เข้าสู่ระบบ"Tidak begitu, Tuan. Saya hanya ingin memastikan keputusan ini sudah dipertimbangkan." Javendra menutup map di hadapannya. "Perusahaan itu sudah lama berdiri di atas kebohongan. Kalau fondasinya rapuh, biarkan runtuh." Tidak ada seorang pun yang berani menyela. "Mulai hari ini, semua kerja sama strategis dengan Danendra Grup ditinjau ulang. Bekukan negosiasi yang masih berjalan. Tarik dukungan yang tidak memiliki kewajiban kontraktual. Untuk kontrak yang sudah ditandatangani, ikuti jalur hukum dan jangan beri mereka celah untuk menyerang balik." Dia berdiri. "Saya tidak meminta kalian menghancurkan perusahaan orang lain dengan cara ilegal. Saya meminta kalian berhenti melindungi orang-orang yang sudah terbukti melakukan kejahatan." Rapat berakhir tidak lama kemudian. Javendra kembali ke ruangannya. Baru saja dia duduk, Rendra mengirimkan laporan tambahan. [Rendra] Satu orang lagi sudah ditemukan. Dia mantan pengelola keuangan salah satu perusahaan milik Oscar. Dari k
Dia mendengarkan penjelasan di seberang telepon. Wajahnya perlahan berubah. "Jadi, ada transaksi yang tidak bisa kalian pertanggungjawabkan?" Panggilan itu berakhir tanpa jawaban yang memuaskan. Laura segera menghubungi seseorang yang selama ini membantu mengurus kepentingan keluarganya. Namun, panggilannya tidak dijawab. Dia mencoba nomor lain, kemudian nomor berikutnya. Hasilnya sama. Laura mulai gelisah. Dia akhirnya menghubungi salah satu orang yang terlibat dalam penyebaran foto Sasa. "Angkat teleponmu!" gerutunya. Panggilan ditolak. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk. [Nomor tidak dikenal] Jangan hubungi saya lagi. Saya tidak mau ikut terseret masalah ini. Laura membeku. Dia mencoba nomor lainnya, tetapi nomor tersebut sudah tidak aktif. Satu pesan lagi masuk. [Nomor tidak dikenal] Kami sudah memberikan semua informasi yang diminta. Jangan cari kami. Ponsel Laura terlepas dari tangannya. "Mereka meninggalkan aku?" Dia langsung menelepon
Pukul dua dini hari, sebuah ruangan di lantai tertinggi gedung milik Javendra masih menyala. Javendra duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya terdapat beberapa lembar dokumen, foto Laura Danendra, serta laporan awal yang dikirimkan Rendra. Ponselnya bergetar. [Rendra] Orang yang mengatur penyebaran foto sudah ditemukan. Dua orang yang menghubungkan Laura dengan akun gosip juga sudah kami amankan. Mereka mulai bicara. Javendra membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi. [Javendra] Siapa lagi? [Rendra] Ada tiga orang dari lingkaran lama Oscar. Mereka bukan sekadar membantu Laura. Mereka juga mengurus aliran dana untuk membiayai operasi ini. Javendra meletakkan ponselnya. Jadi, Laura tidak bergerak sendirian. Perempuan itu masih memanfaatkan jaringan lama ayahnya, meskipun Oscar sekarang berada di balik jeruji besi. Javendra tertawa pendek. "Bagus." Bram yang berdiri di dekat pintu menoleh. "Maaf, Tuan?" "Selama ini mereka pikir masalahnya hanya foto yang dis
Javendra masih menatap layar ponselnya setelah membaca laporan terbaru dari Bram. Seseorang di dalam perusahaan telah menggunakan akun staf administrasi untuk mengakses jadwal pertemuannya dengan Laura. Lebih buruk lagi, orang tersebut sengaja menyiapkan semuanya sebelum foto-foto itu tersebar. Javendra mengunci layar ponselnya dengan kasar. Sialan! Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, bukan hanya rencana itu yang membuatnya marah. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya. Ucapan Sasa. Kalau Mas menginginkan wanita lain dalam hidup Mas, katakan saja. Rahang Javendra mengeras. Bagaimana mungkin istrinya sampai berpikir seperti itu? Selama ini, dia bahkan tidak pernah bisa merasakan ketertarikan terhadap perempuan lain. Keberadaan wanita-wanita di sekitarnya tidak pernah berarti apa pun baginya. Hanya Sasa yang mampu membangkitkan sesuatu yang tidak pernah bisa dia rasakan kepada siapa pun. Lalu sekarang, karena ulah Laura, istrinya
Bukan karena tidak memahami maksud ucapan istrinya, melainkan karena ia tidak pernah membayangkan Sasa bisa memikirkan hal seperti itu. Ada dorongan untuk langsung membantah dengan nada tinggi. Namun, ketika melihat wajah istrinya yang masih pucat dan tubuhnya yang belum pulih, Javendra segera menahan diri. Ia tidak boleh menjawab kecemasan Sasa dengan kemarahannya. "Kenapa kamu berpikir begitu?" Sasa menunduk lagi. "Aku tidak tahu, Mas. Mungkin karena sekarang aku sedang hamil. Aku juga tidak bisa selalu menemani Mas seperti biasanya. Sedangkan Laura..." "Sayang." Javendra menyela dengan lembut. Ia meraih tangan Sasa, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan. "Dengarkan aku." Sasa mengangkat wajah. "Kamu masih ingat bagaimana awal kita bertemu?" Sasa mengangguk kecil. "Aku ingat." "Sejak saat itu, pernahkah aku menjalani kehidupan dengan wanita lain di belakangmu?" Sasa tidak menjawab. Javendra mengusap punggung tangannya. "Aku bahkan tidak pernah tertarik untuk menge
Malam semakin larut, tetapi Javendra belum beranjak dari sisi ranjang Sasa. Ibu Amara sudah beberapa kali memintanya beristirahat. Namun, pria itu selalu menolak dengan alasan ingin memastikan kondisi istrinya tetap stabil. Sasa sendiri sudah kembali tertidur setelah sempat terbangun beberapa kali. Wajahnya masih pucat, sementara infus di tangannya terus menetes. Javendra mengusap punggung tangan istrinya sebelum mengambil ponsel yang tergeletak di meja kecil. Ada satu pesan dari Bram. (Bram, Tuan Javendra. Saya menemukan perkembangan baru. Ada aktivitas akses terhadap jadwal pertemuan Tuan dengan Laura dari sistem internal perusahaan. Saya sedang menelusuri identitas pengguna dan riwayat komunikasinya.) Javendra membaca pesan itu dua kali. Matanya menyipit. Jadi, seseorang di dalam perusahaan memang mengetahui jadwal pertemuannya. Ia mengetik balasan singkat. (Jangan hubungi orang yang bersangkutan dulu. Periksa seluruh riwayat aksesnya dan cari tahu apakah ada komunikasi
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







