ANMELDENaduh du du ada yang cari kesempatan nihh
Pukul sepuluh mereka check out dan meninggalkan hotel. Baru beberapa menit berkendara, mobil yang Dante kendarai berbelok ke salah satu supermarket. Pria itu mengajak mereka turun dan belanja beberapa makanan ringan untuk cemilan mereka selama di villa. “Saya di sini aja, Mbak,” kata Niken sebelum Riana dan Dante keluar dari mobil, “mau nyusuin Evan,” lanjutnya lagi dengan suara pelan. “Oke,” sahut Riana keluar bersama dengan Dante. Membawa keranjang di tangannya, Riana memasukkan berbagai jenis makanan ringan dan minuman ke dalamnya. “Masukin ke sini aja, Mas,” kata Riana saat melihat Dante memegang sendiri belanjaannya. Pria lalu itu menjatuhkan belanjaannya ke dalam keranjang yang Niken bawa. Langkah Dante kemudian terhenti saat netranya melihat seseorang yang berada tak jauh darinya. “Aku tunggu di mobil … pinnya masih sama,” ucap Dante buru-buru mengeluarkan kartu berwarna hitam dan memberikannya pada Riana. Dengan tatapan bingung ia menerima kartu itu sembari menatap Dante
Riana terbangun karena merasa suhu kamar terlalu dingin. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Baru saja ingin kembali terpejam, ujung matanya menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk di lantai. Riana menoleh ke arah kiri– tidak ada Niken di sana. “Astaga … kamu ngapain jam segini? Baru jam setengah enam pagi loh,” cecar Riana menggenggam ujung selimut. “Packing, Mbak. Kata Pak Dante kemarin … packing– mau check out.” Niken selesai dengan koper miliknya dan Evan. Ia hanya menyisakan baju ganti untuk nanti pagi. Riana yang tadinya ngantuk, reflek bangun lantas duduk menatap Niken. “Kok check out sih? Bukannya masih mau di sini?” Riana bingung bercampur kesal. Kenapa omongannya pada Niken berbeda dari kemarin. Padahal ia sudah menyusun rencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata hits yang ada di Bali. Tanpa pikir panjang, ia meraih ponsel dan menghubungi Dante. Namun berkali-kali dihubungi, tak ada respon. “Mas Dante ih,” umpat Riana melempar pelan po
Niken semakin heran. Keningnya berkerut menatap Dante. Ia terdiam sejenak– berpikir. Tanggal berapa sekarang saja ia sudah tidak ingat. “Memangnya ini hari ulang tahun saya, Pak?” tanya Niken dengan wajah polos. Dante juga ikutan mengerutkan kening. Tangan kanannya meraih benda pipih berwarna hitam yang diletakkannya di samping gelas. Pria itu lalu menyebutkan tanggal hari ini. “Kok Pak Dante bisa tahu tanggal lahir saya?” tanya Niken menyadari hari ini memang tanggal lahirnya. “Tiup dulu,” kata Dante menunjuk api di pada lilin yang ada di kue itu. Dengan wajah malu-malu Niken mendekatkan wajahnya lalu meniup pelan api lilin itu. Dante lalu mendorong pelan, sendok kecil dari sisi piringnya. “Bapak mau?” tanya Niken cepat meraih sendok itu, lalu menyodorkannya ke arah Dante. Pria itu tertawa kecil. Wajahnya terlihat hangat. Selama mengasuh Evan, baru kali ini ia melihat wajah lain dari Dante. Dari kejauhan Riana melihat mereka berdua dia dalam. Tantenya Evan itu hanya bisa gelen
Restoran sudah mulai sepi saat Evan baru selesai makan. Entah kenapa pagi ini bayi mungil itu begitu lahap makan. Setelah membersihkan mulutnya dengan tisu basah, dengan sigap Dante mengangkat Evan dari kursi tinggi. “Sudah jam segini, Bapak gak telat?” tanya Niken khawatir ayahnya Evan itu terlambat ke acaranya. “Sudah saya bilang, saya antar kalian dulu. Telat itu urusan saya,” ucap Dante melangkah lebih dulu. Niken buru-buru mengejar mereka sebelum jauh. Masuk ke dalam lift, mereka lalu menuju lantai tempat kamar mereka berada. “Acara saya selesai jam empat sore. Nanti saya mau ajak Evan jalan jam lima, jadi tolong kamu siapkan Evan,” kata Dante memberikan Evan pada Niken. Tangan bayi mungil itu terus menggapai Niken yang berdiri di samping Dante. “Iya, Pak.” Begitu keluar dari lift, dari arah berlawanan tampak Riana dan Dea berjalan bersama-sama. Pria itu menatap tajam ke arah Riana lalu berhenti saat jarak mereka sudah hampir dekat. “Baru aja kita mau nyusul,” kata Riana me
Kamar yang ada di hadapannya ini, benar kamar yang Dante pesankan, tapi kenapa ada Dante di dalamnya. “Ini kamar aku, Niken, sama Evan … kenapa Malah Mas Dante ada di sini? Mereka mana?” tanya Riana menelisik ayahnya Evan itu. Dari dalam, Niken menggendong Evan– berdiri tak jauh dari Dante. Dari celah pintu, Riana bisa melihat mereka. Ekspresi wajah adiknya itu berubah seraya berdecak. Ia mengibas tangannya, meminta Dante untuk mundur agar ia bisa masuk. “Kenapa kamu malah pergi sama temen kamu dan ninggalin mereka?” Dante melipat tangan didepan dada– menatap Riana. Dari intonasi suaranya, terdengar jelas nada menyalahkan. Mendengar hal itu Niken jadi merasa tak enak. Sebenarnya ia tidak masalah, kalau Riana mau pergi sama temannya, tanpa mengajak dirinya. Lagi pula ia tidak kenal dengan teman Riana, takut kalau nanti ia malah mengganggu mereka. “Aku cuma ke cafe aja sama Dea, Mas. Niken juga gapapa,” sahut Riana tak terima, menatap Dante dan Niken bergantian. Niken cepat mengang
“Ngapain sih masuk kamar orang sembarangan? Kenapa Mas Dante gak ke kamar Mas sendiri aja?” cecar Riana masih bingung dengan sikap ayahnya Evan itu. “Aku mau ketemu Evan,” sahut Dante datar. “Kan sudah tahu … Niken kan sudah bilang kalau aku sama Evan ada di bawah.” “Aku mau ngecek perlengkapan Evan.” Dante masih santai beralasan. Ucapan yang sama seperti yang Niken katakan tadi. “Kalau gitu, sekarang Mas Dante balik ke kamar aja. Kalau kangen sama Evan. Bawa aja Evan, biar aku sama Niken jalan dulu. Berdua doang.” Riana melipat tangannya di depan dada. Dante tak membantah. Beranjak dari sofa, ia berjalan– mendekap Evan keluar dari kamar itu, tepat saat Niken keluar dari kamar mandi. Ia hanya bisa menatap Evan yang pergi bersama Dante. Ada rasa tak rela, tapi Evan kan anaknya. “Ayuk kita jalan,” ajak Riana. Niken merapikan rambutnya– mengambil dompet dan ponselnya. “Evan biar sama Dante dulu aja,” kata Riana menjawab kala Niken bertanya keberadaan anak susunya itu. Keluar d
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal







