Mag-log inBegitu tiba di rumah. Dominic turun lebih dulu dan berjalan menuju ke kamar. Dari sana Catriona sudah bisa menilai jika suaminya tersebut sedang marah padanya. Catriona segera membuntuti Dominic masuk ke dalam kamar."Sayang!" seru Catriona membuntuti Dominic yang masuk ke dalam walk in Closet."Ya." jawab Dominic singkat sambil melepaskan jasnya."Aku akan menjelaskan semuanya." ucap Catriona segera mengambil alih jasnya dan menggantungnya kembali.Saat Dominic hendak melepaskan dasinya, Catriona langsung menyambarnya. Dan mengambil alih."Aku tahu, kamu memiliki alasan yang kuat untuk itu Honey." ucap Dominic mencoba mengerti."Maaf Sayang. Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu." ucap Catriona.Catriona menceritakan semua kejadian sejak ia sampai di rumah sakit dan tak sengaja bertemu dengan Maxim. Lalu dirinya ditolong oleh Derren dan dibawa pergi menemui kakeknya Barcklay."Maxim berani melakukan hal itu padamu?" Dominic terlihat kesal.Catriona mengangguk. "Sepertinya ia m
"Maaf lama menunggu, Tuan!" Mark datang, kemudian segera masuk ke dalam mobil. Ia langsung duduk di kursi kemudinya.Mark melirik dari kaca spion, terlihat ekspresi wajah tuannya yang diselimuti kemurkaan. Amarahnya belum redam."Kau bekerja untukku atau Wilson?" ucap Dominic dingin."Maaf Tuan. Saya harus membereskan barang terlebih dahulu." jawab Mark kemudian menyalakan mobilnya. Ia segera melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Wilson.Victor yang duduk di samping Dominic hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.Sementara itu, di dalam mobil lainnya. Catriona dan Derren tak saling bicara. Sejak keluar dari mansion Barcklay, Catriona hanya diam membisu. Hampir seluruh kata-kata kakeknya membekas di hatinya.Sejak dulu memang kakeknya selalu bersikap dingin padanya. Jarang sekali sang kakek memperlakukannya seperti seorang cucu pada umumnya. Tak pernah mereka bercanda tawa layaknya kakek dan cucu.Derren pun tidak ingin menganggu Catriona. Ia tahu jika hati Catriona sedang tida
Begitu murkanya Dominic hingga berhasil menghempaskan Mark dan Victor yang sejak tadi berusaha menahan amarahnya. Kini Dominic sudah mencekik leher Wilson dengan kuat."Jika kau membunuhku, maka kupastikan Catriona akan membencimu seumur hidup!" seru Wilson dengan senyum liciknya.Dominic semakin mengeratkan cekikan tangannya pada leher Wilson. "Kau bukan manusia Wilson. Kau adalah iblis!" Dominic seperti kehilangan kesadaran.Nampak Wilson kesulitan bernapas. Ia terengah-engah berusaha mencari oksigen. Wajahnya memerah karena darah yang berhenti mengalir."Catriona akan meninggalkanmu jika kau membunuhku!" ucap Wilson masih berusaha berbicara.Seketika tangan Dominic bergetar. Ia tahu Catriona begitu sayang pada Ayahnya. Seburuk apa pun ia tetap sayang pada ayahnya yang seperti iblis. Perlahan Dominic merenggangkan tangannya."Kau tak layak untuk hidup!" seru Dominic masih menyala-nyala."Tapi kau masih membutuhkanku. Cepat atau lambat Barcklay dan Harvey akan melangsungkan pernikaha
Dominic mulai membaca seluruh kronologi kejadian kematian Camelia. Benar, ternyata Camelia meninggal karena bunuh diri. Ia meregang nyawanya sendiri dengan menembuskan butir peluru ke kepalanya sendiri. Dan, semua dilakukan di rumah sakit. Tepatnya di depan mata kepala Jenny dan Jackson.Fakta mencengangkan tersebut sontak membuat tangan Dominic bergetar. Ia tak percaya jika kedua orang tuanya terlibat. Wajah Dominic seketika membuat saat mengetahui fakta tersebut.Namun, belum jelas apa alasan Camelia menghabisi nyawanya di depan kedua orang tuanya. Mata Dominic yang memancar pias menyorot pada Wilson untuk mencari kejelasan."Itu faktanya. Camelia berkorban untuk ibumu. Sebagai balas budi." ucap Wilson.Dominic semakin syok. Dadanya hampir meledak mendengarnya."Apa maksudnya?" tanya Dominic."Camelia menebus hutangku pada keluargamu dengan cara memberikan jantungnya pada ibumu." ungkap Wilson dengan gamblang.Sontak Dominic telonjak kaget. Seketika seluruh tubuhnya terasa tak berda
Dominic dan Wilson berada di dalam satu ruangan yang sama. Keduanya berbincang tenang, tidak seperti awal pertama mereka bertemu saat perjanjian hutang.Suasana hati keduanya lebih tenang. Bicara dari hati ke hati. Saat ini, tujuan mereka sama, untuk melindungi Catriona dari ancaman Barcklay.Selama mengalami kesulitan dan melihat pengorbanan Catriona untuknya, akhirnya mampu membuat hati Wilson tergugah. Jujur, dulu ia hampir tak pernah peduli pada Catriona.Sejak dulu, Wilson selalu dibutakan dengan harta. Baginya harta adalah segala-galanya. Keluarga hanya sebagai alat pelicin. Dan salah satu alasan ia menikahi Camelia juga karena kekayaan yang dimiliki oleh Camelia."Sejak dulu aku tidak pernah menyukai Barcklay. Karena dia tidak memiliki hati sama sekali. Bahkan dengan anaknya sendiri Camelia. Aku pikir, Barcklay adalah satu-satunya orang tua yang kejam. Ternyata tidak, justru aku yang lebih kejam darinya." Wilson mengakui kesalahannya selama ini.Dominic hanya menatap dingin pad
Catriona menerobos dan melenggang masuk begitu saja. Ia langsung mencari sosok yang membuatnya sejak tadi penasaran. Derren mengikuti langkah Catriona dari belakang."Kakek!" panggil Catriona dengan suara lantangnya. "Kakek Barcklay!" panggilnya lagi seraya menyusuri ruangan. Ia clingak-clinguk kesana kemari mencari keberadaan kakeknya."Kakek!" serunya lagi, ia masuk ke dalam salah satu ruangan baca. Dan benar di sanalah kakeknya duduk santai sambil membaca buku.Catriona tersenyum saat melihat sosok kakeknya yang sudah lama sekali tak pernah dilihatnya. Terakhir kali bertemu, saat ia masih berusia lima belas tahun. Setelah itu, mereka tak pernah lagi saling menyapa. Seakan sengaja saling menghindari.Ia berjalan mendekati sang kakek. "Apa kakek tidak ingin menyapaku?" ujar Catriona.Barcklay yang sibuk dengan bukunya, akhirnya meletakkannya di atas meja. Ia memindai pandangannya dari buku ke arah Catriona."Apa benar ini cucuku?" tanya Barcklay menimpali dengan wajah datarnya.Catri
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it







