LOGINSenyum tipis terukir di bibirnya.Ia baru saja hendak kembali mengeratkan pelukannya ketika suara ketukan bertubi-tubi terdengar dari balik pintu. Tok! Tok! Tok!"Gavin! Buka pintunya, Bro! Kita datang rombongan nih!" Suara Kak Cakra terdengar lantang, disusul tawa Kak Kevin dari luar ruangan. Kak Gavin mengembuskan napas pelan.Sebelum melepaskan pelukannya, ia sempat mengusap rambutku dengan lembut. "Sebentar, ya, Ran." Ia bangkit dari tepi ranjang, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya. Begitu pintu terbuka, suasana kamar yang semula tenang langsung berubah ramai.Kak Cakra dan Kak Kevin masuk lebih dahulu sambil membawa parsel buah-buahan, diikuti Dimas, Yasmin, Nadin, Siska dan Nadia. "Rania!" Yasmin dan Nadin langsung menghampiri ranjangku.Nadia dan Siska menyusul di belakang mereka.Keempatnya tampak begitu khawatir ketika melihat perban putih yang masih melilit kepalaku. "Ya ampun, Ran! Kamu bikin kita semua panik tahu nggak?" seru Yasmin sambil menggenggam tan
Hening yang ditinggalkan oleh kepergian Papa tidak berlangsung lama. Udara di dalam ruang rawat ini perlahan berubah menegang ketika ketukan di pintu terdengar, disusul oleh derap langkah sepatu bertumit tinggi yang begitu kuhafal. Pintu terbuka. Kak Giselle melangkah masuk dengan anggun. Ia mengenakan gaun terusan berwarna krem yang elegan, membawa seikat bunga lily putih segar di satu tangan dan paper bag kecil di tangan lainnya. Di wajahnya, terpasang senyum manis nan penuh empati, topeng sempurna yang membuat dadaku seketika bergemuruh hebat. Jemariku refleks meremas genggaman Kak Gavin dengan sangat erat, bahkan tubuhku mendadak menegang kaku. Kak Gavin yang menyadari perubahan mendadak pada respons tubuhku langsung menoleh ke arah pintu. Sepasang matanya menatap kedatangan Kak Giselle. "Selamat pagi," sapa Kak Giselle dengan suara lembut yang dibuat-buat. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang. "Gavin, kamu sudah disini?" "Dimana Om Alexander?" "Kebetulan, aku sempat
Cahaya matahari pagi mulai menyusup melalui celah tirai ruang rawat, menghadirkan kehangatan yang perlahan mengusir dinginnya udara rumah sakit.Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerpa wajahku. Rasa mual dan nyeri di kepala memang sudah jauh berkurang dibandingkan semalam, meskipun masih ada sedikit pening yang membuatku enggan bergerak terlalu banyak.Ketika pandanganku mulai fokus, sosok pertama yang kulihat adalah Kak Gavin. Ia masih duduk di kursi tepat di samping ranjangku. Wajahnya tampak lelah setelah berjaga sepanjang malam, tetapi senyum lega langsung menghiasi bibirnya saat menyadari aku sudah terbangun.Sementara itu, sofa di sudut ruangan tampak kosong.Papa tidak ada di sana."Selamat pagi, Ran."Suara Kak Gavin terdengar sedikit serak. Ia segera berdiri dan membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuhku."Masih pusing?"Aku mengangguk kecil. "Udah lumayan berkurang, Kak.""Syukurlah."Belum sempat kami melanjutkan per
Genggaman tangan Mas Tian terasa hangat, perlahan mengusir hawa dingin yang sejak tadi merayap di tengkukku.Ia menundukkan wajah lebih dekat, berusaha mencari jawaban dari balik tatapanku.Sorot matanya yang tajam seolah mampu menembus pertahananku, menangkap ketakutan yang masih tersembunyi di balik kelopak mataku yang setengah terbuka. "Ada yang sakit, Ran?" bisiknya pelan, tetapi terdengar begitu mendesak. Jemarinya yang bebas terangkat, menyeka sebulir air mata yang lolos dari sudut mataku. Alih-alih membalas pertanyaannya, aku hanya bisa menatap matanya dalam-dalam sambil mempererat genggaman pada jemarinya. Melalui sentuhan itu, aku berusaha menyampaikan seluruh ketakutan dan rasa sakit yang tidak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Mas Tian membalas genggamanku tak kalah erat, seolah ingin meyakinkanku bahwa ia tidak akan meninggalkanku. "Rania sayang." Suara Bunda terdengar bergetar penuh kelegaan saat menyadari mataku telah terbuka. "Biar Papa panggilkan perawat," uj
Gelap. Kesadaranku perlahan muncul dari kegelapan yang menyelimutiku. Namun, alih-alih merasa lebih baik, kepalaku justru terasa begitu berat. Nyeri berdenyut di pelipis kanan, seolah ada sesuatu yang terus menghantam bagian dalam kepalaku. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi indra penciumanku. Aku tahu sedang berada di rumah sakit, meskipun belum sanggup membuka mata. Kelopak mataku terasa berat. Tubuhku pun seolah kehilangan seluruh tenaga. Bahkan untuk sekadar menggerakkan jemari, aku harus mengerahkan usaha yang luar biasa. Di tengah kesadaran yang masih samar, telingaku mulai menangkap percakapan beberapa orang di dekat ranjang. “Pulanglah sebentar, Vin. Bersihkan dirimu dan ganti pakaian,” ujar seorang wanita dengan suara lembut. Itu ibu Kak Gavin. “Tapi, Bu, aku mau tetap di sini sampai Rania sadar.” Suara Kak Gavin terdengar berat. Ada kecemasan yang begitu jelas di balik ucapannya. “Benar kata ibumu, Nak Gavin,” timpal Bunda. “Di sini masih ada kami yang menj
Suasana di dalam mobil milik Giselle terasa mencekam. Giselle mencengkeram kemudi dengan kedua tangan yang mulai berkeringat dingin. Sesekali, matanya melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi Gavin yang duduk di kursi belakang sambil memangku tubuh Rania. Di balik wajahnya yang tampak panik, pikirannya bekerja keras menyusun alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. “Bisa lebih cepat nggak?!” bentak Gavin. Suara pemuda itu terdengar tajam dan penuh tekanan, jauh berbeda dari sikapnya yang biasanya tenang. Giselle tersentak. “I-iya, Gavin. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Namun, Gavin tidak lagi memedulikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada Rania yang terkulai lemah dalam pelukannya. Darah terus merembes dari luka di pelipis gadis itu, membasahi kemeja biru dongker yang dikenakannya. Dengan tangan gemetar, Gavin menekan luka tersebut menggunakan saputangan untuk membantu menghentikan pendarahan. Wajahnya menegang setiap kali melihat darah yang terus







