LOGINSuara tawa dingin Bramantyo memantul di dinding terowongan beton yang sempit, menciptakan gema yang menusuk gendang telinga. Di bawah pendar cahaya lampu darurat yang berkedip sekarat, siluet tubuh tegap Bramantyo melangkah maju perlahan. Bau mesiu segar, minyak pelumas logam, dan aroma hangus dari sisa-sisa ledakan di belakangnya berpadu menjadi satu di udara yang pengap.Di pangkuanku, Dira terbaring lemah dengan napas yang masih memburu. Pakaiannya robek dan dipenuhi noda jelaga hitam, sementara Kenzo berdiri tegak di depanku, memegang senapan serbu dengan magasin yang nyaris kosong.Buku-buku jari Kenzo memutih, menahan amarah dan kelelahan yang luar biasa setelah bertarung melawan maut di ruang kendali tadi."Kalian benar-benar merepotkan," suara logam Bramantyo berderit di balik seringai sinisnya. Ia mengangkat laras senapan serbu canggih miliknya, mengarahkannya tepat ke dada Kenzo. "Darius ingin kalian hidup-hidup... tapi kurasa sedikit luka tembak di kaki tidak akan jadi ma
Aku berlari kencang menyusuri terowongan evakuasi bawah air, memastikan Mery, Davina, dan Jacky berada di jalur yang aman. Bau air laut yang asin berpadu dengan debu beton memenuhi rongga hidungku. Namun, langkahku mendadak membeku saat deru earpiece di telingaku menangkap suara napas Kenzo yang memburu dan teriakan tertahan diiringi suara hantaman logam."Kenzo ! Ada apa?!" seruku lewat komunikator, dadaku bergemuruh gelisah."Dira... Dira masih terjebak di ruang kontrol utama !" suara Kenzo terdengar tercekat di antara bisingnya suara reruntuhan yang ambruk. "Pintunya tertimbun beton panas !"Tanpa berpikir dua kali, aku memutar arah langkahku. Aku meninggalkan kelompok evakuasi, berlari kembali menembus koridor markas yang kini separuh hancur.Suara alarm darurat berdengking memekakkan telinga, bersahutan dengan letupan-letupan kecil kabel listrik yang korslet. Asap hitam pekat mengepul tebal, menyesakkan dada dan membuat mataku perih luar biasa.Sesampainya di dekat sektor rua
Suara tawa sinis Bramantyo dari layar monitor utama langsung terpotong oleh bunyi hitung mundur digital yang berderit nyaring di dinding markas. Tiga puluh... dua puluh sembilan... dua puluh delapan...Bau belerang tipis dan sengatan panas mendadak merembes naik dari lantai bawah tanah, bercampur dengan aroma ozon dan kabel plastik yang mulai meleleh akibat panas ekstrem dari bom termit yang diaktifkan dari jarak jauh."Kita harus keluar dari sini sekarang !" seru Kenzo, suaranya menggelegar memecah kepanikan. Tanpa buang waktu, Kenzo meraih lengan Mery, sementara Jacky dan Davina memimpin barisan evakuasi menuju terowongan evakuasi darurat bawah air yang terletak di sektor barat.Namun, langkahku terhenti di depan pintu ruang kontrol utama. Dira tidak ikut bergerak bersama mereka. Wanita itu duduk terpaku di depan konsol utama, jemarinya yang lincah menari-nari bagai kesurupan di atas papan ketik virtual, dikelilingi oleh layar holografik yang berkedip merah terang."Dira ! Apa yang
Klik.Gelap gulita seketika menelan seluruh ruangan server. Layar holografik yang tadinya berpendar terang mati total, menyisakan deru kipas pendingin server yang perlahan melemah sebelum akhirnya benar-benar senyap. Aroma ozon dan debu panas langsung menguap di udara, digantikan oleh kepekatan malam yang menyesakkan.Suara tawa dingin Darius melalui speaker darurat masih menggantung di udara, menciptakan getaran psikologis yang menekan. Namun, di tengah kepungan kegelapan itu, tidak ada satupun suara kepanikan yang keluar dari mulut tim kami.Kenzo mendengus pelan di dalam gelap. Melalui pendengaran tajamnya yang telah terlatih di medan militer, ia bisa mendengar desau angin AC yang bergeser dari arah ventilasi sektor utara."Gretakan murahan," bisik Kenzo dingin. Suaranya nyaris tak terdengar. "Dia pikir kita akan panik."Aku mengangguk dalam gelap. Jari-jariku meraba gagang pisau taktis di pinggang, sementara aliran energi Kundalini berputar hangat di sepanjang tulang belakangku,
Wajah Darius Waluyo yang tersenyum lebar di layar konsol holografik mendadak berkedip terdistorsi, menyisakan deru statis frekuensi radio yang memekakkan telinga. Ruang server utama itu mendadak terasa begitu sesak. Aroma ozon dari perangkat elektronik yang bekerja terlalu panas bercampur dengan bau keringat dingin yang mengalir di pelipisku."Jangan dengarkan omong kosongnya !" suara Davina memecah kesunyian, tajam dan dingin bagai belati es.Wanita itu melangkah mendekat, aroma parfum Baccarat Rouge 540 miliknya menusuk penciuman di tengah ketegangan yang membakar. Ia menunjuk layar konsol dengan jarinya yang bergetar tipis. "Sistem transfer data itu baru saja hampir merilis seluruh peta pertahanan markas kita.Jika kau masih ragu untuk mengarantina Mery, maka kau sendiri yang sedang menggali kuburan kita semua, Kendi !"Di hadapan kami, Mery terduduk lemas di lantai semen yang dingin. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Tangannya mencengkeram erat ujung jaketnya sendir
Pukul dua pagi, ketika keheningan menyelimuti seluruh sudut markas rahasia Jenderal Yudha dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru halus mesin penyaring udara, aku terbangun oleh keheningan yang janggal. Udara di dalam kamar terasa dingin, berbau sedikit sengatan ozon dan sisa-sisa aroma antiseptik rumah sakit yang belum sepenuhnya hilang dari pakaianku.Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah tanpa suara menyusuri lorong beton menuju ruang server utama untuk mengambil beberapa data log pemulihan fisik.Namun, saat mendekati pintu geser baja yang sedikit terbuka, penciumanku menangkap aroma yang sangat kontras : Wangi sabun mandi malam bercampur dengan bau khas logam terbakar tipis, disusul oleh suara ketukan jemari yang asing di atas papan keyboard.Aku menghentikan langkah, merapatkan tubuh ke sisi dinding, dan mengintip melalui celah pintu yang sempit.Di dalam ruang server yang diterangi cahaya monitor holografik berwarna kebiruan, Mery berdiri terpaku di depan kons
Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel
Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di
Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh
Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p







