Home / Male Adult / Bermain Api Dengan Nyonya / Bab 97 : Invasi Ke Sektor Selatan

Share

Bab 97 : Invasi Ke Sektor Selatan

last update publish date: 2026-06-21 09:27:08

Aroma solar hangat dan bau logam dari persenjataan taktis kelas berat memenuhi ruang rahasia di bawah reruntuhan padepokan.

Jenderal Yudha, dengan separuh wajah yang masih dibalut perban putih berbercak darah dan memar keunguan yang mulai mereda, berdiri tegak di depan meja komando portabel.

Mantan jenderal bintang tiga itu bergerak taktis, membuka tiga peti besi besar berlogo militer kelam.

Di dalamnya berjejer rapi rompi antipeluru kevlar dengan lapisan serat karbon, kacamata taktis bersenso
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 149 : Pertempuran Akhir Yang Menegangkan

    Desau bilah rotor helikopter tempur The Eclipse menghantam gendang telinga dengan kekuatan brutal, menciptakan badai angin buatan yang menerbangkan butiran pasir hitam dan menghantam tubuh kami tanpa ampun.Bau bahan bakar avtur yang pekat bercampur dengan aroma garam laut yang asin, menyesakkan dada di setiap tarikan napas.Di tengah badai angin itu, sorotan lampu laser hijau dari bawah lambung helikopter mendarat tepat di dadaku, memancarkan titik bidik kematian yang dikunci oleh sistem penembak jitu otomatis."Kendi, awas!" teriak Kenzo di tengah deru angin, melompat menerjang dan mendorong tubuhku ke balik gundukan karang tajam sesaat sebelum rentetan peluru senapan mesin berat gatling gun dari helikopter memberondong tanah tempat kami berdiri tadi.BZZZ-TRRR-BOOM !Pasir pantai meledak hebat, menghamburkan serpihan batu karang dan debu panas yang menghujani punggung kami. Panas ledakan peluru kaliber besar itu bahkan terasa menyengat kulit. Di dekat kami, Davina dan Jacky berlin

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 148 : Kepungan The Eclipse di saat Terakhir

    Decitan mesin perahu yang melambat berpadu dengan deburan ombak kecil yang memecah karang. Bau amis air laut, aroma mesiu yang mengering di ujung laras senjata, dan bau keringat dingin bercampur menjadi satu di udara malam yang menusuk tulang.Di hadapan kami, garis pantai tersembunyi itu mendadak terang benderang. Tiga buah lampu sorot militer raksasa yang dipasang di atas truk taktis menyala serentak, menghujam tajam dan menyilaukan mata kami seketika.Silau. Aku menyipitkan mata, mengangkat tangan untuk menutupi wajah dari sorotan lampu yang menusuk retina.Di sepanjang bibir pantai berpasir hitam itu, puluhan anggota pasukan elite The Eclipse berpakaian serba hitam berdiri tegap. Laras senapan serbu mereka terarah lurus ke arah perahu kami tanpa celah.Dan di tengah-tengah barisan itu, berdiri sesosok pria dengan setelan jas gelap rapi namun berbalut rompi taktis berat. Lengan kanannya berlapis baja nirkarat mengilap yang memantulkan cahaya lampu sorot. Senyum tipis yang dingin

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 147 : Ada Pengkhianat Diantara Mereka ???

    Bau garam laut dan sisa mesiu yang mengering di kulit berpadu dengan udara malam yang dingin menusuk tulang.Di tengah geladak perahu motor yang melaju membelah ombak gelap, cahaya lampu navigasi yang berpendar kemerahan menyoroti wajah-wajah kami yang tegang.Davina berdiri tegak di dekat konsol kemudi, jari-jarinya yang terbalut sarung tangan taktis menggenggam erat perangkat pelacak mikro berukuran koin yang masih berkedip merah lemah.Pantulan cahaya merah itu memancar di mata dinginnya, menatap tajam ke arah kami satu persatu."Tidak ada orang luar yang bisa menyelundupkan benda ini ke dalam tas darurat kita kecuali orang yang berada di dalam markas saat evakuasi," suara Davina memecah deru mesin perahu, terdengar tajam dan menusuk. "Dan tas ini... berada dalam pengawasan eksklusif sebelum kita naik ke perahu."Suasana di atas perahu mendadak membeku. Jacky, yang memegang kemudi, melirik sekilas lewat spion kecil, sementara Kenzo menyipitkan mata, tangannya secara perlahan berges

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 146 : Siasat Ghost Protocol Dira

    Tetesan air laut yang menetes dari ujung rambutku terasa dingin di kulit leher yang masih panas oleh sisa-sisa adrenalin. Di hadapan kami, permukaan air laut yang tadinya tenang mendadak bergolak aneh. Puluhan riak air berputar cepat, memunculkan sirip-sirip logam hitam legam yang memecah permukaan gelombang. Bau ozon dan sengatan bau belerang tipis langsung tercium di udara, bercampur dengan suara dengung frekuensi tinggi yang menusuk gendang telinga.Skuadron drone tempur laut otonom buatan militer The Eclipse telah tiba, membentuk lingkaran ketat di sekeliling perahu motor kami."Sial, mereka mengepung kita dari segala arah!" seru Jacky, membanting setir ke kanan namun langsung dihentikan oleh kemunculan tiga unit drone torpedo yang melintang tepat di depan jalur haluan.Di dalam kabin tengah, Dira tidak membuang waktu sedetik pun. Jari-jarinya yang basah dan dingin menari sangat cepat di atas papan ketik konsol taktis portabel. Layar monitor holografik di depannya memancarkan g

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 145 : Manuver Tak Terduga Jacky

    BEEP... BEEP... BEEP...Suara sonar bernada tinggi itu berdenyut liar di dalam lambung perahu motor cepat, menusuk gendang telinga dan memicu alarm darurat di benak setiap orang di atas dek. Aroma bensin yang terbakar tipis berpadu dengan bau garam laut yang asin, tersapu oleh embusan angin kencang yang mendinginkan kulit wajahku yang basah oleh keringat.Di hadapan kemudi, Jacky membanting setir ke kiri dengan kasar hingga perahu miring tajam. Buih air laut berhamburan putih, menyembur ke udara dan membasahi sekujur tubuh kami."Torpedo pengunci panas ! Jaraknya sudah kurang dari lima ratus meter!" teriak Jacky di tengah deru mesin yang meraung memekakkan telinga.Aku mencengkeram tepi lambung perahu erat-erat, buku-buku jariku memutih. Di belakang kami, garis lurus buih putih di permukaan air laut bergerak sangat cepat, membelah ombak dengan kecepatan yang mustahil dikejar oleh perahu motor biasa. Bayangan hitam silinder besi meluncur deras di bawah air, membawa kematian yang diat

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 144 : Berhasil Lolos Dari Maut

    Suara tawa dingin Bramantyo memantul di dinding terowongan beton yang sempit, menciptakan gema yang menusuk gendang telinga. Di bawah pendar cahaya lampu darurat yang berkedip sekarat, siluet tubuh tegap Bramantyo melangkah maju perlahan. Bau mesiu segar, minyak pelumas logam, dan aroma hangus dari sisa-sisa ledakan di belakangnya berpadu menjadi satu di udara yang pengap.Di pangkuanku, Dira terbaring lemah dengan napas yang masih memburu. Pakaiannya robek dan dipenuhi noda jelaga hitam, sementara Kenzo berdiri tegak di depanku, memegang senapan serbu dengan magasin yang nyaris kosong.Buku-buku jari Kenzo memutih, menahan amarah dan kelelahan yang luar biasa setelah bertarung melawan maut di ruang kendali tadi."Kalian benar-benar merepotkan," suara logam Bramantyo berderit di balik seringai sinisnya. Ia mengangkat laras senapan serbu canggih miliknya, mengarahkannya tepat ke dada Kenzo. "Darius ingin kalian hidup-hidup... tapi kurasa sedikit luka tembak di kaki tidak akan jadi ma

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 6 : Labirin Pengkhianat

    Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 5 : Mahkota Dari Kawat Berduri

    Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 3 : Pion Yang Hancur

    Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status