Compartilhar

35. Ragu Bicara

Autor: Lystania
last update Data de publicação: 2026-07-02 19:11:38
Wira kembali nyengir seraya mendekat, membuat Riana agak takut.

“Aku mau dong dikenalin sama dia,” bisik Wira.

Riana mengerlingkan mata menatap Wira. Perasaannya gak enak. Tapi ia juga bingung cara ngomong ke Wira bagaimana.

“Totalnya, empat juta tiga ratus dua puluh ribu. Mau cash atau debit, Mbak?” Suara kasir membuat mereka berdua menoleh.

“Oh iya, Mbak. Sebentar,” kata Riana cepat mendekat ke arah kasir. Membuka tasnya dan mengeluarkan dompet.

“Debit aja, Mbak,” kata Riana memberikan ka
Lystania

Riana yang adiknya aja takut, apalagi Niken... Hmm Dokter Dante emang yaaa

| 3
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk omongin aja Ri. biar Dante ketar ketir. mas mu gak akan ada kemajuan kalo gak ada saingan cinta eaakkk. makasih updatenya kakak syng <3
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    52. Berkirim Pesan

    Niken semakin heran. Keningnya berkerut menatap Dante. Ia terdiam sejenak– berpikir. Tanggal berapa sekarang saja ia sudah tidak ingat. “Memangnya ini hari ulang tahun saya, Pak?” tanya Niken dengan wajah polos. Dante juga ikutan mengerutkan kening. Tangan kanannya meraih benda pipih berwarna hitam yang diletakkannya di samping gelas. Pria itu lalu menyebutkan tanggal hari ini. “Kok Pak Dante bisa tahu tanggal lahir saya?” tanya Niken menyadari hari ini memang tanggal lahirnya. “Tiup dulu,” kata Dante menunjuk api di pada lilin yang ada di kue itu. Dengan wajah malu-malu Niken mendekatkan wajahnya lalu meniup pelan api lilin itu. Dante lalu mendorong pelan, sendok kecil dari sisi piringnya. “Bapak mau?” tanya Niken cepat meraih sendok itu, lalu menyodorkannya ke arah Dante. Pria itu tertawa kecil. Wajahnya terlihat hangat. Selama mengasuh Evan, baru kali ini ia melihat wajah lain dari Dante. Dari kejauhan Riana melihat mereka berdua dia dalam. Tantenya Evan itu hanya bisa gelen

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    51. Sepotong Kue

    Restoran sudah mulai sepi saat Evan baru selesai makan. Entah kenapa pagi ini bayi mungil itu begitu lahap makan. Setelah membersihkan mulutnya dengan tisu basah, dengan sigap Dante mengangkat Evan dari kursi tinggi. “Sudah jam segini, Bapak gak telat?” tanya Niken khawatir ayahnya Evan itu terlambat ke acaranya. “Sudah saya bilang, saya antar kalian dulu. Telat itu urusan saya,” ucap Dante melangkah lebih dulu. Niken buru-buru mengejar mereka sebelum jauh. Masuk ke dalam lift, mereka lalu menuju lantai tempat kamar mereka berada. “Acara saya selesai jam empat sore. Nanti saya mau ajak Evan jalan jam lima, jadi tolong kamu siapkan Evan,” kata Dante memberikan Evan pada Niken. Tangan bayi mungil itu terus menggapai Niken yang berdiri di samping Dante. “Iya, Pak.” Begitu keluar dari lift, dari arah berlawanan tampak Riana dan Dea berjalan bersama-sama. Pria itu menatap tajam ke arah Riana lalu berhenti saat jarak mereka sudah hampir dekat. “Baru aja kita mau nyusul,” kata Riana me

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    50. Sarapan Bersama

    Kamar yang ada di hadapannya ini, benar kamar yang Dante pesankan, tapi kenapa ada Dante di dalamnya. “Ini kamar aku, Niken, sama Evan … kenapa Malah Mas Dante ada di sini? Mereka mana?” tanya Riana menelisik ayahnya Evan itu. Dari dalam, Niken menggendong Evan– berdiri tak jauh dari Dante. Dari celah pintu, Riana bisa melihat mereka. Ekspresi wajah adiknya itu berubah seraya berdecak. Ia mengibas tangannya, meminta Dante untuk mundur agar ia bisa masuk. “Kenapa kamu malah pergi sama temen kamu dan ninggalin mereka?” Dante melipat tangan didepan dada– menatap Riana. Dari intonasi suaranya, terdengar jelas nada menyalahkan. Mendengar hal itu Niken jadi merasa tak enak. Sebenarnya ia tidak masalah, kalau Riana mau pergi sama temannya, tanpa mengajak dirinya. Lagi pula ia tidak kenal dengan teman Riana, takut kalau nanti ia malah mengganggu mereka. “Aku cuma ke cafe aja sama Dea, Mas. Niken juga gapapa,” sahut Riana tak terima, menatap Dante dan Niken bergantian. Niken cepat mengang

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    49. Masih Satu Kamar

    “Ngapain sih masuk kamar orang sembarangan? Kenapa Mas Dante gak ke kamar Mas sendiri aja?” cecar Riana masih bingung dengan sikap ayahnya Evan itu. “Aku mau ketemu Evan,” sahut Dante datar. “Kan sudah tahu … Niken kan sudah bilang kalau aku sama Evan ada di bawah.” “Aku mau ngecek perlengkapan Evan.” Dante masih santai beralasan. Ucapan yang sama seperti yang Niken katakan tadi. “Kalau gitu, sekarang Mas Dante balik ke kamar aja. Kalau kangen sama Evan. Bawa aja Evan, biar aku sama Niken jalan dulu. Berdua doang.” Riana melipat tangannya di depan dada. Dante tak membantah. Beranjak dari sofa, ia berjalan– mendekap Evan keluar dari kamar itu, tepat saat Niken keluar dari kamar mandi. Ia hanya bisa menatap Evan yang pergi bersama Dante. Ada rasa tak rela, tapi Evan kan anaknya. “Ayuk kita jalan,” ajak Riana. Niken merapikan rambutnya– mengambil dompet dan ponselnya. “Evan biar sama Dante dulu aja,” kata Riana menjawab kala Niken bertanya keberadaan anak susunya itu. Keluar d

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    48. Masuk Kamar

    Setelah perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya tiba juga di hotel. Jalanan cukup padat, hingga mereka perlu lebih banyak waktu untuk sampai di hotel. Dibantu salah satu petugas hotel, mereka di antarkan ke meja resepsionis. “Atas nama Ibu Riana … silahkan kuncinya,” kata seorang wanita berpakaian warna hitam ramah. Lantas mereka bertiga di antar hingga depan kamar oleh petugas hotel yang tadi menyambut mereka saat datang. “Makasih ya,” kata Riana memberikan tip pada petugas hotel itu. Sebelum masuk ke dalam kamar, Niken mengamati keadaan sekitar. Ia dibuat terpukau begitu netranya melihat isi kamar yang akan mereka tempati beberapa hari ke depan. Luas dengan ranjang besar, serta ada balkon. Tak lupa ada mini kitchen di sana. “Aku capek banget,” kata Riana melepas sweater yang sedari tadi ia kenakan, lantas membaringkan diri di atas kasur. Ia tersenyum memandang Niken yang jelas terlihat kagum. “Turunin aja Evan. Kamu juga pasti capek kan.” Niken mengulum senyum. Melirik k

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    47. Terbang

    Setelah Evan tertidur pulas, Riana membantu Niken untuk berkemas. Karena mereka membawa bayi, sudah jelas barang-barangnya lebih banyak dari pada barang Niken dan Riana. Untuk pakaian ganti, popok sekali pakai, tisu basah, mainan, dan yang lain, satu koper ukuran sedang sudah terisi penuh. Sebenernya Niken cukup bersemangat tapi kadang terlintas bagaimana nanti repotnya di sana. “Tenang aja, kan disana ada aku, ada Mas Dante. Kita bakal jaga Evan sama-sama, biar bisa nikmati Bali,” kata Riana menenangkan Niken. Terlihat jelas dari wajahnya. “Iya, Mbak.” Niken tersenyum kecil. Setelah punya Evan beres, Riana mengambil satu koper kecil lain yang ada di atas lemari Dante, dan memberikannya pada Riana. “Gak usah, Mbak. Saya beresin sendiri aja,” sahut Niken melirik ke arah Evan yang telah tertidur di dalam box, saat Riana menawan diri untuk membantu Niken packing. “Oke. Aku tinggal ke atas ya … kalau mau, kamu packing aja sekarang, mumpung Evan tidur. Gak usah bawa baju banyak, nanti

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status