MasukDi dalam gubuk reyot yang temaram, hembusan angin fajar menyelinap masuk melalui celah dinding kayu, membawa hawa dingin yang menggetarkan debu-debu di udara.Namun, ketegangan di antara dua bersaudara bersuku rubah itu jauh lebih membekukan daripada udara pagi.Thomas menatap adiknya dengan sorot mata yang menuntut jawaban mutlak. Cengkeraman tangan sang kakak di bahu Liliyana terasa hangat, namun memancarkan ketegasan yang tak bisa dibantah.Liliyana menelan ludah dengan susah payah. Netra biru rubahnya bergetar saat ia mengingat kembali penderitaan tak berujung di dasar Jurang Dunia Hampa."Ketika aku jatuh menembus kabut hitam itu, Kak ... tubuhku nyaris hancur oleh tekanan gravitasi," Liliyana memulai ceritanya dengan suara parau.Gadis itu menunduk, meremas ujung jubah sutra perak milik Thomas yang membalut tubuhnya."Di dasar jurang, tidak ada cahaya. Hanya ada lautan miasma dan jutaan Pasukan Orb, entitas ketiad
Kipas giok berukir naga itu tergeletak tak berdaya di atas lantai kayu yang berdebu. Waktu di dalam gubuk reyot itu seolah berhenti berdetak.Bagi Thomas, pria yang selama bertahun-tahun mengubur separuh jiwanya di dasar keputusasaan, sosok gadis remaja yang berdiri di ambang pintu saat ini terlihat seperti halusinasi paling kejam yang pernah diciptakan oleh kewarasannya yang terkoyak.Tubuh jangkung Sang Penasehat Hukum Utama itu merosot.Ia jatuh berlutut di atas puing-puing masa lalunya, tak mempedulikan jubah sutra peraknya yang kotor oleh debu dan tanah basah.Napasnya tersengal, sepasang netra biru ilusinya bergetar hebat, memancarkan kengerian dan harapan yang bertabrakan hingga nyaris meledakkan rongga dadanya."Liliyana?" panggil Thomas dengan suara yang luar biasa serak dan pecah. Tangannya yang gemetar terulur ke depan, seolah takut jika ia menyentuhnya, gadis itu akan menguap menjadi kabut ilusi."Apakah ...
Cahaya keperakan melesat membelah langit utara Benua Moon layaknya komet yang terlahir kembali.Pusaran awan hitam dan petir ungu yang abadi menyelimuti Jurang Dunia Hampa perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh semburat jingga fajar yang menyingsing di ufuk timur.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun membusuk dalam ketiadaan, paru-paru Liliyana akhirnya menghirup udara permukaan.Aroma embun pagi, rumput basah, dan getah pepohonan menyerbak masuk, membersihkan sisa-sisa miasma neraka yang masih menempel di pori-pori kulitnya.Angin fajar menerpa wajahnya, menerbangkan rambut peraknya yang kini kembali berkilau suci. Kesembilan ekor rubahnya berayun bebas di udara, tak lagi membawa beban milyaran jiwa Orb yang kelaparan.Gadis remaja itu melayang di atas hamparan awan, merasakan kebebasan yang membuat air matanya kembali menetes.Elloist benar-benar menepati janjinya. Sang Putri Mahkota telah menukar ny
Badai miasma kegelapan yang meledak dari tubuh Liliyana menyapu ruang singgasana bawah tanah itu layaknya angin topan yang menghancurkan segalanya.Pilar-pilar obsidian retak dan runtuh, sementara ratusan Pasukan Orb mundur berhamburan, tak berani mendekati sang ratu yang tengah dilanda histeria.Di tengah pusaran angin beracun yang menyayat kulit itu, Elloist tetap menolak untuk mundur.Meski pergelangan tangannya masih terbelenggu oleh borgol besi abadi dan tubuhnya remuk redam, sang Putri Mahkota memaksa kedua kakinya untuk melangkah maju.Pendaran emas kehijauan dari Kekuatan Penyembuh Level SSS membalut tubuhnya, menahan hawa kematian yang berusaha merobek jiwanya."Liliyana!" panggil Elloist, suaranya bersaing dengan gemuruh badai.Gadis itu terus berjalan mendekat, membiarkan ujung-ujung miasma tajam menggores pipi dan gaun hitamnya."Lihat aku! Aku tidak menggunakan kekuatanku untuk menyerangmu! Aku men
Bilah sabit hitam yang tercipta dari miasma kegelapan itu bergetar hebat, hanya berjarak setipis helaian rambut dari kulit leher Elloist.Hawa dingin yang mematikan menguar dari senjata ilusi tersebut, membekukan butiran keringat yang menetes di pelipis sang Putri Mahkota.Namun, Elloist tidak memejamkan mata. Ia membalas tatapan Liliyana dengan keteguhan absolut, menyerahkan nyawanya sepenuhnya pada keputusan gadis remaja penguasa ketiadaan ini.Tawaran kebebasan untuk Thomas.Kalimat itu seolah menjadi mantra yang melumpuhkan seluruh rasionalitas dan dendam kesumat di dalam kepala Liliyana.Napas gadis bersuku rubah itu tersengal-sengal. Sepasang netra birunya yang tadi menyala oleh api ungu kegelapan, kini membelalak lebar, memancarkan keterkejutan, harapan yang menyayat hati, dan teror yang berbaur menjadi satu."Kebebasan ... untuk kakakku?" bisik Liliyana dengan suara yang nyaris tak terdengar, bibir pucatnya berg
Cahaya keemasan yang memancar dari inti jiwa Elloist menerangi ruang singgasana bawah tanah itu dengan pendaran suci yang menyilaukan.Di tengah neraka ketiadaan yang dipenuhi miasma hitam, energi kehidupan murni tersebut terasa begitu kontras, hangat, dan nyata.Elloist menyodorkan nyawanya secara harfiah di atas telapak tangan, membiarkan pertahanan absolutnya terbuka lebar demi meyakinkan sang penguasa kegelapan.Namun, bagi seseorang yang telah dikhianati dan dihancurkan hingga tak bersisa, kebaikan adalah racun yang paling diwaspadai.Sepasang netra biru rubah Liliyana membelalak lebar. Gadis remaja itu menatap kristal jiwa yang berdenyut di depannya dengan napas tertahan.Insting silumannya meronta, merasakan kebenaran dan ketulusan yang memancar dari inti jiwa tersebut. Tidak ada kepalsuan di sana.Akan tetapi, memori kelam tentang tawa arogan sang putri di atas tebing kembali berkelebat, menutupi cahaya kebenara
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!







