LOGINNamun, tindakan Amara tidak berhenti pada batas pertengkaran internal. Rasa takutnya akan kehilangan kendali membuat wanita itu makin terdorong ke sudut yang berbahaya. Dalam kesempatan lain, Amara menggelar pertemuan rahasia dengan seorang penasihat keuangan senior keluarga. "Beri aku rincian jalur aliran dana di anak perusahaan Singapura," perintah Amara tanpa emosi. "Aku butuh informasi mengenai struktur pembagian dividen yang bisa digunakan untuk menekan posisi Javendra di rapat pemegang saham bulan depan. Javendra harus paham bahwa tanpa dukunganku dan sekutu-sekutu lamaku, posisinya sebagai CEO tidak akan pernah aman." Amara memanfaatkan nama besar keluarga dan jaringan koneksi lamanya untuk menggalang kekuatan di belakang punggung Javendra. Ia mencoba membujuk para pemegang saham veteran, menanamkan keraguan atas kepemimpinan Javendra yang dinilainya terlalu agresif, dan berusaha menciptakan faksi di dalam tubuh manajemen Maheswara Group. Amara percaya bahwa jika t
Javendra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, memicingkan mata tajamnya. "Dari siapa?" "Pengirimnya teridentifikasi menggunakan pelakoper server terlindung yang terhubung langsung dengan pihak Jennifer Merlin, Tuan," jawab Bram lugas. "Email ini bukan sekadar pesan tertulis biasa. Di dalamnya melampirkan beberapa berkas arsip dan dokumen lama bernomor registrasi resmi yang secara langsung menyangkut sejarah internal keluarga Maheswara serta masa lalu Nyonya Amara." Mendengar nama Jennifer Merlin disebutkan, sorot mata Javendra membeku. Pria itu menegakkan posisi duduknya, memberikan gestur tegas dengan tangannya. "Buka dokumen itu di layar sekarang, Bram." "Baik, Tuan." Bram melangkah mendekat, menghubungkan tablet enkripsinya ke monitor besar di atas meja kerja Javendra. Dalam hitungan detik, pendar cahaya monitor menampilkan sebuah lembaran surat elektronik bertuliskan bahasa yang rapi namun penuh dengan implikasi tersembunyi. Jennifer Merlin tidak menuliskan kata-kat
Sasa tersenyum amat hangat mendengar jawaban itu. Ia kembali merebahkan kepalanya dengan nyaman di dada Javendra, mendengarkan irama detak jantung suaminya yang berpacu tenang dan teratur. Ruang keluarga yang megah itu mendadak dipenuhi oleh atmosfer kedamaian yang begitu erat. "Mas..." panggil Sasa pelan, jemarinya bergerak memainkan kancing kemeja Javendra. "Kira-kira nanti anak kita lebih mirip siapa ya? Kalau secara fisik, aku ingin dia punya mata tajam dan ketegasan wajah seperti Mas Javen." "Jangan," sahut Javendra cepat. "Aku ingin dia memiliki mata, senyuman, dan kelembutan hatimu. Kalau dia lahir sebagai anak perempuan, aku ingin dia sepenuhnya mirip dengan ibunya." "Tapi bagaimana kalau soal sifat?" goda Sasa terkekeh pelan. "Aku rasa kalau soal sifat, dia bakal menurunkan sifat Mas Javen yang super keras kepala dan terlalu protektif itu. Bayangkan kalau nanti dia sudah besar lalu mulai memprotes aturan-aturan ketat dari ayahnya sendiri." Javendra terkekeh rendah, se
Mansion utama Maheswara dibalut ketenangan yang amat sangat setelah deru mesin konvoi kendaraan mewah menderu pelan di pelataran beraspal mulus. Suasana hangat berpendingin udara dipadu dengan aroma lembut kayu cendana menyambut setiap langkah. Karpet beludru tebal yang melapisi lantai marmer meredam setiap jejak kaki, menciptakan ritme langkah yang amat santai dan dipenuhi kebahagiaan mendalam. Sasa melangkah pelan memotong area ruang tengah yang megah. Kedua tangannya memeluk erat map kulit bergaris emas yang berisi cetakan foto hasil pemeriksaan USG pertama calon buah hati mereka. Senyum bahagia tak pernah benar-benar luntur dari bibirnya yang merona alami. Di sampingnya, Javendra berjalan dengan postur tegap yang amat protektif. Setiap kali Sasa hendak melintasi undakan kecil, belokan koridor, atau ambang pintu, jemari tangan Javendra yang lebar, kokoh, dan hangat selalu sigap menopang pinggang istrinya dengan kehati-hatian yang luar biasa. "Mas Javen, aku bisa berjalan sen
"Aku janji, Mas Javen," sahut Sasa mantap dengan senyuman manis. Sasa kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke layar monitor USG. "Dokter Rini, apakah hasil gambar USG tadi bisa dicetak untuk kami bawa pulang?" "Tentu saja, Nyonya Sasa. Saya akan mencetak beberapa lembar foto USG untuk album kehamilan Anda," jawab Dokter Rini dengan ramah seraya mencetak lembaran foto hitam putih tersebut. Dokter Rini menyerahkan cetakan foto USG beserta berkas rekam medis dan resep vitamin. Javendra menerima lembaran foto itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Pria tegap itu menatap gambar kecil di kertas hasil cetakan tersebut dengan ekspresi lembut, menunjukkan sisi dirinya yang jarang terlihat oleh orang-orang di dunia bisnis Maheswara Group. "Dokter, tolong siapkan juga catatan resep tertulis dan panduan nutrisi harian ini dalam berkas resmi," ujar Javendra dengan sopan. "Aku ingin memastikan tidak ada satu poin pun dari instruksi Dokter yang terlewat saat kusampaikan kepada tim pe
"Mengonsumsi biskuit atau kraker gandum kering sebelum bangun dari tempat tidur pada pagi hari bisa membantu mengurangi rasa mual, Tuan Javendra," jawab Dokter Rini dengan sabar. "Menjauhkan makanan dengan aroma terlalu tajam dari Nyonya Sasa juga merupakan langkah yang baik. Untuk porsi makan, gunakan prinsip porsi kecil tetapi lebih sering, misalnya lima sampai enam kali sehari." Sasa segera menyela sambil tertawa kecil, menatap Dokter Rini dengan pandangan memohon. "Dokter, tolong jangan buat aturan yang terlalu ketat, ya. Saya tidak ingin Mas Javen mengubah seluruh rumah kami menjadi seperti dapur rumah sakit yang serba steril cuma karena saya hamil." Dokter Rini terkekeh. "Tentu tidak, Nyonya Sasa. Yang penting adalah kenyamanan ibu." Namun, rasa ingin tahu dan perhatian Javendra belum berhenti sampai di situ. Pria tegap itu kembali condong ke depan. "Bagaimana dengan aktivitas fisiknya, Dokter? Apakah Sasa masih boleh berjalan-jalan di dalam rumah? Bagaimana dengan menaik
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu







