ホーム / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 79. Raut Wajah Tampak Pahit

共有

79. Raut Wajah Tampak Pahit

作者: Lubna Karkata
last update 公開日: 2026-06-09 00:03:59

Untuk beberapa detik, keheningan mengalir dalam nuansa yang kurang menyenangkan. Raut wajah Solvatar tampak pahit dan Runala merasa bersalah untuk itu. Dia menggigit bibir bawah seraya merutuki diri sendiri.

Impulsif, Runala maju dengan cepat demi menyambar daging di ujung garpu yang dipegang Solvatar dengan mulutnya. Lelaki itu tampak terkesiap karena gerakan tiba-tiba. Sebelum akhirnya, senyum simpul terurai di bibirnya.

“Rupanya kau sudah sangat lapar, Rabbit,” ujar Solvatar lantas menarik
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahaya

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   5. Netra Merah Menyala

    Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam p

  • Taring Emas Sang Alpha   4. Ini Bukan Demam

    Kesunyian kembali menguasai kamar setelah Solvatar memberikan perintah cepat pada prajuritnya. Dalam beberapa menit, beberapa tangkai tanaman daun Silver-Lace lengkap dengan akarnya sudah diantar ke dalam kamar sang kepala desa. Kini, di atas meja, Runala bekerja dengan gerakan cepat yang terampil

  • Taring Emas Sang Alpha   3. Rasa Haus akan Jawaban

    Lampu obor yang berkedip di dinding menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Sehingga siluet Solvatar di atas tempat tidur tampak dua kali lebih besar.Runala berdiri terpaku di dekat pintu. Tangan gadis itu terkepal di sisi tubuh. Paha kanannya terasa panas. Benjolan di kulit pahanya itu ber

  • Taring Emas Sang Alpha   2. Api di Nadi

    Seminggu berlalu sejak insiden di hutan. Runala mulai percaya bahwa keberuntungan masih berpihak padanya. Lelaki bernetra emas itu telah melepaskannya dengan tatapan hina yang paling dia syukuri seumur hidup. Jika menilai dari tatapannya yang tampak terkejut sekaligus muak, mungkin kehadiran Runala

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status