi tetap gagal membangunkannya dari tidur lelap.Bahkan Iris tidak menyadari kehadiran Berta yang saat ini sedang sibuk mengemas beberapa pakaian ke dalam sebuah koper. Berta memasukkan barang dan lembaran pakaian Iris sambil sesekali melirik ke arah ranjang. Tirai telah dibuka, begitu pun jendela, tapi Iris belum juga bangun. Begitu Berta selesai mengepak, dia segera berdiri tanpa pikir panjang. Berjalan mendekati Iris dan mengguncang pelan bahunya. "Nona? Nona, bangunlah."Iris mengerang kecil. Tubuhnya bereaksi, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya membuka mata. Berta sendiri tidak menyerah. Dia kembali menggoyang kaki Iris. "Nona, kita harus segera pergi. Tuan menunggu."Sayangnya, usaha Berta tidak membuahkan hasil. Iris tetap tertidur pulas. Sampai pintu kamar itu diketuk. Perhatian Berta teralihkan. Dia bergerak membuka pintu dan mendapati Elliot rapi di sana. "Si

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kekalahan

    Rahang Iris mengencang. Kedua tangannya mengepal di lapangan berbatu tersebut. Dia menatap nyalang Silas yang berdiri tegak tanpa merasa bersalah. Namun dia juga tidak bisa menyalahkan atau menyangkal argumen pria itu. Iris hanya bisa mengepalkan tangannya dan menghantam lapangan batu dengan kesal. Tatapan belasan pasang mata diabaikannya. Silas mendekat. Sepatu pria itu berdiri di depan wajahnya. Memaksa Iris untuk mau tak mau mendongak hanya agar bisa menatap wajah angkuh itu. Beberapa detik. Iris kembali menunduk. Menatap sepatu Silas sebelum tanpa diduga, dia meludah ke tanah di samping sepatu Silas, sengaja, jelas sebagai bentuk penghinaan. Tindakannya membuat beberapa anak buah di depannya tersentak, tapi Iris tak peduli. Dia dengan cepat mengusap wajah dan bibirnya yang kotor penuh tanah. Matanya menatap langsung wajah Silas. Tidak bereaksi. Pria itu hanya diam, tidak berkedip atau terganggu. Suasana di sana benar-benar hening. Sebelum Elliot melangkah maju. "Nona Iris

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pertarungan Tidak Seimbang

    "Nona, Anda tidak serius kan?"Wajah Berta memucat. Pelayan tua itu memegang tangan Iris, tapi Iris tidak menoleh atau sekadar menepis kekhawatirannya. Fokus Iris sepenuhnya tertuju pada Silas yang kini berbalik dan berjalan kembali ke area lapangan bebatuan. "Nona, Tuan Silas bukan lawan Anda. Anda akan—""Diamlah, Berta." Iris menoleh pada Berta dengan rahang mengetat. Dia melepaskan tangan pelayan tua itu. Dia sadar Berta khawatir padanya, tapi dia tidak mungkin mundur. Meski dia sendiri sebenarnya ragu untuk mengalahkan Silas. Namun pikiran itu tidak membuat Iris menyerah. Matanya menatap punggung Silas berjalan menjauh. Tepat ke area lukanya. Iris menanamkan tekad di kepalanya, kalau dia tidak harus menang. Dia hanya ingin menghancurkan sedikit keangkuhannya. Tanpa memedulikan lagi Berta, Iris perlahan melangkah mengikuti Silas. Dia mengabaikan setiap pasang mata anak buah pria itu yang mengamatinya. Sampai kakinya berhenti tepat di tengah lapangan bebatuan. Tepat di hadapan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Konfrontasi

    "Silas?""Kak Silas di sini?"Saat nama itu disebut, ada dua reaksi yang terlihat. Octavian tampak tegang dan serius. Sementara Lyra tampak berseri. Kemarahan dan rasa kesal yang sempat dirasakannya, mendadak lenyap tanpa jejak. Senyumnya melebar. "Biarkan dia masuk! Ah, tidak, aku yang akan ke sa

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kunjungan Tak Terduga

    Keesokan harinya. Iris akhirnya meninggalkan area kompleks terpencil itu bersama Silas. Setelah insiden di kereta dan momen dia tidur seranjang dengan Silas, tidak ada apa pun lagi yang terjadi. Semuanya aman, meski dia tidak bisa benar-benar tidur. Lingkaran hitam di bawah mata adalah bukti Iris

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidur Seranjang

    Iris melangkah memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya. Seperti dugaannya, tempat itu jauh lebih sederhana dibanding manor. Warnanya didominasi putih ke abu-abuan. Tidak banyak barang di sana. Namun ada sebuah sofa panjang. Matanya juga menemukan simbol ular dalam sebuah lukisan yang dipajang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Terpaksa Menginap

    Hari sudah semakin larut dan orang-orang masih bekerja di kompleks tersebut, seakan tidak boleh ada waktu yang terbuang percuma. Namun di sana, Iris tidak melihat adanya raut lelah atau mengantuk di wajah mereka. Sangat jauh berbeda dari dia dan Silas yang saat ini berjalan di lorong ditemani oleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status