“Abaaaang.”Suara Rania pecah bersamaan dengan pintu kamar kecil di belakang dapur yang terbuka cepat. Gadis itu langsung keluar dari persembunyiannya begitu melihat Sakti berdiri di depan pintu.Tanpa ragu, dia berlari dan memeluk tubuh pemuda itu erat-erat. Tangisnya langsung pecah. Tubuh kecilnya gemetar. Jemarinya mencengkeram bagian belakang baju Sakti seolah takut lelaki itu akan meninggalkannya lagi.“Tenang, Rania. Semua sudah aman,” ujar Sakti pelan sambil membelai rambut gadis itu dengan lembut.Meski berusaha terlihat tenang, Sakti bisa merasakan bagaimana ketakutan masih menguasai tubuh Rania. Napas gadis itu tersengal dan sesekali bahunya bergetar karena menahan tangis.Beberapa saat kemudian, setelah emosinya sedikit mereda, Rania perlahan melepaskan pelukannya. Wajahnya basah oleh air mata.“Aku takut sekali, Bang,” ujarnya lirih dengan suara bergetar. “Mereka tak kenal belas kasihan.”Sakti mengangguk pelan. Tatapannya lalu beralih ke arah Joseph yang berdiri tak jauh
더 보기