Raksa menatap Linda sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Laras. "Mau nambah?"Laras menoleh, Raksa menunjuk piring Laras dengan dagunya. "Kamu makan lahap sekali, kalau masih kurang pesan lagi," ucapnya lembut.Linda yang daritadi bicara langsung terdiam. Raksa tidak meresponnya. Seolah ia tidak ada di sana.Linda tersenyum kaku. "Pak Raksa...""Makan kamu sedikit, pantas pertumbuhan kamu terhenti," ledek Raksa, yang tentu saja tertuju pada pujaan hatinya, Laras."Saya makan banyak, kok," protes Laras, ia tidak terima.Linda memperhatikan keduanya. Tatapan Raksa kepada Laras jelas-jelas bukan seperti seorang atasan ke karyawannya.Linda masih terus berusaha mengembalikan percakapan. Kenapa selalu Laras, lagi-lagi Laras. Ia dibakar amarah sejak semalam karena Bagas malah memikirkan Laras saat bersamanya, dan sekarang.. lelaki setampan Raksa malah memperhatikan Laras.Dasar perempuan gatel, nggak cukup Mas Bagas, sekarang Pak Raksa juga.. Linda menggigit bibirnya, rasa ir
続きを読む