Share

Kangen Kamu

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-06-17 01:48:03

Fero berusaha memejamkan matanya di kamar tamu. Entah mengapa rasa kantuk seolah tidak mau menghampirinya. Hawa hangat tubuh Adista yang beberapa malam menemaninya membuatnya rindu. Walaupun ia tahu, tidak seharusnya dia bergantung pada Adista.

Tidak berhasil tidur, Fero mengatur posisinya setengah duduk. Ia memakai selimut sebatas pinggang, dan mengambil ponselnya. Beberapa kali ia mencoba mengetik pesan untuk dikirimkan ke Adista, dan beberapa kali juga pesan yang sudah ia ketik itu dihapus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Kangen Kamu

    Fero berusaha memejamkan matanya di kamar tamu. Entah mengapa rasa kantuk seolah tidak mau menghampirinya. Hawa hangat tubuh Adista yang beberapa malam menemaninya membuatnya rindu. Walaupun ia tahu, tidak seharusnya dia bergantung pada Adista. Tidak berhasil tidur, Fero mengatur posisinya setengah duduk. Ia memakai selimut sebatas pinggang, dan mengambil ponselnya. Beberapa kali ia mencoba mengetik pesan untuk dikirimkan ke Adista, dan beberapa kali juga pesan yang sudah ia ketik itu dihapus lagi. Untuk menghibur diri, Fero membuka aplikasi game, dan berusaha fokus bermain. Ada pesan masuk, dan pesan itu datang dari Zia."Mas, kamu lagi apa di sana? Kenapa pesanku beberapa hari lalu cuma kamu baca? Kamu baik-baik saja di sana kan, Mas?"Fero keluar dari aplikasi game, dan membuka kolom percakapan dengan Zia. Ia baru ingat kalau dirinya belum membalas pesan dari wanita itu, hanya membacanya saja. "Maaf, Zia. Saya sibuk, lupa balas pesan kamu. Sekarang kerjanya full time. Saya di si

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Serangan Aura

    Langkah kaki Hana yang terburu-buru bergema keras di sepanjang koridor lantai kantor. Wajah sekretaris andalan itu tampak sedikit pucat, dengan napas yang memburu menahan kepanikan. Tanpa sempat mengetuk pintu seperti biasa, Hana langsung mendorong pintu ruang kerja CEO dan melangkah masuk dengan tergesa-gesa.Di balik meja kerjanya, Fero sedang fokus membaca laporan keuangan bulanan. Dia mendongak, sedikit terkejut melihat ekspresi wajah Hana yang tidak karuan."Pak Fero! Kita ada masalah besar di depan," ucap Hana setengah berbisik. Fero meletakkan penanya, mencoba tetap tenang demi menularkan ketenangan itu pada Hana. "Tenang dulu, Han. Ambil napas. Ada masalah apa?""Ada seorang klien besar yang datang tanpa ada janji dan mengamuk di ruang tunggu utama. Dia bersikeras mau berhadapan langsung dengan Pak Fero sebagai CEO baru di perusahaan ini," jelas Hana cepat. "Namanya Aura. Dia pemilik perusahaan kosmetik dan produk kecantikan yang selama ini menjadi mitra distribusi utama ki

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Pencarian Pewaris Adiwangsa

    Kemewahan di ruang kerja utama perusahaan Adiwangsa Kencana Group begitu jelas terlihat. Di balik meja kerjanya, Hardian Adiwangsa duduk di kursi kebesarannya. Lelaki berusia 73 tahun itu tampak begitu sepuh, gurat-gurat keriput di wajahnya menyiratkan sisa-sisa kejayaan sekaligus kesedihan mendalam yang selama puluhan tahun ia pendam sendiri.Jemari Hardian yang mulai gemetar perlahan mengusap selembar foto berukuran kecil yang warnanya sudah menguning dan usang di sudut-sudutnya. Foto seorang bayi laki-laki berusia beberapa minggu yang sedang tertidur lelap.Di sisi meja, berdiri dengan sikap tegap dan penuh hormat seorang pria paruh baya bernama Rama. Ia adalah tangan kanan sekaligus orang paling dipercaya di dalam lingkaran terdalam keluarga Adiwangsa."Rama..." Suara Hardian terdengar serak, memecah keheningan ruangan yang luas itu. Eye kacamata tuanya tidak lepas dari foto sang bayi. "Bagaimana? Apa tim khusus yang kamu bentuk sudah membawa kabar baik hari ini? Apa mereka suda

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Pura-pura Depresi

    Kegiatan sarapan pagi akhirnya selesai. Fero bangkit berdiri, merapikan letak dasinya dan bersiap untuk mengambil tas kerjanya di atas meja dekat ruang tengah. Baru saja Adista hendak mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan, Tante Rosa tiba-tiba memegang pergelangan tangan Adista dengan erat. Tubuh wanita tua itu mendadak lemas, kepalanya bersandar pada bahu Adista dengan napas yang sengaja dibuat berat."Adista... Tante mohon, hari ini kamu jangan ke kantor dulu, ya?" rintih Rosa memohon. "Tante benar-benar enggak sanggup sendirian di rumah besar ini. Pikiran Tante kacau banget, Sayang. Tante takut... Tante takut melakukan hal-hal nekat kalau ditinggal sendiri."Adista seketika panik melihat kondisi tantenya yang tampak sangat depresi. "Tante... Tante jangan bicara begitu. Tapi hari ini Fero harus ke kantor, dan aku berniat mendampinginya untuk memantau transisi kepemimpinan.""Kan ada Hana, Adista. Hana itu sekretaris yang cerdas, dia pasti bisa bantu Fero," potong Rosa cepat

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Kedatangan Rosa

    Embun pagi masih menempel di dedaunan taman ketika sebuah ketukan keras di pintu depan merusak ketenangan rumah Adista. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Adista, yang baru saja turun ke lantai bawah dengan jubah tidur sutranya, mengernyitkan alis heran."Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini? " omelnya kesal. Begitu pintu jati besar itu dibuka, Adista seketika terpaku. Di hadapannya berdiri Tante Rosa, lengkap dengan kacamata hitam besar dan sebuah koper ukuran jumbo di samping kakinya. Sebelum Adista sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Rosa tiba-tiba maju dan langsung mendekap tubuh keponakannya itu dengan sangat erat. Isak tangis buatan terdengar dari balik pundak Adista."Adista... maafin Tante, Sayang! Tante menyesal sekali," ratap Rosa dengan suara bergetar yang terdengar begitu meyakinkan.Adista yang masih setengah mengantuk tertegun. Dia bingung harus bereaksi seperti apa. "T-Tante Rosa? Ada apa ini? Kenapa bawa koper besar begini?"Rosa melepaskan pelukannya

  • Hangatnya Ranjang Suami Pengganti   Pertemuan Tak Sengaja

    Aroma harum seduhan kopi menguar di area Gloria Coffeeshop. Hana berdiri di depan konter penyerahan menu, merapikan blazer kerjanya sembari menunggu pesanannya. Rambutnya yang biasa diikat rapi kini digerai bebas, memberikan kesan kasual yang jarang ia tunjukkan ketika berada di kantor."Satu Iced Americano atas nama Mbak Hana," panggil barista dari balik konter."Ah, iya. Terima kasih," ucap Hana, melangkah maju dan mengambil gelas plastiknya.Hana membalikkan tubuh, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Kedua alisnya bertaut. Sial, tempat ini benar-benar penuh. Tidak ada satu pun meja kosong yang tersisa. Satu-satunya tempat yang bisa ia tempati adalah sebuah meja kayu panjang di dekat jendela kaca besar yang hanya diisi oleh satu orang pria yang tampak sibuk menatap layar laptopnya.Hana menghela napas pasrah, lalu melangkah menuju meja tersebut. "Permisi... Boleh bergabung?"Pada saat yang bersamaan, pria di meja itu mendongak. Di sebelahnya, sebuah gelas Iced Americ

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status