Beranda / Male Adult / Bermain Api Dengan Nyonya / Bab 97 : Invasi Ke Sektor Selatan

Share

Bab 97 : Invasi Ke Sektor Selatan

Penulis: R-One Channelz
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 09:27:08

Aroma solar hangat dan bau logam dari persenjataan taktis kelas berat memenuhi ruang rahasia di bawah reruntuhan padepokan.

Jenderal Yudha, dengan separuh wajah yang masih dibalut perban putih berbercak darah dan memar keunguan yang mulai mereda, berdiri tegak di depan meja komando portabel.

Mantan jenderal bintang tiga itu bergerak taktis, membuka tiga peti besi besar berlogo militer kelam.

Di dalamnya berjejer rapi rompi antipeluru kevlar dengan lapisan serat karbon, kacamata taktis bersenso
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 139 : Mery Linglung lagi

    Pukul dua pagi, ketika keheningan menyelimuti seluruh sudut markas rahasia Jenderal Yudha dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru halus mesin penyaring udara, aku terbangun oleh keheningan yang janggal. Udara di dalam kamar terasa dingin, berbau sedikit sengatan ozon dan sisa-sisa aroma antiseptik rumah sakit yang belum sepenuhnya hilang dari pakaianku.Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah tanpa suara menyusuri lorong beton menuju ruang server utama untuk mengambil beberapa data log pemulihan fisik.Namun, saat mendekati pintu geser baja yang sedikit terbuka, penciumanku menangkap aroma yang sangat kontras : Wangi sabun mandi malam bercampur dengan bau khas logam terbakar tipis, disusul oleh suara ketukan jemari yang asing di atas papan keyboard.Aku menghentikan langkah, merapatkan tubuh ke sisi dinding, dan mengintip melalui celah pintu yang sempit.Di dalam ruang server yang diterangi cahaya monitor holografik berwarna kebiruan, Mery berdiri terpaku di depan kons

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 138 : Kekuatan Baru Kendi & Rencana Baru Darius

    Suara derap sepatu lars yang menghantam matras latihan bergemuruh di ruang kebugaran markas bawah tanah. Udara terasa panas dan pengap, dipenuhi aroma keringat segar yang bercampur dengan bau karet matras yang pekat. Aku melompat, menghindari ayunan balok kayu, lalu melancarkan pukulan beruntun ke arah kantong tinju berat hingga rantai penyangganya berderit nyaring.Latihan fisik intensif ini adalah harga yang harus dibayar untuk mengembalikan otot-ototku yang sempat membeku selama berminggu-minggu di ruang ICU.Di sudut ruangan yang lain, Mery berkonsentrasi penuh di atas matras yoga berwarna biru gelap. Dengan napas teratur yang berhembus lembut, ia melatih keseimbangan kakinya, meregangkan otot-otot yang lama lumpuh, serta menenangkan batinnya melalui meditasi ringan. Suara gesekan kulit telapak kakinya dengan matras terdengar selaras dengan detak jantungnya.Setiap orang di markas ini memiliki cara sendiri untuk bersiap menghadapi badai berikutnya. Kenzo berdiri bersidekap di d

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 137 : Pulihnya Sang Jagoan

    Jep... jep... jep...Suara desis tumpul yang memecah kesunyian malam itu bukan berasal dari alat medis, melainkan dari ujung laras pistol berperedam yang menyalak tiga kali berturut-turut. Cairan hitam di dalam jarum suntik yang tadinya dipegang oleh sosok berjubah hitam itu tumpah berantakan ke lantai linoleum putih, berpadu dengan cipratan darah segar begitu peluru menembus bahu kanannya.Sosok penyusup itu terpekik tertahan, menjatuhkan jarum suntik ke lantai sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang dan tersungkur di samping ranjangku.Dari balik tirai kaca ICU yang terbuka, Dira berdiri tegak dengan napas memburu. Asap tipis masih mengepul dari moncong pistol Glock berperedam di tangan kanannya. Bau mesiu yang tajam langsung menguar, memotong aroma antiseptik ruangan. Wanita itu bergerak cepat, menendang pisau yang hendak ditarik si penyusup, lalu menindih punggung pria itu dengan lututnya sambil memborgol kedua tangannya ke belakang.Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Kenzo berl

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 136 : Terbangun Dari Labirin Mimpi

    Di dalam kepekatan malam bawah sadar yang panjang, batinku terombang-ambing di antara batas kesadaran dan ketiadaan. Bau tanah basah sehabis hujan, aroma daun pinus yang menguap disengat matahari pagi, dan hembusan angin pegunungan yang sejuk tiba-tiba menyeruak tajam di indra penciumanku. Aku tidak lagi merasa sakit. Aku kembali menjadi anak remaja di perkampungan asri Cianjur, berlari kencang menyusuri jalan setapak berlumpur bersama Kenzo.Tawa kami berderai di antara rimbunnya belukar hutan bambu. Kami memegang senapan angin mainan, berpetualang menembus semak belukar demi mencari jejak burung liar, hingga sore harinya pelipis kami berdarah kecil akibat berbenturan saat berlatih jurus dasar Kundalini di halaman padepokan di bawah pengawasan Abah Usman yang memegang sebilah rotan. Suara benturan kaki di atas tanah liat, debu yang mengepul, dan rasa lelah yang membakar otot-otot remaja terasa begitu hidup.Lalu, ilusi itu mendadak patah. Dalam bayangan mimpi itu, aku terpeleset di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 135 : Diantara Hidup Dan Mati Kendi

    Suara lengkingan mesin monitor electrocardiogram menggema tajam, memecah kesunyian ruang ICU yang steril. Bunyi beep yang tadinya berirama teratur kini berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga."Kendi !" seru Kenzo tertahan.Tanpa membuang waktu, Kenzo melompati batas kaca pengaman yang pintunya baru saja dibuka paksa. Langkah kakinya berderap cepat di atas lantai linoleum putih. Ia langsung menghampiri ranjang, mendapati tubuhku melengkung ke atas akibat kejang hebat, sementara cairan darah segar merembes keluar dari sudut bibir, mengotori masker oksigen transparan.Bau amis darah bercampur dengan aroma tajam cairan disinfektan mendadak memenuhi udara ruangan sempit itu."Dokter ! Suster ! Cepat kemari !" teriak Kenzo dengan suara bariton yang bergetar keras, tangannya mencengkeram pagar pengaman ranjang hingga buku-buku jarinya memutih.Dalam hitungan detik, tim medis berjas putih menerobos masuk. Suara sepatu bergesekan dengan lantai terdengar ricuh. Seorang dok

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 134 : Bertahannya Sang Jagoan

    Hantaman ledakan itu merobek langit malam, melemparkanku ke dalam kegelapan pekat sebelum tubuhku terhempas bebas ke pelukan air laut yang dingin membeku. Di bawah permukaan air yang berputar kacau oleh gelombang sisa ledakan, kesadaranku melayang di antara hidup dan mati. Rasanya sunyi. Di tengah keheningan bawah air itu, memori masa lalu berputar kencang seperti pita film yang terbakar.Bayangan masa kecilku bersama Kenzo muncul dengan warna-warna terang yang menyilaukan. Kami berlari-lari di halaman rumah berumput basah, berebut mainan kayu buatan Ayah hingga berujung pada adu pukul kecil yang membuat Ibu melerai sambil tertawa kecil. Bau masakan rumahan Ibu dan aroma keringat Kenzo selepas bermain di bawah terik matahari terasa begitu nyata di rongga hidungku.Kilasan itu bergeser cepat. Usia remaja kami menyapa di bawah naungan bambu Padepokan Abah Usman. Bau dupa kayu gaharu, suara gesekan kain pangsi hitam, dan rasa sakit luar biasa di persendian saat kami membanting tubuh d

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 3 : Pion Yang Hancur

    Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 2 : Kartu As Di Saku Pelayan

    Lampu neon di langit-langit ruang interogasi berkedip dengan bunyi dengung yang menyebalkan, laksana lalat hijau yang berputar di atas bangkai. Cahayanya yang putih pucat menusuk mataku, membuat bayangan Siska Pratiwi yang berdiri di sudut ruangan tampak seperti siluet iblis yang sedang berpesta.

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 1 : Kamar 1202 Sang Predator & Mangsa

    Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut. Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam. Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status