LOGINSuara tamparan keras memecah udara sore di lorong sempit menuju dapur panti.
Tamparan tangan Tasya mendarat telak di pipi kiri Arshy, memicu bunyi sengatan nyaring yang membuat suasana seketika membeku. Kulit pipinya yang putih halus langsung memerah padam, meninggalkan rasa panas yang membakar. Arshy memegangi pipinya yang berdenyut sakit. Ia menatap Tasya dengan mata membelalak lebar, penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan yang mendalam. "Tasya, kSuara tamparan keras memecah udara sore di lorong sempit menuju dapur panti. Tamparan tangan Tasya mendarat telak di pipi kiri Arshy, memicu bunyi sengatan nyaring yang membuat suasana seketika membeku. Kulit pipinya yang putih halus langsung memerah padam, meninggalkan rasa panas yang membakar. Arshy memegangi pipinya yang berdenyut sakit. Ia menatap Tasya dengan mata membelalak lebar, penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan yang mendalam. "Tasya, kamu—" "Apa?!" potong Tasya seraya menyorongkan tubuhnya ke depan, matanya menyalang merah berapi-api. "Aku benar-benar sudah muak banget sama kamu, Ar! Kenapa sih kamu gak hilang aja sekalian?!" Arshy menatap Tasya dengan mata berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh hebat menahan rasa sesak yang menghimpit. Saudari yang dibesarkannya dalam satu atap sejak balita, kini menatapnya seolah-olah dirinya adalah monster paling hina di muka bumi. "Kemarin kam
"Bun, Naka ada tugas keluar kota. Jadi, Naka gak pulang malam ini," tulis Naka pada pesan WA pada ibunya.Jemarinya lalu bergerak cepat mematikan layar ponsel, melemparkannya begitu saja ke atas jok kulit kendaraan. Penerbangan udara dari Jakarta menuju Surabaya hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam. Rasa jengkel, penasaran, dan keinginan untuk menegaskan dominasinya membuat Naka tak sudi menunda perjalanannya walau hanya sehari.Tepat jam lima sore, sebuah mobil sedan hitam pribadi milik Naka memasuki kawasan panti asuhan yang tenang di pinggiran Kota Pahlawan. Deru mesin halus dan kilau bodi kendaraan mewah itu seketika memecah keheningan sore.Tasya yang sedang menyapu halaman bersama adik-adiknya terkejut melihat kedatangan mobil mewah tersebut. Matanya membelalak lebar menyadari betapa mahal kendaraan yang kini terparkir mulus di halaman panti yang berdebu."Tamu Bunda, banyak juga ya?" gumam Tasya pada dirinya sendiri. Rasa pena
Sementara itu, di pusat kota Jakarta yang padat dan bising. Suasana terik matahari siang menembus kaca-kaca tinggi gedung pencakar langit, menciptakan hawa menyengat yang terasa sangat panas. Namun, hawa panas ibu kota itu masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luapan emosi yang membakar dada Nakara Argantara saat ini.Naka berdiri membelakangi meja kerjanya. Kedua tangannya terbenam kokoh di dalam saku celana bahan mewahnya. Tatapannya lurus menatap pemandangan garis cakrawala Kota Jakarta dari balik dinding kaca raksasa di lantai teratas gedung perusahaannya. Raut wajahnya tertekuk kaku, sangat dingin dan pekat akan ketegangan, seperti menahan ledakan amarah yang siap pecah kapan saja.Sejak kemarin sore, kepalanya sama sekali tidak bisa diajak berdamai. Bayangan wajah polos Arshy yang memerah padam di dalam mobil, detak jantung gadis itu yang berpacu liar, hingga detik-detik saat jarak bibir mereka menipis semuanya terus berputar tanp
Pagi harinya, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar yang agak kusam. Saat membuka matanya, Arshy melirik ke arah ranjang di seberangnya. Ranjang milik Tasya tampak kosong dan masih tertata rapi, seolah-olah tidak pernah ditiduri semalaman.Arshy menghela napas berat. Kejadian semalam, tatapan benci Tasya, serta tuduhan kejam yang dilontarkan saudarinya itu kembali membayangi pikirannya. Namun, Arshy berusaha menepis perasaan sedih itu. Ia bergegas bangkit, mengambil handuk, lalu mandi dan merapikan diri.Setelah selesai, Arshy keluar menuju dapur untuk membantu menyajikan makanan. Di sana, Mbak Sri sedang sibuk memindahkan nasi goreng hangat ke dalam mangkuk besar."Pagi, Mbak Sri," sapa Arshy menetralkan nada suaranya agar tetap terdengar ceria.Mbak Sri menoleh dan tersenyum hangat. "Eh, pagi, Ar. Ayo sarapan dulu, ini nasi gorengnya sudah matang."Arshy mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur yang sepi. "Bunda mana, Mbak?""Bunda lagi berjemur di h
Setelah melepas rindu dengan Bunda Rahayu dan anak-anak panti, Arshy melangkah menyusuri koridor menuju kamar tidurnya. Senyum kebahagiaan masih mengembang di bibirnya. Rasa lelah akibat perjalanan belasan jam dari Jakarta seakan lenyap berganti kehangatan yang memenuhi dada.Begitu mendorong pintu kayu kamarnya, Arshy melihat Tasya sedang duduk di kursi meja belajar. Gadis itu memunggungi pintu, menyandarkan kepalanya pada telapak tangan seraya menatap kaku ke arah dinding."Tasya, aku punya hadiah buat kamu," panggil Arshy ramah.Arshy melangkah masuk dengan semangat. Ia menaruh tas ransel tuanya di atas kasur, lalu membuka seliting tas tersebut untuk mengeluarkan sebuah kotak sepatu yang terbungkus rapi. Dengan pendar mata berbinar, ia menghampiri Tasya dan menyodorkan kotak itu."Nih buat kamu," kata Arshy seraya tersenyum manis.Tasya melirik Arshy sedikit. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, lalu pandangannya berganti melirik kota
Setibanya di dalam kamar kontrakan sempitnya, Arshy langsung merapatkan tubuhnya ke daun pintu kayu yang terkunci rapat. Tubuhnya meluncur pelan hingga terduduk kaku di lantai, sementara kedua tangannya mencengkeram erat bagian dada kemejanya."Tadi aku mau ngapain?" bisik Arshy pada keheningan kamar.Sensasi hangat jemari Naka yang menyentuh rahangnya dan kehangatan hembusan napas pria itu di permukaan bibirnya masih terasa begitu nyata. Pipinya seketika membara panas.Arshy mengangkat kedua tangannya, memukul-mukul pelan pelipisnya sendiri dengan wajah merona padam."Astaga, Arshy! Otak kamu tolong dikondisikan!" serunya frustrasi pada diri sendiri.Ia bangkit berdiri dengan napas terengah-engah, melangkah gelisah menyusuri ruangan berukuran tiga kali empat meter itu. Langkahnya terhenti di depan cermin tua yang tergantung di dinding dekat lemari plastik. Ia menatap bayangan dirinya sendiri seorang gadis desa sederhana dengan pakaian murah, sangat bertolak belakang dengan sososok
‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber







