Namun, baru saja Blaire bergerak hendak menegakkan tubuh, sebuah tangan besar yang terasa dingin tiba-tiba mendekat. Tanpa sepatah kata pun, Ben mendorong kening Blaire dengan telapak tangannya, memaksa perempuan itu kembali terhempas ke bantal.Blaire yang terperanjat langsung menepis tangan Ben dengan kasar sembari melayangkan tatapan protes yang membara. “Aku mau kembali ke kelas, Ben. Jangan mengaturku.”“Aku akan kembali ke kelas,” kata Blaire penuh ketegasan, mencoba menantang dominasi laki-laki di hadapannya.Namun, Ben seolah memiliki stok kesabaran setipis tisu. Lagi dan lagi, kali ini dengan tekanan yang lebih tegas, dia mendorong pundak Blaire hingga perempuan itu kembali merebah telentang di ranjang.“Minum obatmu lalu tidur,” titah Ben. Nada suaranya rendah, berat, dan dipenuhi aura intimidasi yang mutlak—jenis nada yang menegaskan bahwa bantahan apa pun hanya akan berakhir sia-sia.“Aku bukan anak kecil yang harus kau dikte,” desis Blaire tajam.“Kau lebih parah dari ana
続きを読む