MasukPerempuan di hadapan Zelena itu meneguk pelan-pelan air mineral yang disuguhkan padanya.Beberapa menit yang lalu Zelena membawanya ke cafe di sebelah supermarket demi mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.“Sekarang bisa cerita ada apa, ke mana kamu selama ini dan kenapa muka kamu kayak babak belur begini?”Aira mengusap air mata dengan punggung tangan kemudian menyusut hidung. “Mama pasti marah kalau aku cerita,” jawabnya lirih.“Saya nggak ada waktu buat tebak-tebakan.” Zelena masih tidak ingin menyebut dirinya Mama setelah kejadian yang memporak-porandakan hatinya dulu. "Kamu tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun menghilang, dan sekarang muka kamu bonyok begini. Cerita yang jujur. Siapa yang bikin kamu kayak gini?"Aira menunduk dalam-dalam, meremas botol air mineral di pangkuannya hingga plastiknya berkerit pelan. Ia membiarkan beberapa detik keheningan sebelum akhirnya memberanikan diri mendongak, menatap Zelena dengan mata basah. "Ini perbuatan anak Mama.”Zelena tersentak
“Bi, yoghurt udah habis ya?” Dengan mata menelusuri isi kulkas, Zelena bertanya pada asisten rumah tangganya. Bi Oca yang sedang menyapu lantai dapur langsung menghentikan kegiatannya dan menghampiri Zelena. "Iya, Bu. Yang rasa strawberry habis kemarin malam diminum Mas Ari. Kalau yang plain udah habis dari kemarin lusa. Stok buah segar sama susu uht juga udah tipis banget buat sarapan besok, Bu." Zelena menghela napas pelan seraya melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan pagi. Mentari pagi yang cerah membiaskan sinar hangat melewati jendela dapur. Karena stok kebutuhan dapur sudah menipis dan suasana pagi masih sangat segar, Zelena memutuskan untuk langsung berbelanja. "Ya udah, Bibi catat apa aja yang habis. Saya berangkat ke supermarket.” Kurang dari lima belas menit, Zelena sudah mendorong troli belanja di lorong supermarket dekat rumah. Suasana pagi itu masih sangat lengang, hanya ada satu-dua pembeli yang melintas. Dengan cermat, Zelena memindahkan beberapa
Ariyan terkejut setengah mati atas apa yang dialaminya. Tidak sedikit pun terlintas di pikirannya inilah yang didapatkannya. Tadinya Ariyan berpikir Jeandra menyuruh cepat-cepat pulang lantaran ada hal penting. Entah itu memperbaiki laptop yang rusak, Ariyan membawa kunci penting, atau apa. Siapa sangka inilah hal penting itu. Belum sempat Ariyan bertanya dan menyuarakan kekagetannya, tamparan kedua kembali bersarang di mukanya. Kali ini jauh lebih keras hingga membuat wajahnya tertoleh ke samping. Pipinya terasa panas dan pedih. Zivanya menjerit histeris, spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan saat tubuhnya membeku diliputi ketakutan. "Papa! Ya Tuhan, Papa stop! Kenapa begini?!" Jeandra seolah tidak mendengar jeritan itu. Matanya merah dikuasai oleh amarah membara yang belum pernah Ariyan lihat sepanjang hidupnya. Tanpa memberikan kesempatan untuk memproses apa yang sedang terjadi, Jeandra mencengkeram kerah kemeja Ariyan, lalu mendaratkan pukulan mentah tepat di rahang ki
Aroma kopi yang khas dan kue-kue manis menyapa penciuman Zivanya ketika ia tiba. Banner ucapan selamat berukuran sedang yang dipasang para staf di area lobi langsung membuat Zivanya tertawa sekaligus tersanjung. Hari pertamanya kembali ke sekolah musik miliknya ini benar-benar disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besar akademi. "Mbak Ziva!" Mela langsung melesat mendekat begitu melihat keberadaan Zivanya. Tanpa basa-basi, ia merengkuh bos sekaligus sahabatnya itu dalam pelukan hangat. "Selamat ya, Mbak. Kita semua di sini nonton live streaming-nya sampai jerit-jerit pas nama Mbak Ziva diumumin jadi juara kedua.” Zivanya tertawa kecil sambil membalas pelukan Mela. "Thank you lho, Mel, kamu udah banyak bantuin aku. Oh iya, gimana keadaan mama kamu?” Dilepasnya pelukan. “Udah membaik, Mbak. Sempat nggak sadar satu hari, tapi sekarang udah nggak apa-apa kok.” Tidak butuh waktu lama sampai para pengajar lainnya, seperti Dion sang pengajar biola, Kina instruktur vokal, dan b
“Kenapa sih, Sayang? Ada yang penting memangnya? Harus banget bicaranya sekarang?” goda Ariyan dengan senyum jahil yang mengembang di bibirnya. "Kenapa kamu tiba-tiba nyeletuk soal nikah di depan orang tua kita?” Zivanya menunjuk bahu Ariyan dengan telunjuknya. "Di Vienna rencana kita nggak gini, kan? Kamu mau mengakui kesalahan kamu dulu. Kamu mau cerita dulu ke aku soal Arabella. Lah ini? Baru aja nyampe rumah kamu udah bikin heboh semua orang.” "Bukannya makin cepat makin bagus? Lagian aku udah nggak tahan kalau harus nunggu lama-lama lagi buat sah memiliki kamu sepenuhnya. Soal janji pasti aku tepati, aku nggak akan lari. Aku pasti cerita sama semuanya.” "Tapi tetap aja aku kaget. Mukaku mau ditaruh di mana coba tadi?” "Ditaruh di sini aja.” Ariyan tertawa sambil menepuk dadanya sendiri. “Di dada aku.” Mau tidak mau tawa Zivanya ikut berderai. Tumbuh bersama sejak kecil, ia tidak tahu bahwa Ariyan ternyata memiliki sisi romantis yang dibalut candaan renyah. Beruntungnya Air
Penerbangan panjang dari Vienna akhirnya berujung di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Udara hangat Indonesia langsung menyambut langkah Zivanya dan Ariyan begitu mereka keluar dari pintu kedatangan. Rasa lelah seketika menguap saat mata mereka menangkap orang tua kedua keluarga yang sudah menanti di area penjemputan. "Ibuuu!" Sebuah seruan nyaring terdengar mendahului langkah yang berlari kencang. Kaisar berlari melintasi kerumunan kecil dan langsung menubruk kaki ibunya. Zivanya langsung berlutut, merengkuh tubuh Kaisar ke dalam pelukan erat, berkali-kali mencium pipi sang putra yang amat dirindukannya. "Kai kangen sekali sama Ibu.” "Ibu juga kangen sama Kai, Sayang," balas Zivanya penuh kerinduan. Setelah melepaskan pelukan ditelitinya anaknya itu. Rasanya tidak sampai satu bulan Zivanya tinggalkan, tetapi lihatlah, Kaisar tumbuh semakin tinggi dan besar. “Jadi cuma sama Ibu aja kangennya? Sama Papa nggak kangen?” celetuk Ariyan, membuat Kaisar mengalihkan perhatian pada
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat







