“Sudahlah, kau menurut saja.”Suara Sakti terdengar rendah dan tenang di tengah suasana suite yang terasa menekan. Dia duduk sedikit lebih dekat ke arah Sinta, lalu perlahan membelai rambut gadis itu seperti seseorang yang sedang menenangkan anak kecil yang ketakutan.Namun refleks Sinta langsung menepis tangan itu dengan kasar.“Jangan sentuh aku!”Suara gadis itu bergetar. Napasnya terdengar tidak stabil. Sejak tadi tubuhnya memang terus tegang seolah siap memberontak kapan saja. Tatapannya penuh kewaspadaan, bahkan sedikit putus asa.Sakti tidak marah. Dia justru menatap gadis itu lebih dalam. Lalu tangannya bergerak pelan menyentuh pundak Sinta. Jemarinya memberi sedikit tekanan kecil, sangat samar, tetapi cukup membuat gadis itu kembali menoleh.“Ini tidak akan menyakitkan seperti apa yang kau bayangkan.”Nada suara Sakti tetap datar. Tidak terlalu lembut, tetapi juga tidak mengancam. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Sinta perlahan berhe
더 보기