LOGINDunia di sekelilingku seolah berhenti berputar.Kata-kata itu menggema di udara, menabrak dinding-dinding kesadaranku dan menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang susah payah kupertahankan.Aku cemburu.Mas Tian, pria yang selalu berlindung di balik tembok es dan keangkuhannya, pria yang tiga hari lalu menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang kakak bagiku, kini menatapku dengan sorot mata yang begitu hancur dan putus asa."Mas..." bisikku bergetar, mencoba mencari celah untuk bernapas di tengah himpitan auranya.Namun, sebelum aku sempat merangkai kalimat penolakan, tatapan Mas Tian turun, mengunci rapat pada bibirku. Raung napasnya yang berat dan memburu menerpa wajahku, membawa aroma tajam alkohol yang bercampur dengan wangi parfum yang selalu memabukkan."Dia tidak berhak menyentuhmu, Rania..." geramnya parau. "Tidak ada yang berhak."Dalam hitungan detik, Mas Tian menundukkan wajahnya dan meraup bibirku.Aku terbelalak. Tubuhku menegang kaku layaknya patung.Ciuman itu
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam digantikan pekatnya malam ketika deru mesin motor sport Kak Gavin membelah kesunyian jalanan.Motor hitam besar itu berhenti perlahan di depan gerbang utama mansion keluarga. Kak Gavin turun lebih dulu, lalu dengan sigap mengulurkan tangannya untuk membantuku turun, memastikan kaki kananku yang baru sembuh mendarat dengan aman. Di lenganku yang lain, aku mendekap erat boneka beruang pemberiannya."Makasih banyak buat hari ini ya, Kak.," ucapku tulus sambil menyerahkan helmnya.Kak Gavin menerimanya, namun alih-alih langsung menaruh helm itu di motor, ia menatapku cukup lama. Senyum usil yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang tiba-tiba melembut dan dalam. Tangannya terulur, merapikan anak rambut yang tertiup angin di pelipisku."Sama-sama, Tuan Putri," ucapnya pelan.Sebelum aku sempat bereaksi, Kak Gavin sedikit menundukkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut namun pasti. Hanya
Aku duduk mematung di kursi restoran, menatap kosong ke arah gelas lemon tea yang mengembun di hadapanku. Riuh rendah suara pengunjung mall dan alunan musik yang mengalun pelan di udara seakan hanya numpang lewat di telingaku. Pikiranku masih tertinggal di toko perhiasan tadi. Tepatnya, pada tatapan terakhir Mas Tian sebelum aku membalikkan badan. Tatapan tajam yang begitu menusuk, kilat kemarahan yang tertahan, dan bagaimana ia menepis kasar tangan Kak Giselle... Semuanya berputar-putar di kepalaku bagai kaset rusak. "Hei, Rania. Lemon tea-nya nggak akan berubah jadi manis kalau cuma dilihatin terus." Suara usil Kak Gavin menarikku kembali ke alam sadar. Aku mengerjapkan mata, mendapati pria itu tengah menopang dagu dengan satu tangan, menatapku dengan sorot mata yang hangat dan jenaka. Aku buru-buru menarik napas, mencoba mengusir wajah Mas Tian dari kepalaku. "Eh, maaf, Kak. Aku malah ngelamun." Kak Gavin tertawa pelan. Ia menyondongkan tubuhnya ke depan,
Tiga hari berlalu sejak malam yang menyesakkan itu. Pagi ini, dokter keluarga datang kembali untuk mengecek perkembangan pergelangan kakiku. Ia menyentuh dan menggerakkan kakiku perlahan, lalu mengangguk puas. "Perkembangannya sangat bagus." ucap sang dokter seraya merapikan peralatan medisnya ke dalam tas. "Kakimu sudah bisa digerakkan dengan lebih leluasa. Nyerinya juga pasti sudah jauh berkurang, kan?" "Kamu sudah boleh beraktivitas seperti biasa, tapi ingat, pelan-pelan saja. Jangan dipakai berlari dulu." "Syukurlah. Terima kasih banyak, Dok," jawabku lega. Izin dari dokter berarti aku bisa kembali kuliah hari ini. Menghirup udara segar dan menyibukkan diri dengan setumpuk tugas kampus adalah pelarian paling sempurna yang sangat kubutuhkan untuk mengalihkan pikiranku dari Mas Tian. Sore harinya, saat kelas terakhirku baru saja usai, ponsel di dalam tasku bergetar singkat. Aku menghentikan langkah sejenak di koridor fakultas untuk melihat layar. Sebuah pesan masuk da
Mata kami saling terkunci. Waktu seakan berhenti berdetak di ruang baca itu.Napasnya terasa hangat menerpa wajahku. Mata hitam pekat yang menatapku menyiratkan kerinduan yang begitu dalam, namun dengan cepat tertutupi oleh kabut keangkuhan yang ia bangun sejak pagi tadi. Aku masih membeku. Jantungku berdebar tak karuan.Kecupan di keningku tadi... bukan sekadar halusinasiku.“Mas...” panggilku lirih, nyaris seperti bisikan yang tertelan udara.Panggilanku seolah menyentaknya. Mas Tian mengerjapkan mata. Sorot matanya yang sesaat tadi melembut, dalam sekejap kembali mengeras dan berubah sedingin es. Ia segera menarik tubuhnya menjauh dariku, menciptakan jarak yang terasa begitu lebar di antara kami.“Bunda menyuruhku memindahkanmu ke kamar,” ucapnya datar. Suaranya terdengar sangat kaku, seolah ia sedang berbicara dengan orang asing.Aku menelan ludah. Rasa sesak kembali menggerogoti dadaku. Baru saja ia mengecup keningku, dan kini ia kembali menjadi pria tak tersentuh.Sebel
Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai kamar. Aku membuka mata dengan kepala yang masih terasa berat. Semalam aku tidur cukup larut setelah berbicara dengan Kak Gavin. Walaupun pikiranku masih dipenuhi banyak hal, suara Kak Gavin berhasil membuatku sedikit lebih tenang. Pintu kamar diketuk pelan. “Masuk.” Seorang pelayan masuk dan menghampiriku. “Selamat pagi, Nona.” “Pagi.” Pelayan itu kemudian membantuku bersiap. Setelah semuanya selesai, ia membantu memindahkanku dari tempat tidur ke kursi roda dengan hati-hati. Pelayan itu memastikan semuanya sudah rapi sebelum kemudian bertanya, “Nona mau sarapan di kamar atau di ruang makan?” “Di ruang makan saja.” “Baik, Nona.” Namun sebelum aku dibawa keluar kamar, handphone yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Layar menyala. Kak Gavin — Video Call Senyum kecil langsung muncul di wajahku. Aku segera menerima panggilannya. Wajah Kak Gavin muncul di layar. “Pagi, Rania.” “Pagi, Kak.” Tatapannya langs







