Kenaya menoleh padaku lagi. Kali ini, ia tersenyum penuh arti, bahkan ada binar geli di matanya yang membuatku semakin tidak tenang."Kesepakatan pernikahan kalian itu sebenarnya hanya akal-akalan Mas Althaf, Mbak," bisik Kenaya. Suaranya rendah, mengandung sebuah rahasia besar yang selama ini terkunci rapat.Dahiku langsung berkerut dalam. Aku mencondongkan tubuh ke depan, sepenuhnya melupakan kesedihanku barusan. Fokusku kini tersita total oleh Kenaya. "Maksud kamu apa, Ken?" tanyaku, bingung sekaligus sangat penasaran.Kenaya tertawa kecil, seolah menikmati reaksi terkejut yang ia ciptakan di wajahku. "Ya, akal-akalan. Pernikahan ini bukan sepenuhnya tentang bisnis, atau sekadar misi menyelamatkan perusahaan keluarga seperti yang selama ini dia katakan padamu, Mbak Senjani."Aku memandangnya dengan tatapan menuntut, menuntut kejujuran. "Aku semakin tidak paham maksudmu. Tolong, jelaskan saja langsung," desakku.Kenaya menghela napas, ia men
Read more