Dira, yang sejak tadi mengawasi setiap gerak-gerik Bumi dalam diam, langsung menajamkan pendengarannya ketika melihat pria itu mengambil HP-nya, dan menghubugi seseorang."Di mana, Sayang?" suara Bumi terdengar rendah, mengalir begitu alami tanpa paksaan.Dira memicing.Mendengar Bumi memanggil 'sayang' kepada orang lain, panggilan yang dulu hanya menjadi miliknya. Membuat wajahnyaa mendadak terasa panas terbakar.Bumi tampak mendengarkan sejenak, matanya menatap keluar jendela."Iya kah? Aku belum lihat. Biasanya Fadel ngasih tahu, dia juga belum ngasih tahu. Nanti aja aku bikin postingan," kata Bumi. Terdengar sayup-sayup, tapi jelas Dira paham.Pria itu kemudian terdiam cukup lama. Dia membiarkan Maura mengoceh di seberang telepon, entah menggerutu atau merengek karena gosip yang makin liar. Tapi, alih-alih terganggu dengan kebisingan istrinya, sudut bibir Bumi justru sedikit terangkat."Di rumah aja, aku entar pulang. Kalau takut di kamar, tunggu di ruang tengah. Paham?" kata pria
اقرأ المزيد