Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan
더 보기