Aroma makanan memenuhi ruang kantor milik Marcus, yang sebelumnya dimasuki Silas dan Iris. Sekarang keduanya tengah duduk berhadapan. Iris duduk dengan beberapa piring makanan di depannya. Dia tidak ragu-ragu untuk menyantap makanan itu, karena sejak tadi, perutnya telah meronta-ronta meminta diisi. Satu suap, tiga suap, dia mengunyah sambil sesekali melirik Silas yang duduk di depannya. Pria itu tidak ikut makan, tapi sibuk memeriksa berkas yang entah apa di tangannya. Samar-samar, hidungnya mencium bau anyir. Namun Iris menolak untuk memeriksa atau memerhatikannya. Dia tahu itu berasal dari Silas dan dia tidak mau membayangkan apa yang dilakukan pria itu tadi. "Kapan kita pulang?" tanya Iris sambil tetap menyantap makanannya. Dia melirik sekilas ke arah Silas. Mata pria itu beralih menatapnya. "Pulang?"Iris mengangguk. "Ya, ke rumah." Silas diam. Tidak langsung membalas atau menimpali perkataannya, tapi pria itu tiba-tiba meletakkan berkas di tangannya. Fokusnya tertuju penuh
Read more