LOGINZahwa menutup mulutnya, tak menyangka jika istrinya Christopher pun berkelakuan sama buruknya dengan suaminya."Kalau Mas Devan cuma bawa masalah kehamilan Sherly, mereka emang bisa dengan mudahnya mengelak pakai alibi tes DNA yang belum ada," lanjut Lusi. "Tapi kalau kita kasih tahu keberadaan Christopher dan bawa kesaksian korban pelecehan lainnya ke jalur hukum, istrinya Christopher enggak bakal bisa berkutik lagi. Reputasi agensi dan nama baik perusahaaan mereka pasti akan langsung hancur."Zahwa langsung menyadari betapa pentingnya informasi yang dibawa Lusi. "Lusi... kita harus kasih tahu Mas Devan sekarang juga. Dia butuh bukti-bukti ini.""Emangnya Mas Devan rapat dimana?""Di perusahaan pusat Knox grup.""Oke. Aku tahu dimana lokasinya. Aku akan kesana sendiri. Kamu sebaiknya di rumah aja. Kamu lagi hamil, kan? Aku gak mau Mas Devan memarahiku karena mengira memaksamu membawamu ke sana," jelas Lusi yang membuat Zahwa terkekeh pelan."Baiklah, aku
Devan tidak membalas sapaan itu. Ia menarik kursi di seberang Martin, lalu meletakkan sebuah berkas di atas meja dengan bunyi terhempas yang cukup keras. Tatapan matanya menusuk tajam, memancarkan aura dingin yang membuat suasana mendadak mencekam."Saya datang bukan untuk membahas revisi desain, Pak Martin. Saya datang untuk memberi keputusan resmi dari biro kami terkait kelanjutan keterlibatan kami di proyek Knox Group."Martin menaikkan sebelah alisnya, terkekeh sinis. "Maksud Anda apa? Kontrak kerja sama kita sudah ditandatangani dan berjalan.""Dan di dalam kontrak tersebut, terdapat klausul integritas moral dan reputasi kemitraan," pangkas Devan. "Biro kami tidak pernah bekerja sama dengan pengembang yang memiliki masalah kredibilitas, terlebih lagi ketika pimpinan dan pemilik modalnya melindungi seorang pelaku kejahatan yang kabur dari tanggung jawab."Raut wajah Martin seketika berubah tegang. Ia paham betul ke mana arah pembicaraan ini. "Pak Devan, tolo
"Kamu tahu kalau Knox Grup pengembang proyek real estate yang sekarang lagi ada kerja sama proyek sama biro arsitek kamu, kan? Papa tahu kamu arsitek utama di proyek resort mereka."Devan terdiam sejenak, matanya menajam menatap jalanan di depannya. "Iya, Pa. Biroku emang pegang desain masterplan proyek terbaru mereka.""Pakai posisi dan pengaruh kamu sebagai arsitek utama proyek itu buat tekan mereka, Devan," tegas Irfan. "Knox Grup sangat bergantung sama rancangan dan lisensi dari firma kamu untuk jalanin proyek bernilai ratusan miliar itu. Kalau kamu ancam bakal batalkan kontrak atau ganti tim arsitek secara sepihak karena masalah integritas moral pemilik modal, mereka pasti bakal panik."Zahwa menatap suaminya, memberi isyarat untuk menyetujui ide sang mertua.Devan menyunggingkan senyum dingin. "Papa tenang aja. Aku tahu apa yang aku lakukan. Besok pagi, aku bakal atur pertemuan sama perwakilan dari, yaitu Martin Hendra. Kalau mereka pikir bisa lari dari tan
"Ma, gimana kondisi Tante Lina sekarang?" tanya Devan menatap pintu ruang ICU yang tertutup.Debby menghela napas panjang seraya mengusap sudut matanya yang basah."Kemarin Tante Lina sempat kritis, Dev... Kena serangan jantung sama tekanan darah tinggi," tuturnya dengan suara bergetar. "Dokter sama tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin dari semalam."Zahwa menutup mulutnya dengan telapak tangan, ikut merasakan keprihatinan yang terjadi pada Tante Lina. "Ya Allah... Terus gimana keadaan Tante Lina sekarang, Ma?""Alhamdulillah, kalau sekarang keadaannya sudah stabil," jawab Debby. "Cuma ya... Tante Lina masih belum sadar sampai siang ini. Dokter bilang dia masih butuh waktu buat istirahat sampai kondisinya benar-benar membaik."Devan melirik Om Adi yang masih terduduk membisu di pojok bangku tunggu dengan pandangan kosong. Pria paruh baya itu tampak begitu rapuh dan kehilangan arah setelah badai yang menghantam keluarganya secara beruntun."Om Adi
Zahwa terkekeh melihat kebahagiaan yang menguar dari wajah Kinara. Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh liku, akhirnya hubungan Kinara dan Alex mendapat lampu hijau yang selama ini mereka harapkan."Selamat ya, Ra," ujar Zahwa, menggenggam tangan Kinara. "Aku beneran ikut seneng banget. Berarti sekarang tinggal nunggu Alex melamar kamu, dong?""Aduh, Wa! Jangan bikin aku makin merinding deh!" jawab Kinara cepat seraya menutupi wajahnya yang mendadak makin merona. "Aku sama Alex baru baikan setelah sekian lama aku berusaha menolak. Alex bilang sih mungkin bulan depan keluarganya mau datang ke rumah buat silaturahmi. Tapi tetep aja, rasanya kayak mimpi!"Sebelum Zahwa sempat membalas celetukan Kinara, suara roda dari arah lorong menghentikan obrolan mereka. Ares mendorong kembali kursi roda Mbok Minah dengan hati-hati menuju ruang tamu."Udah selesai, Mbok?""Sudah, Non," sahut Mbok Minah. "Mbok lihat dari tadi Non Kinara senyam-senyum terus, ada beri
Mbok Minah tersenyum, mengusap tangan Zahwa yang menggenggam tangannya. "Alhamdulillah, Non. Sudah jauh lebih mending dibanding awal-awal pasca operasi kemarin. Sekarang ngilunya cuma sesekali datang kalau udara lagi dingin banget.""Terus terapinya gimana, Mbok? Masih rutin jalannya?""Masih, Non. Seminggu dua kali Ares rajin nganterin Mbok buat fisioterapi ke rumah sakit," terang Mbok Minah. "Dokternya bilang, penyambungan tulangnya bagus. Kalau rajin latihan, sebentar lagi Mbok udah bisa belajar jalan pakai tongkat."Zahwa menghembuskan napas lega. "Alhamdulillah... aku kepikiran Mbok terus tiap hari. Rasanya pengin banget jenguk Mbok, tapi kemarin Mas Devan gak bolehin karena sama dokter, aku diminta untuk bedrest.""Ah, Non mah... jangan dipikirkan soal itu," tukas Mbok Minah seraya menggeleng pelan. "Yang penting sekarang Non Zahwa sama calon bayi sehat-sehat terus. Itu udah cukup bagi mbok..."Zahwa tersenyum sembari mengusap ujung matanya yang kembal
"Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya
Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu







