LOGINNah lo, ini kira kira Pak Dokter mau Bobo di mana yaaa
Obrolan mereka terputus karena rengekan Evan. Bayi itu mengucek-ngucek matanya, jelas ia sudah ngantuk. Mereka menyudahi obrolan lantas pergi ke kamar masing-masing. Membawa masuk Evan ke kamar, Niken langsung naik ke atas tempat tidur. Membaringkan diri di samping Evan lantas menyusulnya. Senyum selalu terukir di wajahnya saat berada sangat dekat dengan anak laki-laki itu. Satu tangannya mengelus pipi Evan. “Kok kayak ada orang?” gumamnya saat mendengar suara decit pintu kamar mandi. Ia menoleh sedikit ke arah belakang dan melihat Dante tengah berpakaian. “Pak Dante kapan masuk?” tanyanya masih dalam posisi menyusui Evan. “Sudah dari tadi– kalian asyik ngobrol,” sahut Dante. Niken menoleh kembali hendak memastikan posisi Dante. Jangan sampai pria itu mendekat saat ia sedang melakukan tugasnya. “Pak Dante gak mau makan dulu?” tanya Niken berharap pria itu menjawab iya dan pergi keluar. Nyatanya Dante malah menggeleng– berjalan ke arah kasur. Untung Evan sudah tidur hingga ia bisa
Dante mematikan alarm yang diaturnya di pukul setengah delapan pagi. Rasanya malas beranjak dari kasur setelah beberapa hari santai di rumah, jauh dari hiruk pikuk rumah sakit. Pria itu masih berada di balik selimut, saat kedua tangannya terbentang– meraba sisi-sisinya yang kosong. Helaan nafasnya terasa sangat panjang. Matanya kembali terpejam teringat saat ia mengucap janji pernikahan beberapa hari lalu.“Haha.” Pria itu tertawa kecil, menertawakan isi pikirannya yang berkelana sendirian.Kakinya menyibak lalu melemparkan selimut biru itu ke lantai. Bergegas ia masuk kamar mandi dan mandi. Air dingin yang mengguyur seluruh badannya, cepat membuat pikirannya kembali ke mode normal.Keluar dari kamar mandi, pria itu membuka lemari pakaian.“Ck … baju aku kan di kamar sebelah,” gumamnya tersadar kalau ini bukan kamar utama.Mau tak mau ia harus ke kamar utama untuk mengambil pakaiannya. Kamar utama dalam keadaan kosong saat ia masuk, sepertinya Evan dan Niken sedang sarapan atau mungkin
“Loh, Mas Dante masih cuti?” tanya Riana kaget saat melihat Dante duduk di teras rumah– pagi-pagi sekali. Dante menoleh— memindai Riana dari atas hingga bawah. Tampak adik perempuannya itu sudah rapi, tak seperti biasanya. Biasanya kalau hari biasa, Riana agak siang pergi ke klinik. “Ada pasien darurat di klinik?” tanya Dante penuh selidik. Riana tak menjawab, tapi ponsel yang ia pegang tiba-tiba saja berdering. Ekspresi wajahnya berubah gugup. “Kamu di jemput?” Dante menatap jauh ke arah luar pagar. Sebuah mobil hitam menunggu di luar sana. Tatapan mata Dante semakin tajam. “Masuk dulu,” ucap Riana menampilkan ponsel di telinga kirinya. Mau tak mau Bima menuruti apa kata Riana di telepon tadi. Dari dalam mobil terlihat jelas wajah Dante yang sangar. “Bima … Bima … sudah resiko kamu,” gumamnya mengatur nafas kemudian turun dari mobil. Pria itu memasang senyum berjalan menghampiri Riana dan Dante, lantas menyapa. “Pagi, Dok,” sapa Bima mengulurkan tangan. Dante tak langsung
Di ruang kerjanya, Azka dan Dante terlihat serius bicara sambil sesekali menunjuk layar ponsel. Entah sengaja atau memang kebiasaan, pintu ruang kerja Dante selalu terbuka sedikit saat mereka ada di dalam. Hal itu membuat Evan yang sedang merangkak bisa ke dalam sana. Dengan badannya ia mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar lalu masuk dan duduk di lantai. Kepalanya terangkat, mengamati ruangan. “Papa,” ucap Evan kemudian tertawa renyah. Bayi itu lalu kembali ke posisi merangkak, hendak mendekat ke arah Dante. “Biar aja,” cegah Dante saat Azka ingin mengangkat Evan. Senyum Dante begitu lebar saat Evan sudah berada dekat kakinya. Pria itu membungkuk dan mengangkat Evan– menaruhnya di pangkuan. “Hebat banget anak Papa,” pujinya mencium pipi Evan. “Sampai kapan cutinya, Bos?” “Masih belum tahu,” sahut Dante memberikan kertas dan pulpen pada Evan. Beberapa detik Azka memperhatikan Dante yang terlihat bahagia duduk bersama Evan. Meski sikapnya kerap dingin dengan orang lain, tapi
“Kok masih sepi, Mbok?” tanya Riana kala Mbok Narti menyajikan makanan di meja makan. Pagi ini Riana bangun lebih pagi karena akan mengikuti seminar di salah satu hotel. “Masih pada tidur kayaknya, Mbak,” sahut Mbok Narti balik badan dan kembali ke dapur. Riana lantas melirik jam tangannya, kemudian meraih ponsel. [Bima] [Kamu jadi jemput aku kan?] Sambil menunggu balasan dari Bima, Riana menikmati nasi goreng bikinan Mbok Narti. [Bima Calling] Dengan mulut yang masih penuh nasi, Riana mengangkat panggilan itu. “Ri … Riana,” panggil Bima kala panggilannya terhubung tapi tak ada suara. Riana meraih segelas air. “Iya…” sahut Riana. “Kok gak ada suaranya tadi? Ada Dokter Dante ya?” tebak Bima dengan satu tangan menyetir. “Mas Dante masih tidur, aku tadi lagi makan. Kamu bisa jemput aku kan?” “Bisa dong,” sahut Bima semangat.meni Tak sampai lima menit ponsel Riana berdering lagi. Panggilan dari Bima yang mengatakan kalau ia sudah ada di depan rumah. Buru-buru Riana memanggil
Hari itu akhirnya tiba. Hari yang Dante tunggu, begitu juga Niken. Ada perasaan yang aneh yang mereka berdua rasakan saat melihat satu sama lain. Niken baru saja selesai dirias saat Dante nyelonong masuk ke kamar utama. “Aduh … Mas Dante diluar aja kenapa sih?” protes Riana mendorong Dante keluar dari kamar utama, pasalnya Niken akan berganti pakaian. Pria itu terpaksa berjalan mundur keluar dari kamar. Ia masih berdiri di sana– di depan pintu yang sudah tertutup. Hingga Akbar datang menepuk pundaknya. “Selamat ya,” ucap Akbar sumringah. “Belum, sebentar lagi,” sahut Dante ketus. “Dikurang-kurangin tuh, sifat kayak gitu,” celetuk Akbar kemudian berlalu dari hadapan calon pengantin itu. Setelah melewati banyak pertimbangan, ia memilih untuk mengadakan acara di rumah. Halamannya cukup luas untuk menggelar acara pernikahan yang private, meski tamu undangannya tidak banyak. Dari rumah sakit hanya Akbar dan istrinya, serta Bima. Itu pun karena Riana yang mengundangnya bukan Dante. Pen
Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma
“Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal
Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai
Ditanya serius oleh Riana, Niken tak langsung menjawab. Tawaran yang datang padanya begitu aneh dan tiba-tiba.“Jadi kamu mau atau enggak?” tanya Riana lagi membuat Niken tersentak.Niken masih diam.“Kamu bisa ikut aku sebentar?”Niken tak bersuara tapi ia mengikuti kemana Riana melangkah. Setiban







