LOGINPagi itu, ketika Yusallia membuka mata, hal pertama yang ia sadari bukan cahaya yang masuk dari sela tirai atau suara pendingin ruangan yang berdengung halus. Yang pertama ia sadari justru kenyataan bahwa ini adalah pagi pertamanya sebagai istri Rionegro setelah hari pernikahan mereka benar-benar lewat.
Yusallia berbaring beberapa detik lebih lama, menatap langit-langit kamar yang sudah mulai terasa familiar. Tubuhnya masih menyimpan lelah dari hari sebelumnya, tetapi pikirannya terlSetelah pemeriksaan selesai, Yusallia duduk di kursi dengan gerakan pelan. Rionegro membantunya memakai cardigan, masih dengan wajah yang seperti belum sepenuhnya kembali dari keterkejutan.Dokter memberikan hasil cetak USG kepada mereka.“Ini saya cetakkan dua gambar. Nanti bisa disimpan.”Yusallia menerima lembar itu dengan tangan gemetar.Ia menatap dua gambar kecil berwarna hitam putih itu.Sulit dipahami oleh mata orang awam.Namun baginya, gambar itu terasa seperti dunia baru.“Ini mereka?” bisiknya.Dokter mengangguk. “Iya. Ini bayi pertama, dan ini bayi kedua.”Rionegro menatap gambar itu.Lama.Terlalu lama.Yusallia menoleh padanya. “Kamu masih hidup?”Rionegro berkedip. “Iya.”“Kamu diam banget.”“Aku sedang berpikir.”“Jangan terlalu banyak berpikir.”“Sulit.”“Apa yang kamu pikirkan?”Rionegro menatap
Dokter kandungan mereka menyambut dengan senyum ramah ketika mereka masuk ke ruang pemeriksaan.“Selamat pagi, Ibu Yusallia. Pak Rionegro.”“Pagi, Dok,” jawab Yusallia.Rionegro mengangguk sopan. “Pagi, Dok.”Dokter membuka catatan kontrol sebelumnya. “Hari ini usia kandungannya sudah masuk empat bulan, ya. Bagaimana keluhannya?”“Sudah lebih baik, Dok,” jawab Yusallia. “Kadang masih cepat capek, tapi tidak separah sebelumnya.”“Pusing?”“Kadang sedikit kalau berdiri terlalu lama.”Rionegro langsung menambahkan, “Mualnya berkurang. Nafsu makan lebih baik, tapi porsinya masih kecil. Tidurnya lebih teratur, walaupun beberapa kali masih terbangun tengah malam.”Yusallia menoleh pelan. “Rion.”Dokter tertawa kecil. “Saya selalu terbantu dengan laporan Pak Rionegro.”Rionegro terlihat tenang. “Saya mencatat beberapa hal.”Yusallia menatap dokter. “Jangan dipuji, Dok. Nanti dia maki
Pagi itu, Rionegro sudah siap jauh lebih awal dari jadwal kontrol kandungan Yusallia.Terlalu awal.Bahkan ketika Yusallia baru keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan cardigan lembut yang belum terkancing sempurna, Rionegro sudah berdiri di ruang tengah dengan kemeja rapi, tas kecil di tangan, dan map kontrol kandungan yang sepertinya sudah ia buka lebih dari tiga kali sejak subuh.Yusallia berhenti di ambang pintu kamar.Ia menatap Rionegro.Lalu menatap jam dinding.Lalu kembali menatap Rionegro.“Rion.”“Hm?”“Kontrolnya jam sepuluh.”“Iya.”“Sekarang baru jam delapan lewat lima belas.”“Aku tahu.”Yusallia mengernyit pelan. “Kamu mau kita berangkat sekarang?”“Tidak sekarang.”“Bagus.”“Lima belas menit lagi.”Yusallia memejamkan mata sebentar.“Rionegro.”Rionegro menoleh penuh. “Apa
Beberapa hari berikutnya berjalan dengan irama yang hampir sama. Pagi dengan sarapan yang sering kali terlalu diawasi. Siang dengan Rionegro bekerja dari ruang tengah sambil terus memperhatikan Yusallia. Sore dengan jalan pelan di dalam apartemen atau balkon kecil yang menghadap kota. Malam dengan buku bayi, obrolan pendek, dan rasa lelah yang tidak lagi terasa sendirian. Kadang Yusallia duduk di sofa sambil melihat Rionegro mengajar kelas daring dari meja kerja. Ia mendengarnya menjelaskan materi dengan suara tenang, profesional, dan sangat berbeda dari cara Rionegro berbicara padanya. Setelah kelas selesai, Yusallia menatapnya sambil tersenyum. “Kamu kalau jadi dosen serius banget.” Rionegro menutup laptop. “Memang harus serius.” “Mahasiswa kamu takut nggak?” “Kenapa harus takut?” “Karena muka kamu.” Rio
Hari kontrol pertama setelah pulang dari rumah sakit menjadi salah satu momen yang cukup membuat Yusallia ingin tertawa sekaligus menangis. Rionegro sudah siap lebih awal dari jadwal. Ia menyiapkan semua berkas, membawa botol air, camilan ringan, obat cadangan, dan jaket tambahan. Yusallia berdiri di depan pintu kamar, menatap tas kecil yang sudah penuh. “Kita mau kontrol atau pindah rumah?” Rionegro menutup ritsleting tas. “Untuk berjaga-jaga.” “Itu lagi.” “Kalau kamu lapar di jalan?” “Kita bisa beli.” “Belum tentu aman.” “Kalau aku haus?” “Ada air.” “Kalau aku bosan?” Rionegro diam sebentar, lalu mengambil buku kecil dari meja. Yusallia terdiam. “Kamu juga siapin buku?” “
Pagi-pagi, Rionegro akan bangun lebih dulu. Ia membuat sarapan sederhana, meskipun lebih sering hanya menyiapkan makanan yang sudah dikirim mama Yusallia atau pesanan khusus yang aman untuk kehamilan. Setelah itu, ia membangunkan Yusallia dengan suara pelan, bukan dengan terburu-buru.“Yusa.”“Hm?”“Bangun sebentar. Makan dulu.”Yusallia sering membuka mata dengan malas. “Lima menit.”“Kamu bilang lima menit kemarin, lalu tidur lagi tiga puluh menit.”“Itu karena aku masih ngantuk.”“Sekarang juga.”“Berarti alasannya sah.”Rionegro duduk di sisi ranjang. “Kalau kamu makan dulu, setelah itu boleh tidur lagi.”Yusallia membuka satu mata. “Janji?”“Iya.”“Jangan nanti kamu suruh jalan pagi.”“Jalan paginya setelah kamu benar-benar bangun.”“Rion.”“Lima menit jalan pelan.”Yusallia menarik selimut sampai dagu. “Kamu berubah jadi pelatih keseha
Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be
Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang bel
Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir ja
Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le







