"Kita berangkat bersama," ajak Raksa.Laras yang sedang berjalan menuju mobilnya pun berhenti. "Berangkat... bersama?""Kita kan searah," sahut Raksa acuh tak acuh."Saya berangkat sendiri aja, Pak." Laras langsung menolak.Alis Raksa terangkat. "Kenapa? Itu sangat tidak praktis."Tidak praktis? Yang ada hidup saya bisa terancam terkikis kalau berangkat bareng Bapak. Mikir dong, hey.. wahai Bapak Raksasa yang maha benar. Bapak mah enak atasan, lah saya.. gimana nasib saya yang cuma kroco ini. Protes Laras, yang tentu saja hanya berani ia ucapkan dalam hatinya."Kita bisa jadi bahan gosip, Pak," jawab Laras. "Saya sudah pernah memberitahu Bapak kan? Kreativitas orang-orang di perusahaan dalam mengembangkan cerita sudah setara penulis novel."Bahasa halusnya tukang gibah. Lanjut Laras dalam hatinya."Itu urusan mereka. Saya tidak peduli.""Tapi, saya, amat, sangat, peduli, Pak." Ucap Laras penuh penekanan.Raksa menatap Laras, ia lalu terkekeh. "Baiklah. Kita berangkat masing-masing saj
続きを読む