共有

BAB 16

作者: Mikaelach09
last update 公開日: 2026-05-10 18:07:49

Tangga marmer terasa dingin di bawah langkahku padahal aku menggunakan alas kaki. Setiap anak tangga yang kutapaki terasa menambah beban di dadaku. Lantai dua rumah keluarga Dirgantara ini jauh lebih sunyi daripada lantai bawah. Lampu gantung kristal di lorong memantulkan cahaya redup, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Hening. Seolah-olah aku sedang berjalan menuju ruang yang menyimpan rahasia kelam.

Begitu pintu kamar terbuka, langkahku sempat terhenti.

Ruangan ini… begitu luas, megah
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 17

    Aku mendorong perlahan pintu walk-in closet yang terhubung langsung dengan kamar utama. Begitu pintu kayu berlapis finishing matte itu terbuka, udara di dalamnya menyeruak keluar, membawa aroma khas parfum maskulin yang segera menguar, memenuhi indra penciumanku. Wangi segar citrus bercampur hangatnya aroma kayu, begitu lekat dan intim, seolah setiap sudut ruangan itu adalah bagian dari Althaf.Begitu aku melangkah masuk ke walk-in closet Althaf, aku hampir ternganga. Ruangan ini bukan sekadar lemari pakaian—ini seperti galeri pribadi, megah dan nyaris sempurna dalam setiap detailnya.Lampu LED yang tersembunyi di sepanjang plafon memancarkan cahaya lembut, berpadu dengan lampu kecil berbentuk bintang di langit-langit yang berkelip samar, membuat ruangan terasa hangat sekaligus mewah. Pantulan cahaya itu mengenai kaca bening yang menutupi rak-rak pakaian, menciptakan bayangan berlapis-lapis, seolah aku sedang berjalan di dalam dunia Althaf yang rapih dan dingin.Di kanan-kiri, barisan

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 16

    Tangga marmer terasa dingin di bawah langkahku padahal aku menggunakan alas kaki. Setiap anak tangga yang kutapaki terasa menambah beban di dadaku. Lantai dua rumah keluarga Dirgantara ini jauh lebih sunyi daripada lantai bawah. Lampu gantung kristal di lorong memantulkan cahaya redup, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Hening. Seolah-olah aku sedang berjalan menuju ruang yang menyimpan rahasia kelam.Begitu pintu kamar terbuka, langkahku sempat terhenti.Ruangan ini… begitu luas, megah, dan mewah. Tapi entah kenapa, aku merasa ada hawa dingin yang langsung merambat ke tubuhku. Warna abu-abu mendominasi hampir semua sudut—dari dinding, sprei, hingga karpet tebal di lantai. Rasanya seolah aku sedang melangkah masuk ke dalam dunia Althaf sendiri. Dunia yang sunyi, rapi, dan terlalu sempurna, tapi juga dingin dan kosong.Ranjang besar di sisi kanan terlihat begitu teratur, dengan bantal-bantal tersusun rapi seakan tak pernah berantakan. Di nakas, ada vas bunga putih segar—kontras

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 15

    Oma menggenggam kedua tanganku erat, hangatnya seolah merambat langsung ke dadaku. Tatapan matanya menembus, lembut tapi sarat dengan harap.“Tolong… sayangi Althaf, ya, Senja.” suaranya bergetar, lirih, seakan setiap kata keluar dari lubuk hati paling dalam. “Sayangi dia… bimbing dia. Di balik sikapnya yang dingin dan kaku itu, sebenarnya Althaf anak yang penyayang. Dia hanya… tidak bisa mengungkapkannya dengan mudah.”Aku terdiam, merasakan jemari Oma sedikit bergetar. Beliau menunduk, matanya berkaca-kaca, seolah menahan air mata yang tak ingin jatuh.“Tolong jangan menyerah, ya, Senja. Oma tahu… awalnya pasti berat. Berat sekali. Tapi Oma yakin… Oma tidak salah merestui hubungan kalian.”Seketika, dadaku terasa sesak. Kata-kata Oma seperti menekan sesuatu yang selama ini sudah penuh di dalam diriku.Oma menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Dulu… Althaf pernah mengenalkan kekasihnya kepada Oma. Dia salah satu rekan kerjanya di kampus, mungkin kamu juga kenal. Tapi… dari sika

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 14

    Aku menatap mata Althaf beberapa detik, sebelum akhirnya memasang tawa renyah—palsu tentunya. “Yaelah, Lay. Mana mungkin cincin gue sama kayak punya Pak Althaf. Cincinnya beliau pasti berlian asli dari Tiffany & Co. Lah gue? Cuma cincin murah dari Tanah Abang.”Layla langsung ngakak sambil menepuk meja. “Hahaha, bener juga! Mana mungkin lo couple-an sama Pak Althaf. Bisa-bisa istrinya ngamuk, kan Pak?”Aku menelan ludah pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Revan menatapku tajam penuh curiga. Sedangkan Althaf? Ia malah tersenyum tipis, tenang sekali. Seolah nggak ada yang perlu ia sembunyikan.“Cemburu itu wajar,” jawab Althaf kalem. “Kalau seorang istri nggak cemburu, justru itu yang aneh.”Layla langsung nyamber dengan gaya bercandanya. “Kalau saya sih, Pak, jadi istri Bapak, udah ngekorin ke mana-mana. Bapak ganteng banget. Pasti banyak lebah yang mau nempel sama Bapak.”Aku hampir tersedak. Revan spontan memelototi Layla. “Layla, mulut Lo bisa di rem nggak sih.”Layla langsun

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAN 13

    Kafetaria sore itu penuh sesak. Bau kopi hitam bercampur dengan wangi mie rebus dan suara mahasiswa yang berceloteh, menciptakan riuh rendah khas kampus. Di meja pojok dekat jendela, aku, Layla, dan Revan duduk mengelilingi laptop dengan catatan berserakan.“Jadi, inti film Pengepungan di Bukit Duri kan jelas ya, perjuangan pemuda melawan penjajah,” Layla membuka diskusi sambil mengetik cepat di laptop. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang setiap kali ia menunduk. “Kalau analisisnya, gue kepikiran buat bahas sisi keberanian dan pengorbanan generasi muda. Itu pesan yang paling menonjol.”Revan menyandarkan tubuhnya, mengaduk es kopi hingga berbunyi ting… ting berulang. “Klise, La. Semua juga bisa ngomong soal pengorbanan. Menurut gue, yang menarik itu konflik batin tokoh utamanya. Dia sempet ragu, pengen kabur demi selamat, tapi akhirnya tetep bertahan. Itu lebih manusiawi, dan justru bikin kita bisa relate.”Aku yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat suara. “Iya, gue setuju sam

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 12

    Mata kuliah Althaf akhirnya usai. Mahasiswa mulai merapikan barang-barang mereka, begitu juga aku yang buru-buru memasukkan laptop dan alat tulis ke dalam tas, berharap bisa segera keluar dari kelas tanpa menarik perhatian.Namun sebelum sempat berdiri, suara berat itu terdengar, memecah riuh rendah kelas.“Senjani, saya tunggu di kantor.”Nada suaranya datar, dingin, tanpa memberi ruang untuk menolak. Ucapannya singkat, tapi cukup membuatku membeku di tempat.Ia langsung melangkah keluar, meninggalkan kelas dengan langkah mantap. Dari pintu, samar-samar kulihat Reihan sudah menunggunya—pria yang kukenal sebagai tangan kanannya di Dirgantara Textile, sekaligus asisten pribadinya.“Ada urusan apa lagi lo sama Pak Althaf, Sen?” suara Layla menyusul, penuh rasa penasaran. Tatapannya menyipit, seolah berusaha membaca rahasiaku. “Perasaan belakangan ini dia sering banget manggil lo.”Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku. “Kayaknya… ngebahas tugas gue

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status