LOGINMaura menunduk, menatap punggung tangannya sendiri yang masih digenggam erat oleh Bumi. Ada keheningan sejenak di dalam kabin mobil yang terasa begitu kontras dengan binar antusiasme yang baru saja meredup di matanya.Rasa kecewa itu tentu ada, bayangan tentang perjalanan panjang untuk menemui ibu kandungnya mendadak harus berbenturan dengan realitas, kehamilannya yang masih rentan dan setumpuk pekerjaan kantor yang menanti sang suami.Jelas dia tahu, Bumi bukan seorang pekerja biasa."Tapi... kalau ditunda terus, kapan kita bisa ke sana, Mas?" cicit Maura lirih, suaranya terdengar begitu rapuh di balik temaram lampu jalanan.Bumi menghela napas berat sekali lagi. Dia juga berpikir begitu."Mas nggak bermaksud menundanya lama, Sayang," ucap Bumi tenang, pandangannya tetap fokus menatap lurus ke jalan raya di depan. "Mas cuma butuh waktu beberapa saat aja. Lagian kamu masih harus ke kampus kan. Bentar lagi ujian."Maura diam.Tentu dia membenarkan pernyataan itu."Lagipula Mas mau kamu
"Katanya tadi mau nunggu draf bab empat selesai dulu?""Revisi bab empat bisa kita bahas di grup WhatsApp aja, Gas! Kepala gue mendadak pening, butuh rebahan!" jawab Maura berdalih asal.Matanya sempat melirik tajam ke sudut kafe, tempat sang suami yang dengan amat santai sedang memutar-mutar cangkir kopinya.Risti yang tahu betul situasi darurat itu sibuk menahan tawa."Iya, Gas. Mending kita balik sekarang. Kasihan noh, anak hlgedenya lagi nungguin.""Anak gede apaan?!" sahut Bagas.**"Bapak Bumi Arkatama yang terhormat! Kamu bener-bener ya!" semprot Maura menggebuk lengan tegap suaminya dengan bantal leher. "Maksudnya apa coba pake masuk segala. Kan udah aku bilang tung-nggu di-mo-bil!! Ngerti nggak tunggu di mobil?!"Bumi tidak meringis sedikit pun terkena gebukan bantal leher empuk itu. Pria itu malah membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang, persis dosen penguji yang sedang menghadapi mahasiswanya yang sedang tantrum saat ujian skripsi."Mas ngerti bahasa Indonesia,
Tepat saat itu, mobil milik Bumi baru saja berhenti sempurna di salah satu petak parkir. Lampu hazard berkedip pelan. Belum sempat Bumi melepas sabuk pengaman, pintu penumpang depan sudah dibuka paksa dari luar.Istrinya menyelinap masuk dengan gerakan kilat, menyandarkan tubuhnya lemas di jok sampai berbunyi cukup kencang.Bumi membetulkan letak kacamatanya dengan gaya tenang, menatap istrinya yang kini sibuk mengatur napas. "Kamu habis dikejar rentenir apa gimana?""Mas Bumi ih!" semprot Maura menunjuk suaminya gemas. "Kamu tuh nekat banget! Untung mataku jeli lihat mobil kamu baru belok! Kalau sampai kamu masuk ke kafe, mau ditaruh di mana mukaku di depan Bagas ?!"Bumi terkekeh rendah. Suara tawa beratnya menggetarkan kabin mobil yang beraroma kayu manis dan AC dingin. Pria itu menyandarkan satu tangannya di kemudi, menatap Maura dengan binar jahil yang sangat menawan."Mukamu yatetep disitu, mau di taruh dimana lagi?" sahut Bumi tanpa dosa. "Mas mau awasin kamu, kali ajakamu aneh
"Tuh kan! Nangis lagi! Bikin kepala pusing aja!" jerit Dira."Kamu benar-benar nggak punya hati ya, Dira!" bentak Mama yang akhirnya kehabisan kesabaran. Mama merebut botol susu di meja, lalu mengomeli Dira habis-habisan. "Mama bela-belain kamu, Mama turutin semua kemauan kamu, tapi kamu sekarang malah jadi ibu yang nggak bertanggung jawab! Maura aja yang bukan siapa-siapa, seneng baget liat anak kamu!"Nama Maura yang disebut Mama makin membakar emosi Dira. Dira berdiri, menunjuk boks bayi dengan napas memburu."Dia senenga karena menang!!! Kalau gitu kasihin aja anak ini ke Maura! Biar Maura sama Bumi yang urus!"Brak!Papa menggebrak meja tamu cukup keras."Cukup, Dira! Papa nggak pernah mengajari kamu jadi manusia nggak tahu diri seperti ini!" Papa menatap Dira dengan pandangan tajam penuh penyesalan. "Mulai hari ini, belajar jadi ibu. Urus anakmu sendiri. Kamu ini udah tua, bukan anak SD lagi!"Dira menggeram frustrasi, menghentakkan kakinya keras-keras lalu berjalan cepat menuju
"Ya, Pak Hendra. Bagaimana?" ucap Bumi setelah menempelkan HP di telinganya, langsung to the point.Pria berkacamata itu sedang menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya sebelumnya, memutar-mutar bolpoiny premium di antara jemarinya.Di seberang telepon, suara pria paruh baya yang merupakan detektif swasta kepercayaan Bumi terdengar jelas. "Selamat pagi, Pak Bumi. Soal pencarian yang Anda minta, kami sudah mendapatkan titik terangnya. Ibu Dewi saat ini terdeteksi tinggal di sebuah desa kecil di daerah lereng gunung di Jawa Tengah."Bumi menaikkan sebelah alisnya, tangannya yang memegang bolpoint berhenti bergerak. "Jawa Tengah? Sudah dipastikan?""Sudah, Pak. Berdasarkan data kependudukan lama dan beberapa penelusuran lewat kantor pemerintahan terkait, lokasinya valid. Hanya saja, untuk verifikasi langsung lokasi yang bersangkutan, tim kami terkendala jarak. Kalau Pak Bumi mau kami langsung meluncur ke lokasi untuk memastika, kami bisa atur... tentu dengan tambahan biaya operasional.
Dadanya berdesir hangat, ada rasa haru yang menyelusup pelan di benaknya. Entah. Melihat ketulusan Maura yang begitu menyayangi bayi mungil itu, tanpa menyimpan dendam sedikit pun pada keluarga yang sebelumnya tak berpihak padanya. Membuat Mama merasa tersentil.Tatapan Maura pada sang keponakan sungguh kontras dengan Dira yang sejak semalam hanya menunjukkan penolakan.Tapi, kehangatan itu seketika pecah saat suara ketus Dira memotong udara."Nggak usah pegang-pegang sembarangan!" sentak Dira tajam dari ranjangnya. Matanya menyalang penuh dengki dan amarah yang meluap-luap. "Tangan belum steril! Jangan asal sentuh pipi bayi!"Mama lagsung menoleh. "Dira! Kamu apa-apaan sih, kok ngomongnya gitu?!" tegur Mamanya, tiba-tiba."Dira nggak suka ya, Ma! Anak selingkuhan kayak dia nggak pantas nyentuh anak Dira!" lanjut Dira makin histeris.Maura beku, menghentikan jemarinya yang hendak mengelus pipi bayi itu lagi. Binar bahagia di matanya sedikit redup.Bumi tak tinggal diam. Dengan gerakan
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan







