Hari itu akhirnya tiba. Hari yang Dante tunggu, begitu juga Niken. Ada perasaan yang aneh yang mereka berdua rasakan saat melihat satu sama lain. Niken baru saja selesai dirias saat Dante nyelonong masuk ke kamar utama. “Aduh … Mas Dante diluar aja kenapa sih?” protes Riana mendorong Dante keluar dari kamar utama, pasalnya Niken akan berganti pakaian. Pria itu terpaksa berjalan mundur keluar dari kamar. Ia masih berdiri di sana– di depan pintu yang sudah tertutup. Hingga Akbar datang menepuk pundaknya. “Selamat ya,” ucap Akbar sumringah. “Belum, sebentar lagi,” sahut Dante ketus. “Dikurang-kurangin tuh, sifat kayak gitu,” celetuk Akbar kemudian berlalu dari hadapan calon pengantin itu. Setelah melewati banyak pertimbangan, ia memilih untuk mengadakan acara di rumah. Halamannya cukup luas untuk menggelar acara pernikahan yang private, meski tamu undangannya tidak banyak. Dari rumah sakit hanya Akbar dan istrinya, serta Bima. Itu pun karena Riana yang mengundangnya bukan Dante. Pen
Read more