Dokter Frans akhirnya tiba di ruangan. Dominic dan Derren duduk di sofa panjang yang sama, namun Mark sengaja duduk di antara mereka, menjadi pemisah sekaligus benteng. Tidak ada sepatah kata pun terucap sejak baku hantam tadi. Hanya terdengar desis kesakitan dari bibir mereka berdua—terutama Derren, yang jelas menderita luka lebih parah. Mark sendiri tetap diam, waspada, siap jika sewaktu-waktu keributan kembali pecah.“Selamat malam, Tuan,” sapa Dokter Frans begitu memasuki ruangan bersama dua suster berpakaian mini yang mencolok. Begitu melihat kondisi wajah Dominic dan Derren, ekspresinya langsung berubah kaget. Ia bergegas mendekati Dominic lebih dulu. “Tuan, apa yang terjadi? Mengapa luka di wajah Anda begitu parah?”“Jangan banyak tanya. Obati saja Tuan Dominic,” potong Mark tegas.Dokter Frans segera memerintahkan kedua suster memeriksa tekanan darah Dominic dan Derren. Kedua suster tampak antusias, bahkan terlalu antusias, karena bisa berada sedekat itu dengan dua pria berpen
Terakhir Diperbarui : 2026-05-19 Baca selengkapnya