Ananta singgah ke rumah sakit sebelum ke kantornya. Kedua anak laki-lakinya sudah berpakaian rapi dan tengah menikmati sarapan mereka saat Ananta tiba. Dia tidak sendirian. Dia membawa tangan kanannya, Toni. Ananta menarik kursi mendekat ke arah bed pasien. “Bagaimana keadaanmu, Ma?” Ananta memegang punggung tangan istrinya, “Wajahmu sudah tidak terlihat bengkak seperti kemarin. Sepertinya sudah jauh lebih baik.” Ratna memejamkan matanya. Dia muak dengan tingkah Ananta. Bertanya tapi kemudian menyimpulkan sendiri. Mendiagnosa sendiri seperti seorang dokter yang lebih tahu kondisi pasiennya. Matanya membuka, menatap Toni. Toni yang merasa ditatap istri bosnya, membungkukkan diri.“Selamat pagi, Nyonya Ratna. Semoga lekas pulih.”“Mendekatlah, Toni,” Ratna berbicara dengan suara yang terdengar lemah.
続きを読む