Begitu Shin berhasil masuk ke dalam mobil, dia dan Leon pindah ke bagasi belakang. Mereka paham tugas mereka selanjutnya, yaitu menyingkirkan sekawanan serigala. Leon membuka pintu bagasi, lalu menyiapkan senapan besar yang sama seperti yang dia gunakan saat dikejar Riders beberapa hari lalu. “Oh, astaga. Aku nostalgia,” dengus Leon, “lagi-lagi aku yang mengerjakan ini.” Shin terbahak. “Ah, aku baru ingat. Kamu yang waktu itu menembak dari belakang mobil saat reguku menyergap mobil kalian, ya? Tembakannya payah sekali.” Darah Leon terasa mendidih mendengarnya. “Kalau payah, aku tak akan mampu menghabisi anggota regumu seluruhnya, tahu!” “Ya, ya. Tapi kamu tak bisa mencegatku, kan? Buktinya, aku bisa lolos darimu saat itu,” kata Shin yang terkekeh. Leon menampar keras bahu Shin, menggerutu kesal, “Tutup mulutmu, Keparat!” “Begitukah caramu bicara pada teman?” ledek Shin. Suara Leon makin meninggi. “Kamu bukan temanku!” Leon memang sasaran empuk bagi Shin, sebab dia se
Leer más