Ariyan mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban saat taksi yang membawa mereka berhenti tepat di depan lobi sebuah apartemen. Sebenarnya, ketegangan ini sudah dimulai sejak mereka masih di Singapura. Aira terus merajuk. Perempuan itu menuduh Ariyan lebih mementingkan Zivanya ketimbang waktu berkualitas mereka. Sepanjang penerbangan pun, Aira hanya memberikan jawaban satu kata, atau sengaja membuang muka ke arah jendela pesawat. "Ayo, aku antar sampai atas," ujar Ariyan dengan nada datar, berusaha meredam gejolak emosinya sendiri. Mereka naik ke lantai 12 dalam diam. Saat tanpa sengaja Ariyan melirik, ia menemukan wajah Aira yang semakin cemberut. Begitu sampai di depan unit 12B, Ariyan membantu membukakan pintu dan meletakkan koper Aira di ruang tamu. Ia tidak berniat melepas sepatunya. "Istirahat ya, Ra. Aku harus pulang sekarang,” ujar Ariyan singkat. Tangannya sudah memegang gagang pintu, bersiap untuk pergi. "Pulang?" Aira langsung meledak. Wajahnya yang pucat kar
Terakhir Diperbarui : 2026-05-02 Baca selengkapnya