Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah gorden apartemen, menerangi uap hangat yang mengepul dari mangkuk bubur ayam di atas meja. Suasananya begitu domestik dan tenang, sangat kontras dengan dunia luar yang sebentar lagi akan dihadapi oleh Galang Baraka.Galang duduk di kursi makan, sudah mengenakan kemeja taktisnya. Namun, ada satu pemandangan yang tak biasa: tangan kanannya terbebat perban putih yang cukup tebal, hasil dari "ujian" menembak kemarin yang membuat jahitan lukanya sempat terbuka. Sementara itu, di depannya, Salwa duduk dengan sabar, memegang sendok yang diarahkan tepat ke mulut Galang."Rumi, Mas bisa sendiri pakai tangan kiri. Kamu itu masih belum sehat benar, jangan terlalu banyak bergerak," protes Galang lembut. Suara baritonnya mencoba terdengar tegas, namun sorot matanya luluh saat menatap Salwa.Salwa menggeleng keras, wajahnya menunjukkan ketegasan yang lucu. "Tangan kiri Mas itu buat pegang kemudi nanti. Sekarang, tangan Mas harus istirahat s
더 보기