Home / Male Adult / Bermain Api Dengan Nyonya / Bab 73 : Kenzo Yang Linglung 2

Share

Bab 73 : Kenzo Yang Linglung 2

last update publish date: 2026-06-08 06:54:38
DANGGG !

Suara jam dinding kuno di ruang tengah vila kolonial itu berdentang satu kali, memotong keheningan lereng gunung dengan taluan yang sakral sekaligus mengerikan.

Bunyi logam itu memicu gelombang kejut yang kasat mata di dalam benak Kenzo yang asli.

Di dalam ruang tengah yang remang, sepasang mata hitam Kenzo mendadak bergetar hebat sebelum akhirnya mengunci mati pada sosok Dira Andriani yang sedang berdiri menyeka sisa peluh di pipinya.

Di bawah pengaruh pasca-hipnotis saraf ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 139 : Mery Linglung lagi

    Pukul dua pagi, ketika keheningan menyelimuti seluruh sudut markas rahasia Jenderal Yudha dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru halus mesin penyaring udara, aku terbangun oleh keheningan yang janggal. Udara di dalam kamar terasa dingin, berbau sedikit sengatan ozon dan sisa-sisa aroma antiseptik rumah sakit yang belum sepenuhnya hilang dari pakaianku.Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah tanpa suara menyusuri lorong beton menuju ruang server utama untuk mengambil beberapa data log pemulihan fisik.Namun, saat mendekati pintu geser baja yang sedikit terbuka, penciumanku menangkap aroma yang sangat kontras : Wangi sabun mandi malam bercampur dengan bau khas logam terbakar tipis, disusul oleh suara ketukan jemari yang asing di atas papan keyboard.Aku menghentikan langkah, merapatkan tubuh ke sisi dinding, dan mengintip melalui celah pintu yang sempit.Di dalam ruang server yang diterangi cahaya monitor holografik berwarna kebiruan, Mery berdiri terpaku di depan kons

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 138 : Kekuatan Baru Kendi & Rencana Baru Darius

    Suara derap sepatu lars yang menghantam matras latihan bergemuruh di ruang kebugaran markas bawah tanah. Udara terasa panas dan pengap, dipenuhi aroma keringat segar yang bercampur dengan bau karet matras yang pekat. Aku melompat, menghindari ayunan balok kayu, lalu melancarkan pukulan beruntun ke arah kantong tinju berat hingga rantai penyangganya berderit nyaring.Latihan fisik intensif ini adalah harga yang harus dibayar untuk mengembalikan otot-ototku yang sempat membeku selama berminggu-minggu di ruang ICU.Di sudut ruangan yang lain, Mery berkonsentrasi penuh di atas matras yoga berwarna biru gelap. Dengan napas teratur yang berhembus lembut, ia melatih keseimbangan kakinya, meregangkan otot-otot yang lama lumpuh, serta menenangkan batinnya melalui meditasi ringan. Suara gesekan kulit telapak kakinya dengan matras terdengar selaras dengan detak jantungnya.Setiap orang di markas ini memiliki cara sendiri untuk bersiap menghadapi badai berikutnya. Kenzo berdiri bersidekap di d

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 137 : Pulihnya Sang Jagoan

    Jep... jep... jep...Suara desis tumpul yang memecah kesunyian malam itu bukan berasal dari alat medis, melainkan dari ujung laras pistol berperedam yang menyalak tiga kali berturut-turut. Cairan hitam di dalam jarum suntik yang tadinya dipegang oleh sosok berjubah hitam itu tumpah berantakan ke lantai linoleum putih, berpadu dengan cipratan darah segar begitu peluru menembus bahu kanannya.Sosok penyusup itu terpekik tertahan, menjatuhkan jarum suntik ke lantai sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang dan tersungkur di samping ranjangku.Dari balik tirai kaca ICU yang terbuka, Dira berdiri tegak dengan napas memburu. Asap tipis masih mengepul dari moncong pistol Glock berperedam di tangan kanannya. Bau mesiu yang tajam langsung menguar, memotong aroma antiseptik ruangan. Wanita itu bergerak cepat, menendang pisau yang hendak ditarik si penyusup, lalu menindih punggung pria itu dengan lututnya sambil memborgol kedua tangannya ke belakang.Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Kenzo berl

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 136 : Terbangun Dari Labirin Mimpi

    Di dalam kepekatan malam bawah sadar yang panjang, batinku terombang-ambing di antara batas kesadaran dan ketiadaan. Bau tanah basah sehabis hujan, aroma daun pinus yang menguap disengat matahari pagi, dan hembusan angin pegunungan yang sejuk tiba-tiba menyeruak tajam di indra penciumanku. Aku tidak lagi merasa sakit. Aku kembali menjadi anak remaja di perkampungan asri Cianjur, berlari kencang menyusuri jalan setapak berlumpur bersama Kenzo.Tawa kami berderai di antara rimbunnya belukar hutan bambu. Kami memegang senapan angin mainan, berpetualang menembus semak belukar demi mencari jejak burung liar, hingga sore harinya pelipis kami berdarah kecil akibat berbenturan saat berlatih jurus dasar Kundalini di halaman padepokan di bawah pengawasan Abah Usman yang memegang sebilah rotan. Suara benturan kaki di atas tanah liat, debu yang mengepul, dan rasa lelah yang membakar otot-otot remaja terasa begitu hidup.Lalu, ilusi itu mendadak patah. Dalam bayangan mimpi itu, aku terpeleset di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 135 : Diantara Hidup Dan Mati Kendi

    Suara lengkingan mesin monitor electrocardiogram menggema tajam, memecah kesunyian ruang ICU yang steril. Bunyi beep yang tadinya berirama teratur kini berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga."Kendi !" seru Kenzo tertahan.Tanpa membuang waktu, Kenzo melompati batas kaca pengaman yang pintunya baru saja dibuka paksa. Langkah kakinya berderap cepat di atas lantai linoleum putih. Ia langsung menghampiri ranjang, mendapati tubuhku melengkung ke atas akibat kejang hebat, sementara cairan darah segar merembes keluar dari sudut bibir, mengotori masker oksigen transparan.Bau amis darah bercampur dengan aroma tajam cairan disinfektan mendadak memenuhi udara ruangan sempit itu."Dokter ! Suster ! Cepat kemari !" teriak Kenzo dengan suara bariton yang bergetar keras, tangannya mencengkeram pagar pengaman ranjang hingga buku-buku jarinya memutih.Dalam hitungan detik, tim medis berjas putih menerobos masuk. Suara sepatu bergesekan dengan lantai terdengar ricuh. Seorang dok

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 134 : Bertahannya Sang Jagoan

    Hantaman ledakan itu merobek langit malam, melemparkanku ke dalam kegelapan pekat sebelum tubuhku terhempas bebas ke pelukan air laut yang dingin membeku. Di bawah permukaan air yang berputar kacau oleh gelombang sisa ledakan, kesadaranku melayang di antara hidup dan mati. Rasanya sunyi. Di tengah keheningan bawah air itu, memori masa lalu berputar kencang seperti pita film yang terbakar.Bayangan masa kecilku bersama Kenzo muncul dengan warna-warna terang yang menyilaukan. Kami berlari-lari di halaman rumah berumput basah, berebut mainan kayu buatan Ayah hingga berujung pada adu pukul kecil yang membuat Ibu melerai sambil tertawa kecil. Bau masakan rumahan Ibu dan aroma keringat Kenzo selepas bermain di bawah terik matahari terasa begitu nyata di rongga hidungku.Kilasan itu bergeser cepat. Usia remaja kami menyapa di bawah naungan bambu Padepokan Abah Usman. Bau dupa kayu gaharu, suara gesekan kain pangsi hitam, dan rasa sakit luar biasa di persendian saat kami membanting tubuh d

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 6 : Labirin Pengkhianat

    Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 5 : Mahkota Dari Kawat Berduri

    Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 3 : Pion Yang Hancur

    Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status