ANMELDENAriyan terkejut setengah mati atas apa yang dialaminya. Tidak sedikit pun terlintas di pikirannya inilah yang didapatkannya. Tadinya Ariyan berpikir Jeandra menyuruh cepat-cepat pulang lantaran ada hal penting. Entah itu memperbaiki laptop yang rusak, Ariyan membawa kunci penting, atau apa. Siapa sangka inilah hal penting itu.Belum sempat Ariyan bertanya dan menyuarakan kekagetannya, tamparan kedua kembali bersarang di mukanya. Kali ini jauh lebih keras hingga membuat wajahnya tertoleh ke samping. Pipinya terasa panas dan pedih.Zivanya menjerit histeris, spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan saat tubuhnya membeku diliputi ketakutan. "Papa! Ya Tuhan, Papa stop! Kenapa begini?!"Jeandra seolah tidak mendengar jeritan itu. Matanya merah dikuasai oleh amarah membara yang belum pernah Ariyan lihat sepanjang hidupnya. Tanpa memberikan kesempatan untuk memproses apa yang sedang terjadi, Jeandra mencengkeram kerah kemeja Ariyan, lalu mendaratkan pukulan mentah tepat di rahang kirinya
Aroma kopi yang khas dan kue-kue manis menyapa penciuman Zivanya ketika ia tiba. Banner ucapan selamat berukuran sedang yang dipasang para staf di area lobi langsung membuat Zivanya tertawa sekaligus tersanjung. Hari pertamanya kembali ke sekolah musik miliknya ini benar-benar disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besar akademi. "Mbak Ziva!" Mela langsung melesat mendekat begitu melihat keberadaan Zivanya. Tanpa basa-basi, ia merengkuh bos sekaligus sahabatnya itu dalam pelukan hangat. "Selamat ya, Mbak. Kita semua di sini nonton live streaming-nya sampai jerit-jerit pas nama Mbak Ziva diumumin jadi juara kedua.” Zivanya tertawa kecil sambil membalas pelukan Mela. "Thank you lho, Mel, kamu udah banyak bantuin aku. Oh iya, gimana keadaan mama kamu?” Dilepasnya pelukan. “Udah membaik, Mbak. Sempat nggak sadar satu hari, tapi sekarang udah nggak apa-apa kok.” Tidak butuh waktu lama sampai para pengajar lainnya, seperti Dion sang pengajar biola, Kina instruktur vokal, dan b
“Kenapa sih, Sayang? Ada yang penting memangnya? Harus banget bicaranya sekarang?” goda Ariyan dengan senyum jahil yang mengembang di bibirnya. "Kenapa kamu tiba-tiba nyeletuk soal nikah di depan orang tua kita?” Zivanya menunjuk bahu Ariyan dengan telunjuknya. "Di Vienna rencana kita nggak gini, kan? Kamu mau mengakui kesalahan kamu dulu. Kamu mau cerita dulu ke aku soal Arabella. Lah ini? Baru aja nyampe rumah kamu udah bikin heboh semua orang.” "Bukannya makin cepat makin bagus? Lagian aku udah nggak tahan kalau harus nunggu lama-lama lagi buat sah memiliki kamu sepenuhnya. Soal janji pasti aku tepati, aku nggak akan lari. Aku pasti cerita sama semuanya.” "Tapi tetap aja aku kaget. Mukaku mau ditaruh di mana coba tadi?” "Ditaruh di sini aja.” Ariyan tertawa sambil menepuk dadanya sendiri. “Di dada aku.” Mau tidak mau tawa Zivanya ikut berderai. Tumbuh bersama sejak kecil, ia tidak tahu bahwa Ariyan ternyata memiliki sisi romantis yang dibalut candaan renyah. Beruntungnya Air
Penerbangan panjang dari Vienna akhirnya berujung di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Udara hangat Indonesia langsung menyambut langkah Zivanya dan Ariyan begitu mereka keluar dari pintu kedatangan. Rasa lelah seketika menguap saat mata mereka menangkap orang tua kedua keluarga yang sudah menanti di area penjemputan. "Ibuuu!" Sebuah seruan nyaring terdengar mendahului langkah yang berlari kencang. Kaisar berlari melintasi kerumunan kecil dan langsung menubruk kaki ibunya. Zivanya langsung berlutut, merengkuh tubuh Kaisar ke dalam pelukan erat, berkali-kali mencium pipi sang putra yang amat dirindukannya. "Kai kangen sekali sama Ibu.” "Ibu juga kangen sama Kai, Sayang," balas Zivanya penuh kerinduan. Setelah melepaskan pelukan ditelitinya anaknya itu. Rasanya tidak sampai satu bulan Zivanya tinggalkan, tetapi lihatlah, Kaisar tumbuh semakin tinggi dan besar. “Jadi cuma sama Ibu aja kangennya? Sama Papa nggak kangen?” celetuk Ariyan, membuat Kaisar mengalihkan perhatian pada
Gerakan Ariyan kala merebut buket bunga dari tangan Zivanya begitu mendadak dan terasa kasar hingga membuat Zivanya sedikit heran.Dengan wajah mengeras dan rahang tegang, Ariyan mencari tempat sampah. Ia tidak langsung membuang buket bunga tersebut tetapi menginjak-injaknya terlebih dahulu dengan penuh emosi. Barulah ia mencampakkannya. Aroma parfum menyengat yang sengaja disemprotkan Aira seolah meracuni udara, dan Ariyan tidak sudi membiarkan racun itu melingkupi Zivanya lebih lama lagi.Zivanya termangu menyaksikan tindakan impulsif cenderung anarkis yang baru saja dilakukan oleh lelaki yang disayanginya. Ia merasa terkejut sekaligus bingung oleh reaksi Ariyan yang terlalu berlebihan.Zivanya menarik langkah menuju Ariyan kemudian bertanya, "Kok dibuang?”Ariyan berbalik memandang Zivanya. "Untuk apa memangnya kamu simpan bunga kayak gitu? Bunga aneh, aromanya menyengat nggak jelas. Kamu pasti tahu, itu bunga kematian. Lagian orang yang ngasih juga nggak jelas siapa. Nggak ada ide
Malam puncak Kompetisi Musik Internasional Beethoven yang diselenggarakan di hall megah Musikverein, akhirnya mencapai klimaksnya. Tepuk tangan membahana dari ratusan penikmat musik klasik, juri terkemuka, dan pengamat seni kelas dunia memenuhi setiap sudut ruangan berarsitektur neoklasik tersebut. Setelah melalui penjurian yang sangat ketat, nama Zivanya secara resmi diumumkan sebagai runner up atau juara kedua dalam kompetisi piano paling bergengsi di dunia itu.Zivanya sama sekali tidak menyangka. Jangankan menjadi salah satu juara, dengan berhasil masuk ke babak final ia sudah sangat bahagia.Sebelum menginjakkan kaki di panggung yang menentukan perjalanan kariernya malam ini, Zivanya sebenarnya sempat diserang rasa gugup yang luar biasa. Namun, deretan dukungan yang mengalir tiada henti berhasil membangun kepercayaan dirinya.Sebelum tampil tadi, telepon pertama datang dari sang putra tercinta yang dengan suara khas anak-anaknya meneriakkan kata-kata semangat dan berjanji akan m
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan







