Share

153

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-10-19 10:01:34
Langkah kakiku terasa berat saat mengikuti Mas Noah melewati pintu utama rumah. Suasana hangat langsung menyambut kami, diiringi aroma chamomile dari lilin aromaterapi yang biasa dinyalakan Kak Mira di ruang tengah.

Ada sesuatu dalam diriku yang tertinggal di penthouse itu. Sesuatu yang tidak bisa kuambil kembali, tidak peduli seberapa jauh aku berusaha menjauh dari Mas Tian.

Begitu kami tiba di ruang tengah, Kak Mira yang sedang duduk di sofa langsung bangkit menghampiri.

"Baru pulang, Ra
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   157

    Mendengar suara deru mesin motor itu, aku segera bangkit dan melangkah menuju pintu utama, membukanya perlahan. Di pelataran teras, Kak Gavin baru saja melepaskan helm full-face miliknya. Ia mengenakan jaket denim, menenteng sebuah kantong paperbag berisi makanan di tangan kirinya. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, Kak Gavin segera melangkah menghampiriku. Ia tersenyum teduh, dengan tatapan lembut yang menyiratkan kerinduan mendalam. "Hai," sapanya pelan. Ia mengangkat tangannya yang bebas, mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Mata kamu sembap banget, Ran. Beneran secapek itu, ya, semalam?" Aku menelan ludah. Sentuhannya begitu hangat, hati-hati, dan penuh rasa hormat. Sangat berbanding terbalik dengan sentuhan Mas Tian yang selalu dipenuhi tuntutan dan rasa kepemilikan mutlak. "Iya, Kak," jawabku dengan suara serak. "Maaf, ya, Kakak jadi repot-repot nyari alamat ke sini, padahal aku cuma kecapekan biasa." Kak Gavin tersenyum semakin lebar, lalu merangk

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   156

    Setelah Kak Mira beranjak ke dapur, suasana rumah kembali terasa senyap. Tak lama berselang, ia melewati ruang makan lagi dan pamit sebentar untuk naik ke lantai dua, bersiap-siap berangkat bekerja siang ini. Kepergiannya meninggalkanku benar-benar sendirian bersama pikiranku yang masih kacau.Aku menunduk, menatap mangkuk sup di hadapanku yang sudah benar-benar dingin. Baru beberapa suap yang berhasil kutelan, tetapi kerongkonganku terasa kebas. Selera makanku sudah sepenuhnya mati.Pandanganku kemudian jatuh pada handphone yang tergeletak di samping piring. Layarnya menyala sesaat, menampilkan pop-up notifikasi dari Kak Gavin yang sengaja belum kubuka sejak siang.Dari layar depan yang terkunci, aku bisa membaca pesannya dalam diam. Pesan tersebut mengingatkanku untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri jika memang sedang tidak enak badan.Sederhana.Hanya perhatian tulus dari seseorang yang benar-benar mengkhawatirkanku.Dadaku terasa semakin sesak.Kak Gavin, Ia selalu be

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   155

    Bunda tampak begitu bersemangat. Sementara Papa duduk di sampingnya dengan ekspresi bangga, seolah keduanya sedang membawa kabar yang sudah lama ingin dibagikan kepada keluarga. "Minggu depan, keluarga kita akan mengadakan gala dinner untuk merayakan keberhasilan proyek besar Van Rijn," jelas Bunda. "Ini pencapaian yang penting buat perusahaan, jadi Bunda ingin semua anggota keluarga hadir." Papa mengangguk membenarkan. "Betul. Papa juga ingin kalian semua berkumpul." "Ini bukan sekadar acara perusahaan, tetapi juga momen penting bagi keluarga kita. Nanti Noah akan Papa kabari langsung." Aku menelan ludah. "Minggu depan?" "Iya, Sayang," jawab Bunda. "Jadi, kalian mulai persiapkan semuanya dari sekarang.""Cari pakaian yang bagus. Kalau perlu, kalian bisa pergi ke salon bersama." Kak Mira tersenyum mendengar penjelasan itu. "Wah, berarti acaranya cukup besar, ya, Bun?" "Tentu saja. Banyak tamu penting yang akan hadir." Bunda kemudian tersenyum semakin lebar. "A

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   154

    Cahaya matahari siang menembus celah gorden kamarku, memaksaku membuka mata yang terasa berat. Kepalaku berdenyut pelan. Kedua mataku panas dan membengkak akibat menangis terlalu lama semalam. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, mencoba mengumpulkan kembali kepingan-kepingan ingatan yang berserakan. Namun, semakin keras aku berusaha mengalihkan pikiran, semakin jelas kejadian semalam kembali terbayang. Mas Tian. Dan kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum meninggalkanku. Aku memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Hari ini aku membolos kuliah. Sesuai dengan kebohongan yang kusampaikan kepada Kak Gavin semalam, aku membiarkan diriku tertidur hingga menjelang siang. Aku mengatakan bahwa ingin beristirahat, padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu. Aku hanya tidak memiliki keberanian untuk menghadapi dunia setelah semua yang terjadi. Dengan berat hati, aku bangkit dari kasur dan berjalan menuju kama

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   153

    Langkah kakiku terasa berat saat mengikuti Mas Noah melewati pintu utama rumah. Suasana hangat langsung menyambut kami, diiringi aroma chamomile dari lilin aromaterapi yang biasa dinyalakan Kak Mira di ruang tengah. Ada sesuatu dalam diriku yang tertinggal di penthouse itu. Sesuatu yang tidak bisa kuambil kembali, tidak peduli seberapa jauh aku berusaha menjauh dari Mas Tian. Begitu kami tiba di ruang tengah, Kak Mira yang sedang duduk di sofa langsung bangkit menghampiri. "Baru pulang, Ran? Kok, malam banget?" Nada suaranya terdengar lembut, tetapi kekhawatiran di wajahnya membuat dadaku terasa semakin sesak. Aku menunduk, tidak sanggup menatap matanya terlalu lama. "Iya, Kak. Maaf." Mas Noah menghampiri istrinya, lalu merangkul bahunya sekilas. "Maaf, Mir. Tadi aku sebenarnya udah dikabarin, tapi lupa ngasih tahu kamu kalau Rania pulangnya bareng Mas Tian." "Oh, pantesan." Kak Mira mengangguk kecil. "Tadi Mas Tian bilang, mereka sekalian makan malam dan nyari bara

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   152

    Kegelapan menyelimuti kamar saat aku perlahan membuka mata. Hanya cahaya temaram dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang menembus tirai kaca raksasa, menerangi sebagian ruangan. Aku mencoba menggerakkan tubuh, tetapi rasa nyeri dan pegal langsung menjalar, membuatku meringis pelan. Dengan susah payah, aku menoleh ke arah nakas. Jam digital di sana menunjukkan pukul sembilan malam. Aku tertidur cukup lama. Tubuhku terasa lengket dan tidak nyaman. Ingatan tentang kejadian sebelum aku terlelap kembali bermunculan, membuat dadaku mendadak sesak. Dua putaran yang menguras seluruh tenagaku, napas Mas Tian yang memburu, serta dekapannya yang begitu erat masih membekas jelas dalam pikiranku. Refleks, aku menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Mataku menyapu sekeliling kamar yang sunyi, mencari sosok yang sejak tadi memenuhi pikiranku. "Sudah bangun?" Suara bariton itu terdengar dari arah jendela. Aku tersentak. Mas Tian berdiri membelakangiku, menatap gemerlap la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status