Share

Bab 12

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-05-30 09:02:58

Perjalanan menuju rumah orang tuanya terasa begitu panjang dan sunyi. Sepanjang jalan, Nia tertidur di kursi samping karena kelelahan setelah tangisnya yang hebat tadi pagi.

Ana menyetir dengan pandangan lurus ke depan, tapi pikirannya mengembara jauh.

Ketika mobilnya akhirnya berbelok masuk ke pekarangan rumah masa kecilnya yang teduh di pinggiran kota, ada sebersit rasa lega yang menyusup ke dadanya.

"Sayang, kita sudah sampai di rumah Nenek." Ucap Ana dengan lembut untuk membangunkan putrin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 36

    Sinar matahari sore yang mulai meredup menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rawat nomor 302, menciptakan garis-garis keemasan di atas lantai kamar. Di dalam ruangan, suasana terasa jauh lebih tenang. Detak jantung Raka yang terpantau di layar monitor kini berbunyi dengan ritme yang stabil dan normal. Setelah hampir satu jam saling menumpahkan rasa rindu dan air mata, garis-garis ketegangan di wajah Raka perlahan mulai mengendur, digantikan oleh rasa kantuk akibat sisa pengaruh obat bius dari tim dokter.​Raka menatap wajah istrinya lekat-lekat. Dia bisa melihat dengan sangat jelas lingkaran hitam yang menggelayut di bawah mata Ana, serta rona pucat di pipinya yang tak bisa disembunyikan oleh sisa bedak tipisnya.​"Ana, Sayang..." panggil Raka, suaranya masih terdengar lembut dan sangat pelan. Raka menggerakkan jemarinya, mengusap punggung tangan Ana yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya. "Sekarang, kamu pulang ya. Pulang bersama Ayah." Ucap Raka pada istrinya.​Ana se

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 35

    Pertemuan pleno di ruang rapat utama kantor pusat Gery berjalan dengan dinamika yang luar biasa. ​Tepat pukul setengah empat sore, ketukan palu sidang tak resmi berbunyi. Amandemen kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah itu akhirnya resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan klausul yang adil dan menguntungkan kelangsungan perusahaan Raka. ​Begitu berkas-berkas dirapikan oleh sekretaris, Ana langsung berdiri dari kursinya. Ketegangan profesional yang baru saja usai seketika digantikan oleh rasa rindu dan cemas yang kembali membubung tinggi di dadanya. ​"Pak Gery, terima kasih atas penyelesaian kontrak hari ini," ucap Ana sembari mengulurkan tangannya dengan mantap. Gery menyambut jabat tangan Ana dengan genggaman yang hangat dan penuh rasa hormat. "Jika tidak ada hal lain lagi yang memerlukan kehadiran saya, saya mohon pamit untuk segera kembali ke rumah sakit." Lanjut Ana. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Ana. Kamu membuktikan bahwa keputusan saya untuk mem

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 34

    Suasana di dalam restoran Sunda bergaya paviliun terbuka itu terasa begitu menyejukkan.Suara gemercik air dari kolam-kolam ikan yang mengelilingi tempat makan saung, berpadu dengan aroma harum nasi liwet dan ikan bakar yang baru saja disajikan di atas meja. ​Pelayan baru saja selesai menata piring-piring makanan, meninggalkan Ana dan Gery dalam privasi saung mereka. Ana, yang sejak kemarin selalu memasang benteng pertahanan yang tinggi dan kaku, kini tampak sedikit lebih santai. Sisi humanis Gery yang diaa saksikan di panti asuhan tadi pagi benar-benar telah mengikis sebagian besar rasa curiga dan ketakutannya.​Gery mengambilkan secentong nasi liwet hangat, lalu mengulurkannya ke arah piring Ana dengan gerakan yang sangat natural. "Silakan, Ana. Makan yang banyak. Setelah ini kita akan menghadapi rapat pleno yang panjang, dan saya butuh ketajaman berpikirmu seperti kemarin." Ucap Gery.​"Terima kasih, Pak," sahut Ana, menerima suapan nasi itu dengan senyuman yang jauh lebih tulu

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 33

    Suasana di dalam aula panti asuhan terasa begitu sejuk.Setelah membagikan paket makanan dan bingkisan buku cerita kepada anak-anak, Gery dan Ana diajak oleh Ibu Utami untuk duduk di area selasar dalam yang lebih tenang, berbincang di atas kursi rotan sederhana.​Pelayan panti menyajikan secangkir teh melati hangat dan beberapa potong camilan pasar. Gery tampak begitu menikmati suasananya, menyesap tehnya dengan tenang, sementara jas formalnya kini diletakkan begitu saja di sandaran kursi.​"Saya benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi kepada Pak Gery," buka Ibu Utami, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. Ibu pengurus panti itu kemudian menoleh ke arah Ana, seolah ingin membagikan rasa kagumnya. "Ibu Ana, perlu Ibu ketahui, panti ini hampir saja digusur dua tahun lalu karena masalah sengketa tanah dengan pihak pengembang lain. Pak Gery lah yang turun tangan sendiri. Beliau membeli tanah ini atas nama yayasan, merenovasi bangunan yang bocor

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 32

    Perjalanan menuju pinggiran kota terasa jauh lebih lancar dibandingkan dengan jalur padat di pusat bisnis Jakarta pagi itu. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan lama sebelum akhirnya mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.​Di atas gerbang besi yang bercat putih terkelupas, tertulis papan nama sederhana, Panti Asuhan Kasih Mulia. Bangunan panti itu berbentuk rumah besar bergaya lama dengan halaman rumput yang hijau dan beberapa pohon mangga yang rindang. Suasana di sana terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan ketegangan yang merayap di dada Ana sejak kemarin.​Begitu mobil berhenti dengan sempurna di bawah rindangnya pohon mangga, sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Ana melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan blazer biru dongker yang dikenakannya. Sesaat kemudian, Gery menyusul turun. Pria itu langsung melepas jas formalnya, menyampirkannya di lengan kiri, dan membiarkan kemeja putihnya terbuka

  • Culik Aku, Mas Gery!   Bab 31

    Mobil sedan perak milik Ana membelah jalanan protokol ibukota yang mulai disergap kemacetan pagi. Sinar matahari pukul setengah delapan terasa mulai menyengat, memantul di antara kaca-kaca gedung pencakar langit. Fokus Ana terbagi antara memperhatikan marka jalan dan mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi rapat pleno penting bersama jajaran direksi perusahaan Gery. Di kursi penumpang, map dokumen biru tua yang sudah ditandatanganinya semalam tergeletak rapi, siap menjadi senjata utamanya hari ini.​Tepat pukul 07.45, Ana melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi kantor pusat milik Gery. Anaa berjalan dengan langkah taktis, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas.​Tapi, ketika dia keluar dari lift di lantai tempat ruang rapat utama berada, Ana mendadak menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut dalam. Suasana di sekitar ruangan itu teramat sepi. Tidak ada kesibukan staf yang membawa berkas, tidak ada aroma kopi yang biasanya disiapkan untuk menjamu para

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status