공유

76. Bau Pengantin Baru

작가: Lystania
last update 게시일: 2026-08-26 21:13:00
“Kok masih sepi, Mbok?” tanya Riana kala Mbok Narti menyajikan makanan di meja makan. Pagi ini Riana bangun lebih pagi karena akan mengikuti seminar di salah satu hotel.

“Masih pada tidur kayaknya, Mbak,” sahut Mbok Narti balik badan dan kembali ke dapur.

Riana lantas melirik jam tangannya, kemudian meraih ponsel.

[Bima]

[Kamu jadi jemput aku kan?]

Sambil menunggu balasan dari Bima, Riana menikmati nasi goreng bikinan Mbok Narti.

[Bima Calling]

Dengan mulut yang masih penuh nasi, Riana me
Lystania

apa ituuuu night first? Dante jadi emosi kann

| 14
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk boro2 night first, lah Niken aja gak ingat kali dia udah nikah Ama Dante. wkwkwkwk. makanya ubah sikap pak, biar istrinya gak salah paham
댓글 더 보기

최신 챕터

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    107. Dirawat

    Duduk di kursi belakang bersama Riana, Niken terus meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Beruntung saat itu jalannya tidak macet hingga Azka bisa dengan mudah dan cepat menuju rumah sakit. Sebenarnya klinik Riana letaknya lebih dekat dari pada rumah sakit, tapi ia tidak mau ambil resiko. Ia yakin pasti Niken tidak menyadari kalau sekarang ia sedang hamil dan terancam kehilangan janinnya. "Azka, cepet dong. Ini Mbak Niken sudah kesakitan," pinta Riana memukul pelan kursi pengemudi. "Ini sudah ngebut banget, Mbak," sahut Azka. Melirik melalui kaca spion, ia jadi ikutan gugup serta khawatir saat melihat ekspresi Niken yang pucat menahan sakit. Hampir lupa menginjak pedal rem, mobil yang Azka kendarai akhirnya sampai juga di rumah sakit. Bergegas ia keluar dari mobil dan menuju ruang IGD minta perawat membawakan brankar keluar. Tidak sampai dua menit, Azka keluar bersama seorang perawat. Dengan dibantu Riana, Niken di baringkan di atas brankar kemudian di bawa masuk ke dalam

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    106. Nyeri Hebat

    Sekitar pukul sembilan, Niken baru saja selesai mandi. Entah kenapa beberapa hari ini ia bangun selalu siang. Namun yang bikin hatinya senang, selalu ada Dante setiap ia membuka mata. “Jam berapa ke rumah sakit, Mas?” tanya Niken keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi badannya. Sekarang ia sudah mulai terbiasa berganti pakaian saat ada suaminya. Setelah kejadian di hotel itu, rasa percaya diri terhadap tubuhnya semakin tumbuh. Dante tak menjawab. Reflek Niken menoleh saat mendengar suara pintu yang terkunci. Keningnya berkerut saat Dante memamerkan deretan giginya pada Niken, sesaat setelah mengunci pintu kamar. “Kenapa di kunci, Mas?” tanya Niken kemudian mengalihkan pandangannya ke lemari pakaian. Dante semakin mendekat, hingga berakhir berdiri di belakang Niken lantas memeluk istrinya itu. “Kamu sudah rapi lo, Mas. Saya masih … basah,” kata Niken melirik suaminya. Beberapa bagian tubuhnya memang masih basah. “Hari ini jadwal saya padat. Mungkin besok ba

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    105. Sedikit Nyeri

    [Transfer Masuk] [Rp 1xx.xxx.xxx] Notifikasi yang masuk di layar ponsel Niken. Sempat bingung, tapi ia yakin itu adalah kiriman uang dari suaminya. Bergegas ia menghubungi Dante dan mengucapkan terima kasih. "Iya, Sayang," sahut Dante merespon panggilan dari istrinya. Beberapa detik kemudian panggilan itu berubah menjadi panggilan video. Tampak Dante tersenyum lebar menatap Niken, kemudian mencari Evan. "Sini, Evan sayang. Ada Papa," ucap Niken menunjukkan layar ponselnya. Dengan langkah yang belum terlalu seimbang, Evan berlari ke arah Niken yang berada di ujung sofa. Evan mengambil ponsel dari tangan ibunya dan bicara dengan bahasa bayi pada Dante. Sesekali Niken menciumi anaknya yang begitu menggemaskan. Hingga mau tak mau Dante mengakhiri panggilan video itu karena jadwal visit pasien yang sudah mendekati jamnya. "Saya mungkin pulang agak malam, Sayang," ucap Dante memberitahu Niken sebelum mematikan panggilannya. "Gapapa, Mas. Dah," sahut Niken mengumbar senyum. Setelah se

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    104. Kangen Evan

    Berada di dalam selimut putih yang tebal itu, netra Niken terusik karena cahaya matahari yang masuk dari tirai gorden yang Dante buka. Kelopak matanya masih terasa berat untuk terbuka, hingga ia memilih untuk berbalik membelakangi jendela. Dante yang merasakan ada pergerakan dari atas kasur, reflek berbalik. Niatnya yang ingin ke kamar mandi, ia tunda. Pria itu lebih memilih untuk menyapa istrinya terlebih dahulu. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Dante ikut masuk ke dalam selimut lantas menarik istrinya lebih dekat. Niken mengulas senyum sembari berbalik– menghadap suaminya dan membalas sapaan Dante barusan. “Apa sih, Mas? Lihatnya kok kaya gitu?” tanya Niken dengan nada menyelidik. Pasalnya tatapan Ayahnya Evan membuat bulu kuduknya merinding. Dante menyeringai, menambah rasa takut Niken. “Cukup ya, Mas,” kata Niken penuh penekanan. Raut wajahnya serius dengan tangan yang menyilang di depan dada. Bagaimana tidak, Niken baru benar-benar tertidur nyenyak menjelang pukul tiga pagi. Seka

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    103. Penuh Gelora

    Menempelkan kartu itu di dekat gagang pintu, perlahan Dante memutar dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Niken dibuat takjub saat melihat isi kamar tempat mereka akan menginap. Kamar yang luas dengan tempat peraduan berukuran sangat besar. Tanpa sadar kaki Niken melangkah maju lebih dulu– masuk ke dalam memperhatikan setiap furniture yang ada di dalam. Langkahnya semakin dalam hingga ia sampai di depan gorden besar berwarna gold. “Keren banget sih,” gumam Niken saat menyingkap gorden di depannya dan melihat langsung pemandangan ibukota dari ketinggian. Dari arah belakang, Dante perlahan berjalan mendekat dan melingkari pinggang istrinya. “M–mas,” ucap Niken terbata-bata. Dante hanya berdehem sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Rasa bahagia menyelimuti hati pria itu saat ini. Kebahagiaan yang sempat hilang karena pengkhianatan Agatha. Meski begitu ia masih beruntung bisa dengan cepat menemukan kebahagiaan lain bersama Niken. "Makasih ya, Sayang," gumam Dante me

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    102. Masih Malam Minggu

    Mobil yang Dante kemudikan memasuki halaman parkir salah satu hotel berbintang yang ada di ibukota. Dari tempatnya duduk, Netra Niken melirik ke kiri kanan– memperhatikan sekitar. Banyak mobil mewah yang terparkir rapi di sana. Ia jadi takut sendiri dengan omongan Dante tadi. “Kalau gak pulang, lalu mau ngapain disini,” pikirannya berkecamuk. Setelah memarkirkan mobilnya, Dante mengajak Niken keluar dari parkiran. Mereka berjalan kaki ke salah satu mall yang berada sangat dekat dengan hotel tempat mereka parkir tadi. “Kenapa gak parkir di mallnya langsung sih, Mas?” tanya Niken menggandeng lengan Dante karena jalanan saat itu cukup padat. Pria itu hanya tertawa kecil– tak menjawab. Setibanya di mall, mereka berjalan menyusuri sederetan gerai dengan brand ternama. Naik ke lantai dua, langkah Dante berbelok ke salah satu gerai pakaian. Otomatis Niken mengikuti kemana suaminya melangkah. “Pilih …” kata Dante dengan dagu yang menunjukkan ke arah pakaian yang terdisplay. “Baj

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    7. Ditinggal Pergi

    Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    2. Sudah Tak Haus Lagi

    Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    1. Periksa

    “Permisi, Bu,” suara seorang wanita muda terdengar saat pintu terbuka. Ia berjalan masuk menuju tempat duduk yang telah disediakan.Tepat di depannya tersenyum seorang wanita berseragam biru langit.“Selamat siang. Saya Bidan Riana,” ucap Riana memperkenalkan diri lantas membaca sekilas catatan yan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status