เข้าสู่ระบบyuk siap-siap kondangan besok,
“Kok masih sepi, Mbok?” tanya Riana kala Mbok Narti menyajikan makanan di meja makan. Pagi ini Riana bangun lebih pagi karena akan mengikuti seminar di salah satu hotel.“Masih pada tidur kayaknya, Mbak,” sahut Mbok Narti balik badan dan kembali ke dapur.Riana lantas melirik jam tangannya, kemudian meraih ponsel.[Bima][Kamu jadi jemput aku kan?]Sambil menunggu balasan dari Bima, Riana menikmati nasi goreng bikinan Mbok Narti.[Bima Calling]Dengan mulut yang masih penuh nasi, Riana mengangkat panggilan itu.“Ri … Riana,” panggil Bima kala panggilannya terhubung tapi tak ada suara.Riana meraih segelas air.“Iya…” sahut Riana.“Kok gak ada suaranya tadi? Ada Dokter Dante ya?” tebak Bima dengan satu tangan menyetir.“Mas Dante masih tidur, aku tadi lagi makan. Kamu bisa jemput aku kan?”“Bisa dong,” sahut Bima semangat.meniTak sampai lima menit ponsel Riana berdering lagi. Panggilan dari Bima yang mengatakan kalau ia sudah ada di depan rumah. Buru-buru Riana memanggil Mbok Narti, m
Hari itu akhirnya tiba. Hari yang Dante tunggu, begitu juga Niken. Ada perasaan yang aneh yang mereka berdua rasakan saat melihat satu sama lain. Niken baru saja selesai dirias saat Dante nyelonong masuk ke kamar utama. “Aduh … Mas Dante diluar aja kenapa sih?” protes Riana mendorong Dante keluar dari kamar utama, pasalnya Niken akan berganti pakaian. Pria itu terpaksa berjalan mundur keluar dari kamar. Ia masih berdiri di sana– di depan pintu yang sudah tertutup. Hingga Akbar datang menepuk pundaknya. “Selamat ya,” ucap Akbar sumringah. “Belum, sebentar lagi,” sahut Dante ketus. “Dikurang-kurangin tuh, sifat kayak gitu,” celetuk Akbar kemudian berlalu dari hadapan calon pengantin itu. Setelah melewati banyak pertimbangan, ia memilih untuk mengadakan acara di rumah. Halamannya cukup luas untuk menggelar acara pernikahan yang private, meski tamu undangannya tidak banyak. Dari rumah sakit hanya Akbar dan istrinya, serta Bima. Itu pun karena Riana yang mengundangnya bukan Dante. Pen
Tanpa jeda dan pikir panjang, Dante mengangguk pasti. Mengiyakan pertanyaan Niken tadi. “Bukannya kamu sudah lihat sendiri, waktu saya dirawat di rumah sakit kemarin,” kata Dante menelisik. “Saya cuma lihat depannya doang, Pak. Bapak keburu bangun, saya belum sempat lihat isinya,” sahut Niken polos. Dante tertawa kecil. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan membuka history chatnya dengan Azka. Ia lalu menunjukan layar ponselnya ke arah Niken. Dokumen– akta cerai Dante yang dikeluarkan oleh pengadilan agama. “Baca,” kata Dante menyodorkan ponselnya. Memandang pria di depannya beberapa detik, tangannya lalu terulur menerima ponsel itu. Netranya fokus membaca setiap tulisan yang ada di situ. Nama Dante dan nama ibu kandung Evan. “Sudah resmi cerai tapi kenapa dia bilang Pak Dante suaminya ya?” gumam Niken dalam diam. Ia lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Meski keraguan menyelimuti hatinya, tapi kejadian kemarin tidak mungkin ia simpan sendiri. Ia kemudian memutuskan u
Karena Riana ada pasien di klinik yang tidak bisa ditinggal, mau tak mau Evan ikut dengan Niken dan Dante. Awalnya Dante ingin menitipkan Evan saat ia dan Niken pergi keluar, tapi batal. Niken sendiri tak masalah malah senang. “Memang mau kemana, Pak?” tanya Niken saat mereka baru keluar dari halaman rumah. “Ambil cincin sama baju kamu,” kata Dante fokus dengan jalanan di depannya. Ia terdiam. Baju yang bagaimana yang akan ia kenakan nanti. Teringat saat ia menikah dulu— pernikahan sederhana dan ia hanya mengenakan kemeja putih. Senyum tersungging dari bibirnya mengingat hal itu. “Kenapa kamu?” tanya Dante yang ternyata diam-diam memperhatikan gerak gerik Ibu susu anaknya itu. “Gapapa, Pak,” sahut Niken singkat kemudian sibuk dengan Evan yang menunjuk ke arah luar. Mobil yang mereka kendarai kemudian melambat lalu masuk ke salah satu butik. Dante lalu mengajak mereka turun dan masuk ke dalam. Mereka disambut oleh seorang pria paruh baya yang kemudian mempersilahkan mereka untuk d
“Kok sudah pakai cincin?” Riana duduk di seberang Niken yang tengah menyuapi Evan makan. Tak lama Dante datang dan duduk tepat di samping Niken. Tak seperti biasanya. Riana lalu beralih menatap Dante, karena Niken tak bersuara. “Kok Niken sudah pakai cincin? Memangnya Mas Dante sama Niken sudah nikah?” cecar Riana tak henti. Niken semakin malu. Ia menutup rapat mulutnya dan fokus menyuapi Evan. “Ya belum lah. Emang nikah bisa secepat itu? Cincin itu cuma buat ngukur jari tangan dia,” sahut Dante kemudian meraih sepotong roti. Niken memundurkan sedikit kursinya dan membawa mangkuk makan Evan yang telah kosong ke dapur. Ia meninggalkan beberapa finger food untuk Evan agar bayi itu tetap tenang. Ia sengaja berada lebih lama di dapur, berharap Dante cepat pergi dari ruang makan. Namun saat ia kembali ke ruang makan, betapa terkejutnya ia saat mendapati Dante sendirian di sana. Sepertinya Evan sudah dibawa oleh Riana ke ruang depan. Niken tak bisa kabur, ia sendiri sudah dari tadi m
Matanya tak berkedip menatap Dante. Ia mencoba mengingat apa yang barusan pria itu katakan. Takut salah mendengar. “Bapak gak salah ngomong? Di kontrak saya kan cuma jadi ibu susu buat Evan dua tahun. Kenapa tiba-tiba saya harus nikah sama Bapak?” Niken mencoba protes. “Bukannya kamu tahu … kamu dilarang membantah,” tegas Dante duduk semakin dekat dengan Niken. Tatapan matanya yang tadinya tajam perlahan berubah menjadi sendu. Pria itu hendak meraih tangan Niken tapi cepat ia jauhkan. “Saya hanya ingin menjaga Evan agar tetap aman disini, tanpa ada yang bisa ganggu dia. Karena saya tahu, gak ada orang lain yang tulus sayang sama Evan selain kamu,” kata Dante yang membuat Niken merasa ada yang aneh dalam perutnya– seperti ada yang terbang di dalamnya. Ia menatap Dante– bingung harus menjawab apa. Hal seperti ini sama sekali tidak pernah dibayangkan olehnya. Beberapa detik kemudian, Niken menggeleng. “Jadi kamu gak mau nikah sama saya? Kamu menolak saya?” Niken menelan salivanya,
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal







