Baru saja menjatuhkan bokongnya di atas sofa empuk, ponsel Freya tiba-tiba berdering. Satu nama berkedip di layar, 'Paman Diego.'Jujur saja, Freya malas menerima panggilan itu. Namun, rasa penasaran menggelitik benaknya.Freya melirik benda pipih hitam yang berada di atas meja tersebut sambil mendengus pelan. Mau apa lagi pria itu? Tidak mungkin Paman ingin mengatakan rindu, batinnya.Dengan gerakan malas, Freya meraih ponsel dan menggeser tombol hijau."Freya .... "Suara berat nan merdu terdengar dari ujung telepon. Freya hanya diam, mengunci rapat mulutnya agar tidak terbawa perasaan."Soal paket itu ... seharusnya Nadia menerimanya di apartemen. Sepertinya anak buahku salah mendengar perintah," ucap Diego tanpa basa-basi.Freya mengembus napas berat. "Tidak apa-apa. Toh, yang terpenting sebentar lagi Nadia akan hancur setelah melihat kepala kakaknya, yang mati karena keegoisannya sendiri. Itu tujuan utama Paman, bukan?""Hmm," sahut Diego datar. "Aku akan memastikan kamu m
Read more