Home / Male Adult / Bermain Api Dengan Nyonya / Bab 27 : Rencana Rahasia Mery

Share

Bab 27 : Rencana Rahasia Mery

last update publish date: 2026-05-08 13:13:20

Lampu merah dari kamera optik itu berkedip sekali, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat jika aku tidak sedang mendongak dalam kegelapan. Jantungku yang tadinya melambat akibat kelelahan, kini kembali menghantam rongga dada.

Aku tidak langsung bergerak. Seorang manipulator tahu bahwa gerakan tiba-tiba adalah pengakuan atas ketakutan.

Aku melirik Mery Bramantyo. Dia masih bersandar di sofa, matanya terpejam, wajahnya tampak begitu tenang di bawah cahaya lilin yang sekarat.

Apakah dia tahu? Ata
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 132 : Kekonyolan Langkah Darius

    Suara deburan ombak yang menghantam lambung dermaga beton mendadak terdengar gamang. Mataku dan Kenzo terpaku pada dua sosok yang berdiri berhadap-hadapan di tengah kepulan sisa asap hitam berbau sulfur.Pemandangan itu tidak masuk akal—sesosok pria tua berwajah Jenderal Yudha kini berteriak dengan suara muda milik Darius, sementara raga Darius yang tegap justru menatap kami dengan sorot mata penuh wibawa miliknya yang asli.Dira di belakang kami membekap mulutnya, napasnya tersengal oleh rasa ngeri yang merayap di sekujur punggungnya. "Bagaimana... bagaimana bisa..." bisiknya gemetar, matanya membelalak menatap keanehan tersebut.Namun, di tengah kebingungan massal itu, Kenzo dan aku memejamkan mata sejenak. Melalui konsentrasi mendalam pada cakra Ajna di antara kedua alis kami, alirah energi Kundalini berputar jernih, menembus ilusi visual yang dikirimkan ilmu hitam tersebut. Aura jiwa mereka terpancar jelas ; batin Jenderal Yudha yang berontak terkurung di dalam daging Darius, sem

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 131 : Langkah Mengerikan Darius

    Suara sirene meraung memekakkan telinga, memecah kesunyian dini hari di ruang komando markas bawah tanah. Lampu darurat berkedip merah darah, memantulkan bayangan tegang di wajah setiap orang yang berkumpul."Mereka mengincar kita secara langsung," suara Jenderal Yudha memecah keheningan, berat namun penuh ketegasan mutlak. Ia menghempaskan tangan ke atas meja taktis yang memuat peta digital Jakarta. "Jika kita meladeni mereka di sini, ribuan warga sipil di pusat kota akan menjadi korban pertumpahan darah ini. Mari kita alihkan mereka jauh-jauh dari kota."Tanpa membuang waktu sedetik pun, roda gigi operasi bergerak. Kendi, Kenzo, Jacky, Dira, dan pasukan elit Jenderal Yudha segera bergerak sigap menuju armada kendaraan taktis. Aroma pelumas mesin, bau mesiu dari magasin yang baru diisi, dan deru berat mesin diesel berpadu di udara. Mereka meninggalkan markas pusat kota, membelah kegelapan malam menuju kawasan pelabuhan di pesisir utara Jakarta—sebuah area industri kosong yang luas,

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 130 : Kabar Dari Abah Usman

    Aroma dupa kayu gaharu yang terbakar tipis menguar di udara, bercampur dengan bau dingin beton fasilitas bawah tanah markas Jenderal Yudha. Di tengah ruangan komando yang sunyi, pintu baja bergeser terbuka. Sesosok pria tua berbadan tegap dengan balutan pangsi hitam sederhana melangkah masuk. Abah Usman. Langkah kakinya begitu ringan, nyaris tanpa suara, membawa serta kesunyian malam dari perbukitan Cianjur langsung ke jantung kota Jakarta yang bising.Kendi, Kenzo, dan Jenderal Yudha langsung berdiri menyambutnya. Pria tua itu melepas ikatan kepala hitamnya, menyeka peluh tipis di dahinya, lalu menghembuskan napas berat. Sorot mata Abah Usman tajam, memancarkan getaran batin yang dalam."Abah..." ucap Kendi, suaranya tertahan oleh rasa hormat yang mendalam."Aku datang membawa firasat dari angin utara, Ndi, Kenzo," suara Abah Usman parau namun tegas, menggema di dinding-dinding baja ruangan. "Meditasiku pecah semalam. Aku melihat pusaran darah dan besi membentang di atas kota ini.

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 129 : Firasat Dari Cianjur

    Asap putih tipis dari sebatang rokok yang menyala di jemariku perlahan memudar, tersapu embusan angin malam Jakarta yang mendingin. Namun, pikiranku justru terseret mundur pada sebuah bayangan yang masih meninggalkan hawa panas di sekujur kulitku.(Flashback)Dua hari yang lalu. Ruang istirahat kecil di sudut markas, berbalut dinding beton dingin dan deru mesin pendingin yang berputar monoton.Wajah Davina hanya berjarak satu inci dari wajahku. Mata hazelnya menatap tajam, menantang sekaligus menuntut. Aroma parfum Baccarat Rouge 540 bercampur dengan wangi mawar putih dari kulitnya langsung menyergap penciumanku—sebuah kombinasi pekat yang mengunci akal sehat. Saat bibir kami bertemu, tidak ada kelembutan di sana. Ciumannya brutal, memabukkan, dipenuhi rasa kepemilikan yang egois. Tangannya yang ramping namun kuat menelusuri dada telanjangku, kuku-kukunya yang bercat merah menggores pelan permukaan kulit, meninggalkan jejak panas.Aku mengangkat tubuhnya, menghimpitnya ke dinding

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 128 : Love interest Para Jagoan

    Lampu neon putih di ruang medis markas rahasia Jenderal Yudha memancarkan pendar dingin yang menerangi ruangan steril berukuran sedang itu. Bau tajam cairan antiseptik, alkohol medis, dan salep penenang berpadu di udara, menciptakan atmosfer yang sunyi dan menenangkan. Di atas ranjang berseprai putih, Siska terbaring lemas. Napasnya teratur namun berat, sisa-sisa efek obat penenang dosis tinggi yang diberikan tim medis bekerja meredakan guncangan psikis setelah teror panjang di markas The Eclipse.Jacky duduk di kursi logam tepat di sisi ranjang. Siku tangannya bertumpu di atas lutut, sementara dagunya disangga oleh kedua tangan yang saling bertaut. Matanya menyapu setiap jengkal wajah Siska yang tampak pucat—mulai dari bulu matanya yang basah oleh sisa air mata, bibirnya yang sedikit kering, hingga pergelangan tangannya yang masih dibalut perban tipis akibat gesekan tali penyiksa.Di dalam binar mata Jacky, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari rasa kasihan seorang rekan sa

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 127 : Prahara Dua Davina

    "Siska, tenangkan dirimu." Jacky melangkah maju, tangannya dengan lembut menyentuh bahu Siska yang masih bergetar hebat. Ia membawa wanita itu duduk di atas kursi terdekat, memberikan tatapan penuh keyakinan. "Dengarkan aku. Davina memang ada di pihak kita sekarang. Soal pesan yang kau lihat di ponsel Darius... itu bukan dia."Kendi dan Kenzo saling berpandangan. Kendi maju selangkah, menatap Siska dengan dahi berkerut. "Maksudmu, Jack?""Aku menemukan file terenkripsi di server utama The Eclipse saat menyusup tadi," jelas Jacky sambil melirik sekilas ke arah Davina. "Darius tahu Davina telah berkhianat dan memihak Jenderal Yudha. Karena frustrasi dan tidak terima, Darius menciptakan sebuah duplikat biologis—kloningan Davina yang diprogram dengan memori palsu agar mengira dirinya adalah Davina yang asli. Dialah mata-mata yang mengirim informasi itu."Suasana di ruang komando mendadak senyap. Siska tertegun, napasnya perlahan mulai teratur meski sisa-sisa trauma masih membekas di mat

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 6 : Labirin Pengkhianat

    Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 5 : Mahkota Dari Kawat Berduri

    Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 3 : Pion Yang Hancur

    Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status