Início / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 80. Istana yang Murni

Compartilhar

80. Istana yang Murni

last update Data de publicação: 2026-06-09 22:47:06

Bunyi ketukan antara alu dan lumpang kayu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian kamar tamu istana. Di atas meja, tangan Runala bergerak dengan ritme yang teratur. Jemarinya yang ramping dengan cekatan memisahkan beberapa jenis kelopak bunga, menumbuk akar, daun, rempah hingga mengeluarkan saripati berwarna cokelat bening.

Akan tetapi, malam ini konsentrasi Runala tidak sepenuhnya utuh. Setiap kali alu menghantam dasar lumpang, isi kepala gadis itu justru berputar mundur, memutar u
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Taring Emas Sang Alpha   81. Nakas di Samping Tempat Tidur

    Langkah kaki Solvatar menggema di keheningan koridor utama dengan ritme tenang yang hampir tidak bersuara. Jam dinding istana telah menunjukkan waktu tengah malam. Koridor megah itu kini hanya diterangi oleh pendar obor dinding yang mulai meredup, menimbulkan bayangan-bayangan panjang yang meliuk di antara pilar. Sesuai dengan harapannya, Ragnavar tidak ada di sekitar sana. Di depan pintu kamar besar tempat raja dan ratu, dua orang prajurit jaga langsung menegakkan posisi begitu mengenali sosok yang mendekat. Tombak mereka menyilang, menutup akses masuk.“Pangeran Solvatar,” tegur salah satu penjaga dengan suara rendah, tetap menjaga kesopanan di tengah malam buta. “Maaf, Yang Mulia raja dan ratu sedang beristirahat. Sebaiknya tidak ada yang mengganggu mereka hingga esok pagi.”Ekspresi Solvatar tetap sedingin es, tanpa gejolak emosi. “Aku tahu,” jawabnya datar. Tangannya bergerak tenang ke balik jubah, menunjukkan sebelah sarung tangan kulitnya yang kosong. “Sarung tanganku tertingg

  • Taring Emas Sang Alpha   80. Istana yang Murni

    Bunyi ketukan antara alu dan lumpang kayu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian kamar tamu istana. Di atas meja, tangan Runala bergerak dengan ritme yang teratur. Jemarinya yang ramping dengan cekatan memisahkan beberapa jenis kelopak bunga, menumbuk akar, daun, rempah hingga mengeluarkan saripati berwarna cokelat bening.Akan tetapi, malam ini konsentrasi Runala tidak sepenuhnya utuh. Setiap kali alu menghantam dasar lumpang, isi kepala gadis itu justru berputar mundur, memutar ulang kejadian di ruang makan beberapa jam yang lalu.Kehadiran Lunielle masih membekas begitu nyata di indra Runala. Gadis itu sama sekali bukan orang sembarangan yang bisa diabaikan begitu saja. Kala pintu ruang makan terbuka, Lunielle tidak sekadar masuk; dia membawa aura kemegahan istana. Rambut pirangnya yang berkilau bagai benang emas di bawah pendar lilin, sepasang netra biru jernih sewarna langit musim panas, serta gaun sutra biru yang melekat indah di tubuhnya. Semuanya memancarkan keang

  • Taring Emas Sang Alpha   79. Raut Wajah Tampak Pahit

    Untuk beberapa detik, keheningan mengalir dalam nuansa yang kurang menyenangkan. Raut wajah Solvatar tampak pahit dan Runala merasa bersalah untuk itu. Dia menggigit bibir bawah seraya merutuki diri sendiri. Impulsif, Runala maju dengan cepat demi menyambar daging di ujung garpu yang dipegang Solvatar dengan mulutnya. Lelaki itu tampak terkesiap karena gerakan tiba-tiba. Sebelum akhirnya, senyum simpul terurai di bibirnya. “Rupanya kau sudah sangat lapar, Rabbit,” ujar Solvatar lantas menarik mangkuk berisi sup. Dia menyendok sepotong umbi-umbian berwarna kuning dan jingga dan menyuapkannya ke arah Runala. Alih-alih membuka mulut, Runala malah menghidu uap hangat sup. Aroma tajam, segar, bercampur petrikor memenuhi indra penciumannya. “Ini sup apa?” tanyanya seraya menunjuk sendok yang dipegang Solvatar. “Apa ini juga dihidangkan pada raja dan ratu?”Glabela Solvatar berkerut mendengar dua pertanyaan beruntun. “Aku bisa memanggil koki istana supaya kau bisa bertanya, tapi sebaiknya

  • Taring Emas Sang Alpha   78. Alis Terangkat Heran

    Lima orang pelayan istana memandu jalan ke sisi timur istana. Sepanjang jalan, genggaman tangan Solvatar tidak pernah mengendur. Jemarinya menangkup tangan Runala begitu erat, seolah-olah jika dia lepaskan sedetik saja, gadis itu akan menguap seperti embun terkena matahari. Runala hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik dalam diam seraya tatapannya bergerak mengagumi kemegahan luar biasa yang terpampang di depan.Bangunan ini sungguh menakjubkan sekaligus terasa begitu ironis. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih yang memantulkan cahaya obor dinding laksana cermin. Pilar-pilar penyangga dilapisi ukiran emas membentuk sulur-sulur pohon kuno, dan panji-panji beludru bersulam benang perak bergambar serigala yang memamerkan taring tergantung anggun di setiap jarak sepuluh langkah. Udara di sini hangat dihiasi wewangian mahal menguar dari setiap sudut.Pikiran Runala mendadak melayang kembali ke Demura. Tempat itu berada di bawah langit yang sama, berdiri di atas tanah Wolfaer

  • Taring Emas Sang Alpha   77. Tidak Sulit untuk Menebak

    Pintu tertutup dengan debum halus di belakang Runala, seketika memutus kehangatan yang tersisa dari kamar tidur raja dan ratu Wolfaern. Koridor istana menyambutnya dengan hawa dingin yang mencengkeram.Sebelum melangkah lebih jauh, Kanavar yang tadi mengantar, menghentikan langkahnya. Lelaki bertubuh tegap itu berbalik menghadap Runala, lalu melirik Ragnavar yang berdiri tidak jauh dari mereka.Kanavar membungkuk hormat kepada kakak tertuanya, menunjukkan kepatuhan istana. Ragnavar hanya mengangguk samar dengan senyum sumir yang elegan.Kanavar kemudian beralih menatap Runala. Ada binar ramah sekaligus sungkan di matanya. “Runala, maaf kita belum sempat berkenalan dengan layak karena situasi mendesak tadi. Sekarang aku perlu meminta pelayan istana untuk menyiapkan kamar untukmu dan Solvatar beristirahat nanti.”Runala buru-buru membungkuk hormat, menyunggingkan senyum santun. “Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Pangeran Kanavar.”Kanavar mengangguk sekilas, lalu menepuk ringan b

  • Taring Emas Sang Alpha   76. Aroma Teh dari Cangkir

    “Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Suara Solvatar terdengar dingin dan datar, berusaha menekan segala emosi yang bergolak di dalam dada setelah mendengar kabar yang disampaikan kakak yang menyambutnya. Kanavar, pangeran ke-2 mengernyitkan glabela sembari menyesuaikan langkah bot beratnya di atas lantai marmer. “Aku kira kau pulang secepat ini karena mendengar kabar itu. Mereka jatuh sakit secara mendadak tidak lama setelah kau pergi, Solvatar. Beberapa hari terakhir ini mereka benar-benar melemah hingga tidak bisa meninggalkan ranjang.”Solvatar tidak menyahut lagi. Namun, rahangnya makin mengeras. Jelas, ada maksud khusus bagi Ragnavar untuk menyembunyikan berita besar ini darinya. Padahal kakak sulungnya itu saling berkirim surat dengannya. Mereka bertiga berjalan membelah koridor panjang kastel yang megah tetapi terasa sunyi. Di sisi mereka, pilar-pilar batu tinggi menjulang, menumpu langit-langit yang dihiasi panji-panji berlukis wajah serigala yang memperlihatkan taring.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status